STEP UP 3D

STEP UP 3D

Luke (Rick Malambri) sebagai ketua perkumpulan penari jalanan di New York menginginkan kemajuan untuk kelompoknya. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan tempat latihan mereka yang terancam dilelang karena ketidakmampuan Luke untuk melunasi segala hutang untuk tetap bisa menggunakan tempatnya. Dia mendapat dua anggota baru yang mampu memperkuat kelompoknya, yaitu seorang mahasiswa yang bernama Moose (Adam G. Sevani) dan seorang gadis yang memikat hatinya, Natalie (Sharni Vinson). Kekuatan ini akan diuji di turnamen tari jalanan yang berhadiah besar. Kesulitan dihadapi pada urusan kampus Moose yang tak sesuai dengan time table kelompok tari tersebut dan kisah cinta Luke­–Natalie yang berujung sebuah masalah.

Bila ingin dinilai dari sisi kekuatan akting yang dibawa oleh pemain-pemainnya, tidak menunjukkan sesuatu yang menarik perhatian. Semua bermain netral dan penjiwaan yang biasa saja. Singkatnya, kekuatan film ini tidak terletak pada akting pemainnya.

Penggarapan film ini lebih diarahkan pada efek yang digunakan untuk sensasi hiburan semata. Alur cerita menjadi tidak begitu penting karena yang penting dapat memasukkan unsur tarian yang menjadi potensi besar film ini dengan cerita yang dibilang sederhana saja. Penekanan pada unsur tarian ini sangat terasa apalagi ditambah dengan efek-efek visual yang mendukung fokus tarian.

Di bagian hiburan inilah kekuatan film ini. Dengan visual effect yang digunakan, penonton akan terbius untuk menikmatinya. Unsur tarian yang menjadi fokus utama film ini akan dengan mudah dinikmati, terutama bagi mereka yang mencintai dunia tari, khususnya street dance. Penonton akan menunggu-nunggu penampilan tarian yang disuguhkan.

Karena memang fokus utama film ini adalah ingin memperlihatkan tarian yang menjadi kekuatannya maka tidak banyak pesan yang dapat dipetik. Untuk pesan cerita filmnya tergolong sangat klise dan tidak terasa begitu penting untuk memerhatikan jalan ceritanya. Pesan yang tercapai dalam film ini adalah keberhasilan mengangkat street dance dengan efek yang maksimal.

Sesuai dengan judul filmnya yang menggunakan “3D” untuk menyebut sekuel Step Up yang ketiga ini, film ini mengoptimalkan penggunaan fasilitas tiga dimensi untuk menarik perhatian penontonnya. Dapat dikatakan penggunaan tiga dimensi dalam film ini dimanfaatkan dengan sangat baik. Penonton akan terkagum-kagum dengan efek ini seakan menonton pertunjukan tari secara langsung. Pengambilan gambar sangat terasa berguna hanya pada adegan-adegan tarian. Pada pengambilan cerita biasa, efek kamera tidak begitu diutamakan.

Pemain: Rick Malambri, Adam G. Sevani, Sharni Vinson, Joe Slaughter, Alyson Stoner

Sutradara : Jon Chu

Produser : Erik Feig, Jennifer Gibgot, Adam Shankman, Patrick Wachsberger

Produksi : Touchstone Pictures, Summit Entertainment

Tahun : 2010

Akting : ( 4 )

Harmonisasi film : ( 2 )

Hiburan : ( 5.5 )

Pesan : ( 2.5 )

Sinematografi : ( 7.5 )

————————————————————-

Overall: ( 4.3 )

-DJD-

 

 

6 Comments

Filed under S

EAT PRAY LOVE

EAT PRAY LOVE

Apakah yang membuat bahagia di dunia ini? Bekerja di tempat yang menjanjikan, menikah, dan memiliki rumah mewah? Ternyata bukan itu bagi Liz Gilbert (Julia Roberts). Dia masih merasa ada yang kurang walaupun sudah memiliki semua yang dipikir orang-orang memenuhi syarat untuk bahagia di dunia ini. Berpisah dengan suaminya serta memiliki pacar baru pun belum dapat membahagiakan dirinya. Hingga akhirnya Liz mencari sendiri kebahagiaannya dengan pergi ke Italia untuk mendapatkan kebahagiaan dengan santapan yang lezat khas Italia dan dilanjutkan ke India untuk mendapat santapan rohani. Dengan bekal ini kebahagiaan itu diarahkan oleh Ketut Liyer (Hadi Subiyanto) sebagai penasihat spiritual Liz hingga akhirnya dia menemukan kebahagiaannya yang terkahir yaitu “cinta” di Indonesia, tepatnya di Bali.

Bila ingin menghitung nilai akting dalam film ini tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bila dilihat dari pemainnya, selain Julia Roberts berkating baik sebagai pengendali cerita, akting pemain pendukung lainnya tidak begitu menonjol. Christine Hakim pun bermain dengan penjiwaan yang maksimal (tak perlu diragukan), tetapi perannya tidak begitu mengendalikan cerita. Yang perlu diberi penghormatan adalah Hadi Subiyanto, yang memiliki profesi asli sebagai musisi terkontrak di sebuah hotel ternama dan film ini sebagai film perdananya, mampu berusaha dengan keras untuk mengimbangi akting dengan Julia Roberts. Latihan Hadi Subiyanto untuk mendalami peran sebagai Ketut Liyer membuahkan hasil yang baik.

Ryan Murphy benar-benar menggarap film ini untuk memperlihatkan sisi filosofis Elizabeth Gilbert yang dituangkan dalam novelnya dengan judul yang sama. Kesinambungan antar adegan agak kurang rapi sehingga terjadi lompatan-lompatan cerita yang perlu konsentrasi lebih untuk menggunakan logika ketika menontonnya. Selebihnya, Murphy mengarahkan pemainnya dengan baik walau “bumbu-bumbu” yang diusahakan untuk membuat film ini menarik perhatian agak kurang terasa.

Untuk itu, film ini dapat digolongkan film yang sedikit unsur hiburannya. Film ini tidak memainkan emosi penonton secara mendalam. Film ini lebih mengarahkan penontonnya untuk ikut berpikir untuk memahami filosofi yang dikandungnya. Hiburan atau permainan emosi hanya tertolong oleh akting Julia Roberts yang membawakan suasananya dengan baik. Film ini berpotensi untuk membosankan dalam arti akan menjenuhkan penonton bila mereka tidak dapat memahami filosofi yang diutarakan Elizabeth Gilbert. Bukan berarti harus sepaham, at least, kalo bisa memahaminya maka akan dapat mengikuti film ini hingga habis.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film ini lebih ditekankan pada pemahaman akan filosofi Elizabeth Gilbert dalam memandang kebahagiaan hidup. Dengan tidak menggurui, penonton diharapkan dapat menerima pandangannya tersebut. Pesan moral terkait dengan pemahaman tersebut. Pelajaran bisa dipetik dengan menganalogikan pemikirannya dengan apa yang kita yakini. Bila tidak sesuai dengan apa yang kita yakini, hargai saja pemikiran Elizabeth ini sehingga kita dapat memelajari satu tipe orang dengan pandangan seperti Elizabeth Gilbert.

Pengambilan gambar tidak menggunakan teknik kamera khusus untuk menceritakan kisah di film ini. Kamera bertugas untuk mengikuti saja perjalanan Liz dari satu tempat ke tempat lain. Tidak menggunakan efek khusus untuk menggambarkan emosi Liz. Keuntungannya adalah, penonton dapat melihat perjalanan ini sebagai sesuatu yang real. Tidak dilebih-lebihkan. Kekuatan keindahan setting tempat juga tidak difouskan secara dalam sehingga film ini tidak membuai penonton dengan penggambaran setting yang khusus dari Italia, India, dan Indonesia.


Pemain: Julia Roberts, Hadi Subiyanto, Javier Bardem, Richard Jenkins, James Franco, Christine Hakim

Sutradara : Ryan Murphy

Produser : Dede Gardner

Produksi : Columbia Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 6 )

Harmonisasi film : ( 6 )

Hiburan : ( 4 )

Pesan : ( 6.5 )

Sinematografi : ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 5.9 )

-DJD-

 

 

Leave a comment

Filed under E

INGLOURIOUS BASTERDS

INGLOURIOUS BASTERDS



Masa pendudukan Jerman di Prancis menjadi latar utama dalam film ini. Cerita dimulai dengan ‘pembasmian’ keluarga Yahudi di Prancis yang dilakukan oleh seorang kolonel Nazi yang bertugas dibidang tersebut, Hans Landa (Christoph Waltz). Satu orang dari keluarga Yahudi tersebut berhasil melarikan diri, yakni Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent). Shosanna dengan identitas lain dapat bertahan hidup di masa itu hingga akhirnya seorang petinggi Nazi, Fredrick Zoller (Daniel Brühl) menaruh hati padanya. Di dalam strategi Shosanna, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam pada Nazi. Di sisi lain, kelompok Yahudi-Amerika yang dikenal dengan “the Basterds”, dipimpin oleh Aldo Raine (Brad Pitt), ingin menghabisi Hitler dan memberi pelajaran pada semua anggota Nazi. Dengan bantuan aktris yang dekat dengan Nazi, Bridget Von Hammersmark (Diane Kruger), Aldo dengan mudah mendapat siasat hingga dapat masuk sebagai tamu ke dalam perkumpulan Nazi. Dua pihak berbeda yang melawan Nazi (Shosanna dan Aldo) ingin menghabisi Nazi di tempat yang sama.

Penghormatan untuk akting layak diberikan pada Christoph Waltz yang memerankan Hans Landa. Penghayatan dalam kecerdasan dan kelicikan Landa sangat terasa dalam film. Tokoh Landa menjadi pusat perhatian walaupun bukan dia tokoh utamanya. Begitu pula dengan Mélanie Laurent. Emosi yang ia ciptakan seakan-akan mengajak penonton untuk ikut terhanyut dalam perasaannya, terutama pada kedendamannya dengan Landa. Brad Pitt dan Diane Kruger tidak berakting jelek, namun terkesan datar dan tidak menonjol dibandingkan tokoh Shosanna dan Landa.

Pecinta film Tarantino yang identik dengan ‘darah-darahan’-nya akan terpuaskan dengan sebuah film garapannya yang satu ini. Film ini menggambarkan kejeniusan Tarantino dalam menggarap sebuah film. Film ‘mikir’ khas Hollywood ini menjadi menarik dengan dialog-dialog cerdas yang singkat padat dan jelas. Menggunakan pemain yang baik dan diarahkan dengan baik pula. Akan tetapi, pada adegan ending, terlihat akhir yang 180º berbeda dari yang konsep yang tertanam dari awal film. Landa yang cerdik menjadi terlihat amat bodoh dengan ending seperti ini. Ini bukan kelemahan film ini, Tarantino pasti ingin mengungkapkan sesuatu dari ‘kebodohan’ ini.

Film Tarantino tergolong berat karena harus berpikir yang cukup dalam untuk mencari pesan film ini. Dengan kecerdasannya, Tarantino membuat adegan-adegan yang memancing emosi penonton sehingga penonton dapat terus mengikuti alur cerita hingga akhir. Permainan emosi dan pikiran penonton membuat rasa penasaran yang tinggi untuk melihat akhir cerita film ini. Untuk sebagian orang mungkin akan bingung dengan jalannya film ini. Akan tetapi, dengan terbawanya suasana hingga adegan akhir itulah yang menjadi kekuatan Tarantino untuk ‘menjebak’ penontonnya untuk memahami film.

Tarantino membuat film yang sama seperti biasanya dengan tetap mengedepankan pesan film yang disampaikan dengan caranya tersendiri. Dia mengajak penonton untuk mengikuti cerita dengan segala teka-teki kecil mengenai peran tokoh-tokoh dalam film. Penonton akan dibawa tegang untuk mendapatkan pesan yang ingin disampaikan. Penonton harus menangkap sendiri pesan tersebut karena Tarantino mengungkapkannya dengan tindakan-tindakan para pemain. Dia tidak menggurui secara langsung. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari film ini yang salah satunya berkaitan dengan kecerdikan seseorang dalam mengatur strategi menghadapi orang (musuh).

Pergerakan kamera Tarantino seperti biasanya mengarahkan seperti pada nuansa thriller sehingga angle yang diambil lebih dipentingkan pada teka-teki pesan yang ingin disampaikan. Dengan demikian, perlu diperhatikan setiap kamera mengarah pada close up terhadap sesuatu, seperti close up pada jari-jari tokoh untuk menyebut angka “3”. Perbedaan penunjukkan angka tiga dengan jari antara orang Prancis dan orang Jerman menjadi kunci sebuah rahasia terbongkar. Oleh karena itu, untuk menonton film ini perlu ketelitian yang lebih untuk dapat melihat detail yang mungkin akan menjadi kunci pada cerita, biasanya dibantu dengan pergerakan kamera.

Pemain: Leonardo Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Diane Kruger, Daniel Brühl

Sutradara : Quentin Tarantino

Produser : Lawrence Bender

Produksi : Universal Pictures

Tahun : 2009

Akting: ( 8 )

Harmonisasi film: ( 8 )

Hiburan: ( 7 )

Pesan: ( 8 )

Sinematografi: ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 7.6 )

-DJD-

 

 

4 Comments

Filed under I

INCEPTION

INCEPTION

Bagaimana rasanya masuk ke dalam mimpi seseorang untuk mencuri ide orang itu? Itulah pekerjaan ilegal yang dilakukan oleh Cobb (Leonardo DiCaprio) beserta rekan setianya, Arthur (Joseph Gordon-Levitt). Suatu hari Cobb menerima tugas baru yang sedikit berbeda. Saito (Ken Watanabe) berpikir jika Cobb mampu mencuri ide melalui mimpi, maka bukan hal yang tidak mungkin untuk melakukan hal sebaliknya, yaitu menanamkan suatu ide melalui mimpi. Itulah tugas yang harus dilakukan pada Robert Fischer, Jr (Cilian Murphy). Untuk melakukan tugas itu, Cobb perlu dibantu oleh teman-teman yang salah satunya adalah Adriadne (Ellen Page). Dalam perjalanan menyelsaikan tugas ini, Adriadne, yang awalnya tidak tahu-menahu tentang metode masuk mimpi ini, tertarik untuk mengetahui latar belakang yang menghambat Cobb dalam menyelesaikan tugas ini.

Acungan jempol untuk akting semua pemain, baik pemain utama maupun pemain pendukung, termasuk figuran. Semua memiliki karakter yang berbeda antara satu dengan yang lain. Penjiwaan yang sempurna untuk semuanya. Untuk perubahan emosi secara cepat, Marion Cotillard tetap menjadi juara bila dilihat dari film-filmnya terdahulu, seperti “La Vie en Rose” dan “Public Enemies”.

Christopher Nolan untuk saat ini tidak diragukan untuk menggarap film yang berkualitas. Dia mampu membawa semua pendukung produksi film bekerja sama dengan baik. Hal ini dapat dilihat juga dari figuran yang dia atur pergerakkannya. Dengan pengarahan yang tepat membuat suasana latar tempatnya terasa hidup. Kejeniusan Nolan juga teruji dengan pembuatan cerita dengan ide yang cemerlang. Film ini berakhir terbuka sehingga tak heran akan muncul banyak forum setelah menontonnya.

Film ini dapat digolongkan film serius yang cukup menghibur karena membawa penonton terhanyut dalam misteri yang dibuatnya sehingga tidak merasakan durasi yang berjalan. Akting yang baik dari seluruh pendukung film mempengaruhi emosi penonton juga. Begitu pula kesempurnaan visual effect yang rapi sehingga penonton terpaku melihatnya. Akan tetapi, hiburan ini akan dirasakan bila penonton melihatnya dengan serius tanpa mempertanyakan alur pada awal cerita. Cerita akan semakin jelas pada pertengahan film. Bila melewatkan beberapa adegan dalam film ini, hasilnya akan pusing setelah menonton.

Dengan keseriusan ini pula, pesan cerita film ini akan tersampaikan dengan caranya Nolan yang tidak secara gamblang membuat alur yang rapi. Otak kita akan terkuras untuk merangkai kejadian demi kejadian untuk mendapatkan alur yang kita pahami sendiri. Bukan menjadi masalah bila banyak menimbulkan spekulasi yang berbeda dari setiap penonton setelah menonton. Penonton mencerna sesuai pemahamannya masing-masing. Apalagi ditutup dengan ending yang terbuka, penonton berhak untuk mengembangkan imajinasinya sendiri. Pesan moral dalam film ini terasa pada dialog yang terdapat dalam setiap adegan. Salah satunya adalah kerelaan Cobb untuk melepas yang paling dicintai untuk menjalani kehidupan berikutnya.

Sinematografi yang disajikan sangat sempurna, baik visual effect maupun efek suara. Semua hal itu membuat film ini memiliki ciri khas tersendiri. Penonton akan selalu mengenang kejadian jalan yang terangkat dan menekuk seakan melipat. Begitu pula dengan adegan air di dalam gelas yang melawan logika di dunia nyata.

Pemain: Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Marion Cotillard, Ken Watanabe, Tom Hardy, Cilian Murphy

Sutradara : Christopher Nolan

Produser : Christopher Nolan, Emma Thomas

Produksi : Warner Bros. Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 10 )

Harmonisasi film : ( 9 )

Hiburan : ( 7 )

Pesan : ( 8 )

Sinematografi : ( 10 )

————————————————————-

Overall: ( 8.8 )

-DJD-

4 Comments

Filed under I

DESPICABLE ME

DESPICABLE ME

Tidak ada kebanggaan lain bagi seorang penjahat bila telah mendapat predikat penjahat terhebat di dunia. Begitu pula dengan Gru (Steve Carell) yang merasa jengkel setelah melihat ada penjahat yang mampu mencuri Piramid Giza. Dia harus melakukan yang lebih dari sekadar mencuri piramid. Akhirnya, rencananya adalah mencuri bulan. Yang menjadi masalah adalah alat untuk mengecilkan benda ada di tangan musuhnya. Dia harus mencurinya agar dapat mengambil bulan. Rencana jahatnya itu tak akan berhasil bila tidak ada bantuan dari 3 anak yatim piatu yang dia adopsi. Sebagai orang jahat sejati, Gru tidak mencintai anak-anak itu. Akan tetapi, secara tidak langsung anak-anak ini mengajarkan sesuatu pada Gru yang amat berarti: Cinta.

Pengisi suara dalam film ini mengisi dengan baik, tetapi kurang memberikan karakter khusus pada tiap tokohnya. Bentuk dari tokoh-tokohnya sudah memiliki ciri sendiri, tetapi penyuaraannya terasa biasa saja. Agak membingungkan untuk tokoh Gru. Steve Carell terkadang menyuarakannya dengan ada sedikit aksen Spanyol, tapi tidak konsisten pada setiap adegan. Pada awalnya mungkin aksen tersebut hanya untuk merayu kepala panti asuhan. Ternyata pada beberapa adegan setelah itu terkadang aksen Spanyol itu ada dan hilang lagi. Di film ini yang memiliki ciri khas adalah The Minions.

Film animasi ini digarap dengan baik sehingga pesan cerita yang ingin disampaikan hampir tidak ada yang melompat jauh. Penonton dari segala usia mampu mengikuti ceritanya dengan baik. Ide cerita luar biasa, tapi diakhiri dengan sederhana. Tidak masalah, tetapi terasa seperti mengingat kembali cerita Disney Pixar, “Up” yang menemukan cinta setelah keinginannya terwujud.

Hiburan dalam film ini menjadi penyegar dan menjadi nilai lebih pada film ini. Nilai pada bagian ini sempurna untuk hiburan yang mampu memancing tawa penonton. Humor yang disajikan dapat dirasakan oleh berbagai kalangan. Untuk hiburan yang memancing rasa haru atau takut sangat sedikit dan tidak menjadi fokus utama film ini.

Pesan cerita film ini tersampaikan dengan baik dengan tambahan sentuhan humor yang mampu membuat suasana menonton yang menyenangkan. Alur ceritanya mudah diikuti. Pesan moral yang disampaikan yang tersurat tidak terlalu banyak dan sangat sederhana. Sedikit dapat menyentuh hati, tetapi kurang menjadi kenangan yang dapat diingat setelah menonton. Bila memerhatikan dengan saksama, pembelajaran banyak yang tersirat dari karakter tokoh-tokohnya, terutama Agnes yang mudah beradaptasi dan selalu bersyukur atas apa yang didapatnya.

Animasi yang luar biasa yang mampu dibuat di luar perusahaan animasi yang terkemuka. Animasi pada film ini mulai memberikan lampu kuning pada Pixar dan Dreamworks karena menambah saingan yang berkualitas. Film ini sangat memanfaatkan fasilitas 3D. Film ini akan terasa lebih menghibur pada studio 3D. Hal ini mungkin tidak menjadi fokus utama pada Pixar dan Dreamworks pada saat ini, tapi hal ini cukup menarik pasar dalam dunia animasi sekarang. Akan tetapi, efek suara dalam film tidak memiliki andil yang besar.

Pengisi suara: Steve Carell, Jason Segel, Russell Brand, Julie Andrews, Will Arnet

Sutradara : Pierre Coffin, Chris Renaud

Produser : John Cohen, Janet Healy, Christopher Meledandri

Produksi : Illumination Entertainment

Tahun : 2010

Pengisi suara : ( 6 )

Harmonisasi film : ( 7 )

Hiburan : ( 10 )

Pesan : ( 8 )

Sinematografi : ( 9.5 )

————————————————————-

Overall: ( 8.1 )

-DJD-

3 Comments

Filed under D

ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND

ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND

Kisah cinta Joel (Jim Carey) dan Clementine ‘Tangerine’ (Kate Winslet) merupakan salah satu kisah sepasang kekasih yang berjalan sama seperti pasangan pada umumnya. Pada awalnya, mereka menghabiskan dan menikmati waktu berdua dengan amat bahagia. Seperti pada pasangan yang lain, biasanya kisah awal berpasangan memang sangat manis, tetapi rasa manis itu semakin lama terasa seperti semakin memudar. Tak heran bila setelah beberapa lama mereka berpasangan, rasa manis itu seolah terlupakan dan yang menghiasi kehidupan mereka hanyalah perdebatan dan pertengkaran, hingga hal kecil pun dipermasalahkan. Saking jenuhnya Clem pada Joel, dia pergi ke sebuah klinik yang mampu menghapus memori kenangan dari otak. Clementine pun menghapus Joel dari pikirannya hingga saat mereka bertemu kembali Clem tidak mengenali Joel sama sekali. Setelah Clem, Joel pun melakukan hal yang sama untuk pergi ke klinik tersebut. Awalnya Joel sangat bangga dalam proses penghapusan memori itu, tetapi setelah memori itu semakin mundur, yang terlihat adalah kenangan-kenangan indah dengan Clem. Akhirnya Joel pun sadar betapa cintanya dia pada Clem. Apa daya, Joel harus berjuang menahan Clem dalam ingatannya agar tidak hilang 100%. Perjuangan yang sangat berat bagi Joel karena dia bisa lari dari penghapusan itu, tapi tidak bisa menghindarinya “you can run, but you can’t hide”.

Akting yang luar biasa untuk Kate Winslet. Bila melihat gambar-gambar yang diambil dari scenes film ini, mungkin akan terganggu dengan gaya Kate dalam film ini. Namun, ketika menonton, rasa terganggu itu tertutup dengan penjiwaan Kate yang sangat dalam. Penonton seakan tak akan melihat sosok Kate dalam film itu. Begitu pula dengan Jim Carey. Aktor yang biasanya membawakan peran dengan kekonyolannya, akan menunjukkan kualitas akting seriusnya. Hampir tidak ada adegan Jim yang melakukan tindakan konyol. Acungan jempol yang banyak untuk Jim atas perubahan karakter yang dibawakannya. Semua pemain pendukung dalam film ini pun menjalankan tugasnya dengan baik.

Sutradara menjalankan tugasnya dengan baik juga. Gondry berhasil memvisualisasikan skenario yang ditulis dengan sempurna olehnya bersama Charlie Kaufman. Inti cerita dari film ini dapat dipahami terutama pada adegan-adegan akhir. Cara seperti ini sangat unik untuk sebuah film karena seakan-akan memaksa penonton yang belum tahu latar belakang cerita ini untuk menonton film ini lebih dari satu kali agar memahami adegan awal.

Bila mengharapkan hiburan yang mengundang emosi penonton, film ini tidak menyajikannya di awal cerita. Penonton akan terbawa suasana kebingungan arah tujuan film ini. Namun, rasa penasaran akan timbul ketika menonton film ini. Untuk kejadian dalam film ini sebenarnya adalah masalah yang mungkin dialami setiap orang dalam kehidupan berpasangan. Akan tetapi, dengan sentuhan fiksi yang dikandung membuat cerita sederhana ini menjadi bercampur dengan imajinasi yang luar biasa.

Pesan cerita film ini akan jelas pada adegan-adegan akhir. Tak heran bila beberapa penonton butuh menonton film ini setidaknya dua kali hanya untuk melihat adegan-adegan awal karena adegan akhir menjawab semua kebingungan. Saran bagi yang belum menonton film ini adalah jangan berhenti menonton hingga akhir film. Kebingungan yang timbul berpotensi menciptakan kebosanan. Simpan saja kebingungan itu sendiri. Pesan yang dapat dipetik dari film ini berkaitan dengan rasa jenuh dalam sebuah hubungan berpasangan. Rasa jenuh itu berpotensi untuk memutuskan hubungan. Yang harus disadari adalah rasa jenuh itu sebenarnya bukan alasan untuk memisahkan hubungan berpasangan. Pisah yang disebabkan rasa jenuh akan menoreh penyesalan di kemudian hari karena pasangan itu pada dasarnya masih saling cinta.

Dengan adanya imajinasi yang membuat alat untuk menghapus sebagian memori otak sesuai dengan pilihan pasien, komputerisasi dalam film ini sangat mendukung sinematografinya. Hasilnya, komputerisasi tersebut digarap dengan sangat rapi.

Pemain: Jim Carey, Kate Winslet, Kirsten Dunst, Elijah Wood, Mark Ruffalo, Tom Wilkinson

Sutradara : Michel Gondry

Produser : Steve Golin, Anthony Bregman

Produksi : Anonymous Contents

Tahun : 2004

Akting : ( 10 )

Harmonisasi film : ( 9 )

Hiburan : ( 6 )

Pesan : ( 9.5 )

Sinematografi : ( 9 )

————————————————————-

Overall: ( 8.7 )

-DJD-

3 Comments

Filed under E

KNIGHT AND DAY

KNIGHT AND DAY

Pertemuan tak disengaja antara Roy Miller (Tom Cruise) dan June Havens (Cameron Diaz) membuka petualangan baru bagi June khususnya. June, seorang gadis biasa yang ingin melakukan perjalanan untuk bertemu keluarga harus terjebak dalam situasi tak diharapkan sejak pertemuan itu. Ia tidak menyangka ternyata Roy memiliki masalah dengan agen-agen rahasia dan karena pertemuan itu June harus masuk di dalamnya dan tak bisa keluar. Diawali dengan June dikejar-kejar dan selalu diselamatkan oleh Roy, padahal June tidak tahu Roy itu ada di pihak mana. Dengan kata lain June harus segera berperilaku seperti agen-agen rahasia pada umumnya, yang cerdik, tenang, melakukan aksi-aksi berbahaya agar bisa bertahan hidup.

Pasangan Cruise – Diaz ingin menciptakan suasana seperti “Mr & Mrs. Smith” dengan Action Comedy yang menyegarkan. Cruise bermain dengan gayanya yang cool sehingga sulit untuk menebak karakter Miller sesungguhnya. Hal ini sangat baik karena karakter Miller yang misterius itulah yang menjadi tujuan film ini. Akting yang baik dilakukan Cruise adalah dia tidak selalu berakting cool, tetapi juga diselingi ketika dia panik karena ada kejadian yang terjadi di luar rencananya dan kekhawatiran yang dimunculkan pada beberapa adegan. Begitu pula dengan Diaz, perubahan karakternya tidak berkesan dibuat-buat sehingga penonton dapat mengerti perubahan karakter yang terjadi. Tampilan “from zero to hero” yang dimainkan Diaz dalam tokoh June juga perlu dipuji.

Bila ingin ditinjau dari penyutradaraan yang mampu membawa harmonisasi dalam film, “Knight and Day” hanya dapat dipuji dari hiburan yang diberikan. Sutradara terlihat sangat ingin memasukkan unsur action dalam film ini, tetapi jatuhnya jadi berlebihan. Untungnya aksi-aksi laga itu diselingi dengan komedi-komedi segar yang dapat menetralkan suasana ketika penonton sudah jenuh dengan aksi laga yang ada.

Untuk penonton yang suka akan film-film yang berjenis action-comedy mungkin akan terhibur dengan film ini karena aksi-aksi laga dan komedi baik dalam bentuk tindakan maupun permainan kata yang ditampilkan. Akan tetapi untuk aksi laga akan merasa jenuh karena aksi laga yang disajikan berkesan terlalu banyak dan semakin lama semakin di luar logika, walaupun logika itu dibentuk dari imajinasi film itu sendiri.

Oleh karena itu, segala pesan kurang tersampaikan dengan baik. Penonton dapat mengerti ceritanya, tapi tetap sulit untuk dimengerti alur kesinambungan antar adegan untuk sampai pada cerita yang dimaksud. Begitu pula pesan-pesan yang dapat diambil untuk penonton. Pesan moral yang dikandung berkesan sangat umum mungkin karena film ini lebih mengutamakan sisi hiburannya saja.

Bila ingin disangkutpautkan, hiburan dalam film ini bisa dirasakan berkat adanya visual effect yang beraneka ragam walaupun tidak sesempurna beberapa film lainnya. Tidak mengecewakan dan tidak mengesankan untuk visual effectnya. Suara juga berpengaruh untuk mendukung suasana aksi laga yang dilakukan.

Pemain: Tom Cruise, Cameron Diaz, Peter Sarsgaard, Jordi Mollà

Sutradara : James Mangold

Produser : Todd Gamer, Cathy Konrad, Steve Pink

Produksi : New Regency Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 7 )

Harmonisasi film : ( 3 )

Hiburan : ( 8 )

Pesan : ( 4 )

Sinematografi : ( 6.5 )

————————————————————-

Overall: ( 5.7 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under K