KABAYAN JADI MILYUNER

KABAYAN JADI MILYUNER

Kabayan (Jamie Aditya) merupakan pemuda baik hati nan jujur yang disegani di masyarakat Sunda. Kesetiaan Kabayan pada pesantren yang dipimpin Ustadz Soleh tidak tergoyahkan walaupun dijanjikan harta yang banyak oleh Bos Rocky (Christian Sugiono) yang ingin menghancurkan pesantren itu untuk dibangun sebuah resort mewah. Akan tetapi, kesetian ini seakan dikalahkan oleh kehadiran Iteung (Rianti Cartwright) yang membuat Kabayan seperti kehilangan akal sehatnya karena dimabuk asmara. Pesantren As-Salam pun menjadi terancam. Kabayan bertekad merantau ke Jakarta, berusaha mencari cara untuk menyelamatkan pesantren sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Akting secara pribadi pemain tidak ada masalah sepanjang cerita. Suasana masyarakat Sunda sangat terasa dengan peran, terutama dialog dan dialek, yang terkesan sangat kental. Yang disayangkan adalah arahan akting pemain yang terasa dipaksakan sehingga lebih terasa pemain sebagai robot yang jalan masing-masing. Yang disayangkan lagi dan paling sering terjadi pada beberapa film Indonesia adalah FIGURAN yang tidak diperhatikan untuk diarahkan. Kekuatan akting pada sebuah film tidak hanya diperuntukkan untuk pemain utama saja. Pemain figuran pun memiliki andil untuk membangkitkan suasana. Spoiler alerts! Salah satu adegan figuran yang paling mengganggu adalah pekerja valet yang senyum (hampir tertawa) ketika mobil pelanggannya dicuri.

Harmonisasi film ini yang perlu banyak koreksi agar menjadi lebih pada film-film mendatang. Pemenggalan adegan per adegan berkesan diburu-buru durasi, sehingga pemotongannya tidak rapi dan terasa ada banyak lompatan ide antara satu adegan ke adegan lain. Penulis naskah ingin memadatkan segala informasi tentang Kabayan (mulai dari percintaan Kabayan–Iteung, tantangan Abah untuk mendapatkan Iteung, dan jin sebagai pelengkap identitas Kabayan dari film terdahulu). Semua ini agar figur Kabayan yang sudah ada di benak penonton tidak rusak, tetapi ia juga ingin memasukkan unsur-unsur zaman sekarang pada cerita Kabayan itu, ditambah ia ingin menyindir masalah sosial dan politik yang sedang terjadi sekarang ini. Semua keinginan yang banyak ini dipadatkan pada satu cerita yang berdurasi tergolong singkat. Hasilnya, penonton kurang bisa menangkap idenya. Sutradara pun harus lebih teliti pada detail yang mungkin dimaksudkan untuk menghibur, tetapi tidak dapat diterima pada logika cerita yang dibangun. Film imajinatif pun punya logikanya sendiri. Contoh: Spoiler alerts! Ketika Armasan mencari Kabayan di dalam gua, dia menggunakan lampu petromaks. Kenapa tidak pakai senter? Apa alasannya karena di desa susah cari baterai? Tapi kok ada kamera digital?! Logika yang ditanyakan: film ini mau menunjukkan desa yang sudah mulai masuk dunia modern atau tidak (ada kamera digital tapi tidak ada senter)? Contoh lain, blue print rencana pembangunan resort ‘yang asli’ oleh Rocky dipampang lebar-lebar di kantornya. Masalahnya, bukankah itu harusnya sebuah rahasia? Rasanya setiap orang bila punya rahasia yang bisa menghancurkan rencananya, ia akan menjaga baik-baik rahasia itu. Masih banyak detail yang harus diperhatikan dalam film ini. Semoga bisa lebih baik di film mendatang. Kemajuan perfilman Indonesia tetap diharapkan di tangan sineas-sineas Indonesia. Tetaplah berkarya!

Film ini bertujuan untuk menghibur penonton dengan suguhan sesosok figur yang telah dikenal di masyarakat sehingga penonton sudah tahu watak para tokoh secara garis besar. Akan tetapi, karena terlalu banyak yang ingin disampaikan pada penonton, penonton pun tidak dapat menikmati satu per satu lelucon secara maksimal. Hiburan diperoleh dari karakter yang dibawakan oleh pemain seperti Jamie Aditya, Amink, Meriam Bellina, dan Melly Goeslaw.

Kembali pada pemadatan yang campur aduk di dalam film ini, pesan film ini tidak tersampaikan dengan baik. Penonton mengerti masalah di dalam cerita hingga akhir yang bahagia karena tergolong cerita sederhana dan klise, tapi kesederhanaan ini tidak menghasilkan apa-apa. Salah satu pesan yang terdapat dalam film adalah kritikan berupa sindiran pada kritik sosial di masyarakat dan pada pemerintah. Akan tetapi, kritikan ini hanya berupa sindiran semata yang sebenarnya kritikan ini sudah ada di pikiran penonton. Jadi, sindiran di film ini hanya ‘memvisualisasikan’ kritikan yang ada di otak penonton. Tidak heran bila sepanjang film penonton akan berceloteh “iya tuh, emang kayak gitu.” Tapi, apa hasilnya? Tidak ada solusi, tidak ada semacam utopia yang dapat membangkitkan imajinasi penonton agar tidak hanya sekadar bisa mengkritik saja.

Pada awalnya, sinematografi film ini lah yang mampu mengangkat nilai film ini. Pengambilan gambar yang tidak mengganggu serta menggunakan fokus dengan membuat benda sekelilingnya menjadi blur. Begitu pula dengan pengambilan gambar yang memanfaatkan keindahan alam Indonesia dengan baik. Akan tetapi, sinematografi mulai terganggu ketika mulai menggunakan komputerisasi yang sederhana. Tolong diperhatikan bagian ini Spoiler alerts! Terutama adegan yang berhubungan dengan jin dan poster, spanduk, baliho “Kabayan dan Nyi Iteung” yang ada di gedung-gedung, serta adegan terbang. Mungkin komputerisasi dalam perfilman Indonesia masih tertinggal dan merupakan sebuah kelemahan perfilman Indonesia, tapi bila ingin menggunakan konsep “menggunakan kelemahan sebagai kekuatan” berarti harus berusaha lebih untuk menerapkannya di film mendatang. Pencahayaan juga mengarah ke luar logika Spoiler alerts! Terutama ketika Armasan masuk ke dalam gua. Pada saat mencari Kabayan, cahaya lampu petromaks terlihat pas dengan suasana gelapnya. Ketika bertemu, cahayanya terang benderang menerangi seisi gua, ditambah ada cahaya dari luar yang terlihat terang. Jadi sebenarnya pencarian ke dalam gua itu masih dekat dengan luar gua atau sudah masuk jauh ke dalam karena Armasan sudah masuk susah-susah ke dalam gua dan berkesan masuk sangat dalam. Intinya, mau pakai logika yang mana? Begitu pula dengan musik. Kekuatan musik Anto Hoed dan Melly Goeslaw tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang disayangkan adalah pemanfaatan potensi ini yang kurang baik. Musik sangat pas menyertai suasana dalam film. Kembali pada pemenggalan adegan yang tidak rapi sehingga potongan musik hanya terdengar intro dan sedikit bagian awal lagu. Ini bukan masalah sebenarnya, masalahnya adalah adegan yang memiliki metode ini banyak sekali sehingga lagu yang kuat ini menjadi lemah karena diulang berkali-kali dengan pemotongan yang hampir sama di adegan-adegan yang suasananya serupa jadi membuat lagu ini hanya untuk mengiringi saja sifatnya.

Pemain: Jamie Aditya, Rianti Cartwright, Amink, Christian Sugiono, Slamet Rahardjo, Didi Petet, Meriam Belina

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produser : Chand Parvez Servia

Produksi : Starvision

Tahun : 2010

Akting : ( 4.5 )

Harmonisasi film : ( 1 )

Hiburan : ( 4 )

Pesan : ( 4 )

Sinematografi : ( 4.5 )

————————————————————-

Overall: ( 3.6 )

-DJD-

 

 

4 Comments

Filed under K

ANTHONY ZIMMER

ANTHONY ZIMMER

Anthony Zimmer adalah seorang buronan yang dikejar-kejar oleh polisi internasional dan mafia Rusia karena ia telah menggelapkan uang dalam jumlah besar. Untuk menemukan Zimmer, polisi mengikuti gerak-gerik kekasih Zimmer, yaitu Chiara Manzoni (Sophie Marceau). Setelah Chiara Manzoni mendapat pesan dari kekasihnya untuk mengelabuhi polisi-polisi tersebut dengan melibatkan seseorang di dalam kereta yang ingin berlibur agar mereka menyangka orang itu adalah Zimmer, ia pun bertemu François Taillandier (Yvan Attal) sebagai korbannya. Oleh karena itu, nyawa François pun terancam karena semua orang meyakini dia adalah Zimmer. Akan tetapi, setelah ia meminta perlindungan pada polisi setempat karena jiwanya terancam, ia tetap menjerumuskan diri pada kasus ini karena ia cintanya pada Chiara.

Akting yang mampu mengelabuhi penonton yang tidak tahu cerita ini sebelumnya. Penonton akan merasa tertipu dengan peran yang dibawakan oleh pemain-pemainnya, khususnya Yvan Attal dan Sophie Marceau. Mereka mampu menjalani perannya dengan maksimal. Memang kekuatan akting dalam film ini hanya fokus pada mereka berdua. Pemain pendukung lainnya terkesan hanya membantu melalui sosoknya saja. Akting dari pemain pendukung lain memang sebaiknya diarahkan untuk tidak lebih menonjol dari mereka berdua.

Ide yang cemerlang dari film ini mampu membuat penonton merasa tertipu ketika melihat adegan akhirnya. Akan tetapi, dengan khas film Prancis pada umumnya, penonton sendirilah yang menyimpulkan adegan akhir itu. Memang inilah yang terjadi sehingga penonton akan menjadi berpikir ketika film ini habis.

Emosi penonton tidak dimainkan sepanjang film, tetapi suasana menegangkan, teror, dan penasaran timbul sepanjang film dan memuncak pada adegan akhir. Penonton lebih diajak untuk berpikir daripada terlarut pada suasana yang diberikan. Seperti film Prancis kebanyakan, film ini berpotensi membosankan, tetapi penonton bisa menemukan ketertarikan tersendiri ketika menontonnya dan itu bukan dari sisi hiburannya.

Oleh karena hiburan yang terasa kurang dalam film ini, kekuatannya akan didapatkan dari pesan yang ingin disampaikan. Sutradara memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan cerita film ini kepada penonton. Dalam hal ini Jérôme Salle berhasil. Walaupun penasaran penonton tidak terjawab sepanjang film, adegan akhirnya menjadi kunci jawabannya. Bahkan, bila dibutuhkan, penonton perlu melihat credit title yang berjalan setelah film selesai untuk memastikan jawaban yang diperoleh.

Sinematografi dalam film ini sederhana namun pas. Film ini tidak menggunakan efek-efek khusus sepanjang film. Adegan action yang terdapat di dalamnya dapat dijumpai di film apa pun yang serupa. Pengambilan gambarnya pun tidak menambah beban pikiran penonton ketika menontonnya. Akan tetapi, ke’datar’an pengambilan gambar ini menambah potensi rasa bosan pada penonton. Tugas penonton adalah mempertahankan konsentrasi tinggi ketika menonton.

Pemain: Yvan Attal, Sophie Marceau, Sami Frey, Gilles Lellouche, Daniel Olbrychski

Sutradara : Jérôme Salle

Produser : Olivier Delbosc, Marc Missonnier, Alain Terzian

Produksi : Alter Films, Canal +

Tahun : 2005

Akting : ( 8 )

Harmonisasi film : ( 7 )

Hiburan : ( 6 )

Pesan : ( 5.5 )

Sinematografi : ( 6 )

————————————————————-

Overall: ( 6.5 )

-DJD-

 

 

2 Comments

Filed under A

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS: PART 1

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS:

PART 1

Hidup Harry Potter semakin terancam dengan semakin kuatnya Voldemort serta para Death Eaters. Harry sudah tidak aman lagi pergi kemana-mana. Kementrian sihir pun akhirnya sudah dikuasai oleh Death Eaters. Kehidupan di dunia sihir sudah semakin suram. Harry dan teman-temannya pun sudah menjadi buronan. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Harry dan kawan-kawannya selain berusaha menghancurkan Voldemort, apalgi sejak kematian Dumbledore sehingga mereka harus mengungkap misteri relikui kematian sehingga dapat mencegah Voldemort mendapat kekuatan yang dahsyat.

Akting yang dimainkan oleh para pemain di film ini sangat stabil dari awal hingga sekarang. Terutama untuk tiga sekawan yang menjadi tokoh utama, mungkin karena diasah juga pada film-film mereka di luar film Harry Potter. Akting mereka menjadi semakin matang. Aktor lain seperti Alan Rickman dan Helena Bonham Carter sudah tidak perlu lagi diragukan lagi kualitasnya. Begitu pula Ralph Fiennes yang dapat membawakan tokoh Voldemort dengan sempurna.

David Yates berhasil menutup episode terakhir Harry Potter (bagian 1) ini dengan gemilang. Semua cerita, detail, kesinambungan dari episode sebelum-sebelumnya, semuanya sangat rapi. Sebagai sebuah film bioskop yang memiliki dua episode, Yates sangat cerdas memotong adegannya. Penonton tidak merasa rugi menonton film yang belum selesai ini. Film ini menjadi contoh yang sangat baik untuk film panjang yang harus dipotong menjadi dua episode. Segala pertimbangan yang dijalankan tidak merugikan semua pihak, terutama penonton.

Film ini amat sangat menghibur. Penonton dapat dibius untuk menonton film yang berdurasi tergolong sangat panjang. Kesan menegangkan dapat diterima baik oleh penonton. Begitu pula dengan emosi penonton yang dimainkan mulai dari kisah yang lucu maupun kisah yang sedih. Permainan efek visual pun dapat membuat penonton berdecak kagum. Tanpa membandingkan dengan imajinasi pribadi bila telah membaca bukunya, imajinasi yang ditawarkan Yates dalam merealisasikannya dalam film dapat diterima oleh penonton. Akan tetapi, bila film Harry Potter yang pertama masih dapat dinikmati oleh anak-anak, mungkin film ini agak tergolong berat untuk anak-anak.

Pesan film tersampaikan dengan sangat baik. Semua detail cerita dalam film tidak ada yang kurang. Logika yang dibuat dalam film dapat dipahami penonton sehingga imajinasinya tidak berkesan mengada-ada. Film ini seakan membuka logika imajinasi penonton agar mampu kreatif dalam berimajinasi. Semua informasi sebagai kunci dari cerita dapat diikuti penonton. Pesan moral tak luput dari film ini. Walaupun pesan-pesan yang berkaitan dengan persahabatan, keberanian, dan kerja sama sebenarnya biasa saja, tapi penyampaiannya membuat penonton menjadi merenung setelah menontonnya.

Pengambilan gambar diambil dengan sempurna, tidak membuat penonton pusing walaupun berkesan suram. Semua pesan yang disampaikan sangat didukung oleh aspek visual dan aspek audio yang sesuai kadarnya. Visual effect pun sangat dapat dinikamati dan penonton akan berdecak kagum pada kerapihan efek tersebut.

Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Alan Rickman, Toby Jones

Sutradara : David Yates

Produser : David Barron, David Heyman, J. K. Rowling

Produksi : Warner Bros. Pictures

Tahun : 2010


Akting : ( 9 )

Harmonisasi film : ( 10 )

Hiburan : ( 9 )

Pesan : ( 9.5 )

Sinematografi : ( 10 )

————————————————————-

Overall: ( 9.5 )

-DJD-

 

 

1 Comment

Filed under H

MEGAMIND

MEGAMIND

Megamind (Will Ferrell) dan Metro Man (Brad Pitt) adalah dua makhluk dari planet di luar bumi yang diselamatkan dari planet tersebut dengan dibuang ke bumi. Meereka memiliki kekuatan khusus yang menjadikan mereka makhluk yang khusus di bumi sejak kecil. Metro Man memiliki fisik yang lebih bagus dari Megamind, sehingga apa pun yang dilakukan Metro Man untuk menunjukkan kekuatannya akan selalu dikagumi orang-orang. Sebaliknya, Megamind memiliki fisik yang aneh, sehingga kekuatannya selalu dianggap tidak menarik. Akhirnya, Megamind memutuskan bahwa tujuan hidupnya adalah untuk menjadi tokoh jahat yang selalu bertolak belakang dengan Megamind. Hingga pada suatu ketika, Megamind dapat mengalahkan Metro Man. Apa jadinya? Sudah tidak ada jagoan, apa artinya seorang penjahat? Kebosanan ini membuat Megamind menciptakan sendiri tokoh jagoan supaya dia dapat bersaing lagi seperti ketika ada Metro Man.

Pengisi suara dalam film ini memainkan perannya dengan baik, tetapi hanya sebatas ‘pas’ untuk mengisikan suaranya. Tidak ada ciri tertentu dari tokoh mana pun yang dilahirkan dari pengisian suaranya. Brad Pitt sangat terasa warna suaranya sehingga ketika dia mengisi suara karakternya lebih terasa diri seorang Brad Pitt yang sebenarnya. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, tapi berdampak pada karakter tokohnya yang tidak kuat untuk dikenang terlepas dari bentuk visualnya yang unik.

Ide cerita film dapat dikatakan menarik, akan tetapi ‘eksekusi’nya dalam film berkesan biasa saja. Terlebih lagi, sebelum film ini sudah ada Despicable Me yang mengambil tema yang serupa, yaitu melihat sisi baik dari tokoh jahat. Yang membedakan hanyalah dalam film ini ada tokoh pembanding, yaitu sang superhero, sedangkan dalam Despicable Me hanya persaingan antartokoh jahat. Cerita tergolong sederhana karena konflik yang ada sudah dapat ditebak oleh penontonnya.

Sebagai film animasi, fantasi yang disajikan menjadi menarik. Humor yang disuguhkan dapat mengundang tawa penonton, akan tetapi, mungkin akan sulit diterima untuk anak-anak. Bentuk visual tokoh-tokoh dalam film ini memiliki ciri tertentu, misalnya tokoh Megamind yang berbentuk seperti alien berwarna biru. Bila dilihat alurnya, emosi penonton tidak terlalu dilibatkan untuk mengikuti jalan ceritanya. Intinya, penonton hanya akan terhibur dari aspek visualnya saja.

Pesan dalam film ini dapat disampaikan dengan baik, tapi kurang bisa dikenang. Kejadian yang terdapat dalam cerita di film ini hanya seperti sebuah justifikasi dari adegan yang sudah dibayangkan oleh penonton. Dengan kata lain, pesan film ini sudah ada lebih dulu di otak penonton sebelum melihat adegan per adegan. Begitu pesan moral yang ingin disampaikan. Pesan moral yang ingin disampaikan kurang menyentuh hati penonton karena sudah dianggap klise untuk film dengan tema serupa.

Seperti biasanya, animasi DreamWorks memang menjadi tandingan Disney dan Pixar. Dengan bentuk karakter yang unik, maka akan dapat dikenang untuk wujud tokohnya dengan warna yang menarik pula. Animasi terlihat semakin nyata dengan adegan-adegan yang sudah mulai memfokuskan pada detail dari setting tempat di cerita dalam film. Untuk aspek suara tidak terlihat menonjol dalam film ini.

Pengisi Suara: Will Ferrell, Brad Pitt, Tina Fey, Jonah Hill, Ben Stiller,

Sutradara : Tom McGrath

Produser : Lara Breay, Denise Nolan Cascino

Produksi : DreamWorks Animation

Tahun : 2010

Pengisi suara: ( 6 )

Harmonisasi film: ( 5.5 )

Hiburan: ( 7.5 )

Pesan: ( 6 )

Sinematografi: ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 6.4 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under M

STEP UP 3D

STEP UP 3D

Luke (Rick Malambri) sebagai ketua perkumpulan penari jalanan di New York menginginkan kemajuan untuk kelompoknya. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan tempat latihan mereka yang terancam dilelang karena ketidakmampuan Luke untuk melunasi segala hutang untuk tetap bisa menggunakan tempatnya. Dia mendapat dua anggota baru yang mampu memperkuat kelompoknya, yaitu seorang mahasiswa yang bernama Moose (Adam G. Sevani) dan seorang gadis yang memikat hatinya, Natalie (Sharni Vinson). Kekuatan ini akan diuji di turnamen tari jalanan yang berhadiah besar. Kesulitan dihadapi pada urusan kampus Moose yang tak sesuai dengan time table kelompok tari tersebut dan kisah cinta Luke­–Natalie yang berujung sebuah masalah.

Bila ingin dinilai dari sisi kekuatan akting yang dibawa oleh pemain-pemainnya, tidak menunjukkan sesuatu yang menarik perhatian. Semua bermain netral dan penjiwaan yang biasa saja. Singkatnya, kekuatan film ini tidak terletak pada akting pemainnya.

Penggarapan film ini lebih diarahkan pada efek yang digunakan untuk sensasi hiburan semata. Alur cerita menjadi tidak begitu penting karena yang penting dapat memasukkan unsur tarian yang menjadi potensi besar film ini dengan cerita yang dibilang sederhana saja. Penekanan pada unsur tarian ini sangat terasa apalagi ditambah dengan efek-efek visual yang mendukung fokus tarian.

Di bagian hiburan inilah kekuatan film ini. Dengan visual effect yang digunakan, penonton akan terbius untuk menikmatinya. Unsur tarian yang menjadi fokus utama film ini akan dengan mudah dinikmati, terutama bagi mereka yang mencintai dunia tari, khususnya street dance. Penonton akan menunggu-nunggu penampilan tarian yang disuguhkan.

Karena memang fokus utama film ini adalah ingin memperlihatkan tarian yang menjadi kekuatannya maka tidak banyak pesan yang dapat dipetik. Untuk pesan cerita filmnya tergolong sangat klise dan tidak terasa begitu penting untuk memerhatikan jalan ceritanya. Pesan yang tercapai dalam film ini adalah keberhasilan mengangkat street dance dengan efek yang maksimal.

Sesuai dengan judul filmnya yang menggunakan “3D” untuk menyebut sekuel Step Up yang ketiga ini, film ini mengoptimalkan penggunaan fasilitas tiga dimensi untuk menarik perhatian penontonnya. Dapat dikatakan penggunaan tiga dimensi dalam film ini dimanfaatkan dengan sangat baik. Penonton akan terkagum-kagum dengan efek ini seakan menonton pertunjukan tari secara langsung. Pengambilan gambar sangat terasa berguna hanya pada adegan-adegan tarian. Pada pengambilan cerita biasa, efek kamera tidak begitu diutamakan.

Pemain: Rick Malambri, Adam G. Sevani, Sharni Vinson, Joe Slaughter, Alyson Stoner

Sutradara : Jon Chu

Produser : Erik Feig, Jennifer Gibgot, Adam Shankman, Patrick Wachsberger

Produksi : Touchstone Pictures, Summit Entertainment

Tahun : 2010

Akting : ( 4 )

Harmonisasi film : ( 2 )

Hiburan : ( 5.5 )

Pesan : ( 2.5 )

Sinematografi : ( 7.5 )

————————————————————-

Overall: ( 4.3 )

-DJD-

 

 

6 Comments

Filed under S

EAT PRAY LOVE

EAT PRAY LOVE

Apakah yang membuat bahagia di dunia ini? Bekerja di tempat yang menjanjikan, menikah, dan memiliki rumah mewah? Ternyata bukan itu bagi Liz Gilbert (Julia Roberts). Dia masih merasa ada yang kurang walaupun sudah memiliki semua yang dipikir orang-orang memenuhi syarat untuk bahagia di dunia ini. Berpisah dengan suaminya serta memiliki pacar baru pun belum dapat membahagiakan dirinya. Hingga akhirnya Liz mencari sendiri kebahagiaannya dengan pergi ke Italia untuk mendapatkan kebahagiaan dengan santapan yang lezat khas Italia dan dilanjutkan ke India untuk mendapat santapan rohani. Dengan bekal ini kebahagiaan itu diarahkan oleh Ketut Liyer (Hadi Subiyanto) sebagai penasihat spiritual Liz hingga akhirnya dia menemukan kebahagiaannya yang terkahir yaitu “cinta” di Indonesia, tepatnya di Bali.

Bila ingin menghitung nilai akting dalam film ini tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bila dilihat dari pemainnya, selain Julia Roberts berkating baik sebagai pengendali cerita, akting pemain pendukung lainnya tidak begitu menonjol. Christine Hakim pun bermain dengan penjiwaan yang maksimal (tak perlu diragukan), tetapi perannya tidak begitu mengendalikan cerita. Yang perlu diberi penghormatan adalah Hadi Subiyanto, yang memiliki profesi asli sebagai musisi terkontrak di sebuah hotel ternama dan film ini sebagai film perdananya, mampu berusaha dengan keras untuk mengimbangi akting dengan Julia Roberts. Latihan Hadi Subiyanto untuk mendalami peran sebagai Ketut Liyer membuahkan hasil yang baik.

Ryan Murphy benar-benar menggarap film ini untuk memperlihatkan sisi filosofis Elizabeth Gilbert yang dituangkan dalam novelnya dengan judul yang sama. Kesinambungan antar adegan agak kurang rapi sehingga terjadi lompatan-lompatan cerita yang perlu konsentrasi lebih untuk menggunakan logika ketika menontonnya. Selebihnya, Murphy mengarahkan pemainnya dengan baik walau “bumbu-bumbu” yang diusahakan untuk membuat film ini menarik perhatian agak kurang terasa.

Untuk itu, film ini dapat digolongkan film yang sedikit unsur hiburannya. Film ini tidak memainkan emosi penonton secara mendalam. Film ini lebih mengarahkan penontonnya untuk ikut berpikir untuk memahami filosofi yang dikandungnya. Hiburan atau permainan emosi hanya tertolong oleh akting Julia Roberts yang membawakan suasananya dengan baik. Film ini berpotensi untuk membosankan dalam arti akan menjenuhkan penonton bila mereka tidak dapat memahami filosofi yang diutarakan Elizabeth Gilbert. Bukan berarti harus sepaham, at least, kalo bisa memahaminya maka akan dapat mengikuti film ini hingga habis.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film ini lebih ditekankan pada pemahaman akan filosofi Elizabeth Gilbert dalam memandang kebahagiaan hidup. Dengan tidak menggurui, penonton diharapkan dapat menerima pandangannya tersebut. Pesan moral terkait dengan pemahaman tersebut. Pelajaran bisa dipetik dengan menganalogikan pemikirannya dengan apa yang kita yakini. Bila tidak sesuai dengan apa yang kita yakini, hargai saja pemikiran Elizabeth ini sehingga kita dapat memelajari satu tipe orang dengan pandangan seperti Elizabeth Gilbert.

Pengambilan gambar tidak menggunakan teknik kamera khusus untuk menceritakan kisah di film ini. Kamera bertugas untuk mengikuti saja perjalanan Liz dari satu tempat ke tempat lain. Tidak menggunakan efek khusus untuk menggambarkan emosi Liz. Keuntungannya adalah, penonton dapat melihat perjalanan ini sebagai sesuatu yang real. Tidak dilebih-lebihkan. Kekuatan keindahan setting tempat juga tidak difouskan secara dalam sehingga film ini tidak membuai penonton dengan penggambaran setting yang khusus dari Italia, India, dan Indonesia.


Pemain: Julia Roberts, Hadi Subiyanto, Javier Bardem, Richard Jenkins, James Franco, Christine Hakim

Sutradara : Ryan Murphy

Produser : Dede Gardner

Produksi : Columbia Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 6 )

Harmonisasi film : ( 6 )

Hiburan : ( 4 )

Pesan : ( 6.5 )

Sinematografi : ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 5.9 )

-DJD-

 

 

Leave a comment

Filed under E

INGLOURIOUS BASTERDS

INGLOURIOUS BASTERDS



Masa pendudukan Jerman di Prancis menjadi latar utama dalam film ini. Cerita dimulai dengan ‘pembasmian’ keluarga Yahudi di Prancis yang dilakukan oleh seorang kolonel Nazi yang bertugas dibidang tersebut, Hans Landa (Christoph Waltz). Satu orang dari keluarga Yahudi tersebut berhasil melarikan diri, yakni Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent). Shosanna dengan identitas lain dapat bertahan hidup di masa itu hingga akhirnya seorang petinggi Nazi, Fredrick Zoller (Daniel Brühl) menaruh hati padanya. Di dalam strategi Shosanna, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam pada Nazi. Di sisi lain, kelompok Yahudi-Amerika yang dikenal dengan “the Basterds”, dipimpin oleh Aldo Raine (Brad Pitt), ingin menghabisi Hitler dan memberi pelajaran pada semua anggota Nazi. Dengan bantuan aktris yang dekat dengan Nazi, Bridget Von Hammersmark (Diane Kruger), Aldo dengan mudah mendapat siasat hingga dapat masuk sebagai tamu ke dalam perkumpulan Nazi. Dua pihak berbeda yang melawan Nazi (Shosanna dan Aldo) ingin menghabisi Nazi di tempat yang sama.

Penghormatan untuk akting layak diberikan pada Christoph Waltz yang memerankan Hans Landa. Penghayatan dalam kecerdasan dan kelicikan Landa sangat terasa dalam film. Tokoh Landa menjadi pusat perhatian walaupun bukan dia tokoh utamanya. Begitu pula dengan Mélanie Laurent. Emosi yang ia ciptakan seakan-akan mengajak penonton untuk ikut terhanyut dalam perasaannya, terutama pada kedendamannya dengan Landa. Brad Pitt dan Diane Kruger tidak berakting jelek, namun terkesan datar dan tidak menonjol dibandingkan tokoh Shosanna dan Landa.

Pecinta film Tarantino yang identik dengan ‘darah-darahan’-nya akan terpuaskan dengan sebuah film garapannya yang satu ini. Film ini menggambarkan kejeniusan Tarantino dalam menggarap sebuah film. Film ‘mikir’ khas Hollywood ini menjadi menarik dengan dialog-dialog cerdas yang singkat padat dan jelas. Menggunakan pemain yang baik dan diarahkan dengan baik pula. Akan tetapi, pada adegan ending, terlihat akhir yang 180º berbeda dari yang konsep yang tertanam dari awal film. Landa yang cerdik menjadi terlihat amat bodoh dengan ending seperti ini. Ini bukan kelemahan film ini, Tarantino pasti ingin mengungkapkan sesuatu dari ‘kebodohan’ ini.

Film Tarantino tergolong berat karena harus berpikir yang cukup dalam untuk mencari pesan film ini. Dengan kecerdasannya, Tarantino membuat adegan-adegan yang memancing emosi penonton sehingga penonton dapat terus mengikuti alur cerita hingga akhir. Permainan emosi dan pikiran penonton membuat rasa penasaran yang tinggi untuk melihat akhir cerita film ini. Untuk sebagian orang mungkin akan bingung dengan jalannya film ini. Akan tetapi, dengan terbawanya suasana hingga adegan akhir itulah yang menjadi kekuatan Tarantino untuk ‘menjebak’ penontonnya untuk memahami film.

Tarantino membuat film yang sama seperti biasanya dengan tetap mengedepankan pesan film yang disampaikan dengan caranya tersendiri. Dia mengajak penonton untuk mengikuti cerita dengan segala teka-teki kecil mengenai peran tokoh-tokoh dalam film. Penonton akan dibawa tegang untuk mendapatkan pesan yang ingin disampaikan. Penonton harus menangkap sendiri pesan tersebut karena Tarantino mengungkapkannya dengan tindakan-tindakan para pemain. Dia tidak menggurui secara langsung. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari film ini yang salah satunya berkaitan dengan kecerdikan seseorang dalam mengatur strategi menghadapi orang (musuh).

Pergerakan kamera Tarantino seperti biasanya mengarahkan seperti pada nuansa thriller sehingga angle yang diambil lebih dipentingkan pada teka-teki pesan yang ingin disampaikan. Dengan demikian, perlu diperhatikan setiap kamera mengarah pada close up terhadap sesuatu, seperti close up pada jari-jari tokoh untuk menyebut angka “3”. Perbedaan penunjukkan angka tiga dengan jari antara orang Prancis dan orang Jerman menjadi kunci sebuah rahasia terbongkar. Oleh karena itu, untuk menonton film ini perlu ketelitian yang lebih untuk dapat melihat detail yang mungkin akan menjadi kunci pada cerita, biasanya dibantu dengan pergerakan kamera.

Pemain: Leonardo Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Diane Kruger, Daniel Brühl

Sutradara : Quentin Tarantino

Produser : Lawrence Bender

Produksi : Universal Pictures

Tahun : 2009

Akting: ( 8 )

Harmonisasi film: ( 8 )

Hiburan: ( 7 )

Pesan: ( 8 )

Sinematografi: ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 7.6 )

-DJD-

 

 

4 Comments

Filed under I