STAY WITH ME

STAY WITH ME
072986400_1442225164-boy_william

Apa konsekuensi dari sebuah ucapan janji untuk hidup bersama? Kesetiaan. Ini yang harus dihadapi oleh Boy Dimas (Boy William) dan Deyna (Ully Triani) ketika Deyna harus meninggalkan Boy untuk melanjutkan hidup di luar negeri. Berapa lama orang bisa setia dengan cinta yang tanpa kabar semenit pun? Waktu menjadi penghalang kesetiaan mereka, 6 tahun berlalu, Boy dan Deyna sudah berkeluarga dengan pasangan hidup masing-masing. Waktu pula yang mempertemukan mereka untuk menguji kesetiaan mereka dengan keadaan tersebut. Film ini memang tentang kesetiaan. Kesetiaan pada orang yang dicintai atau pada pasangan hidup yang dipilih?

Film ini menjadi cerita cinta baru yang ditawarkan Rudi Soedjarwo. Kisah yang jauh berbeda dari Ada Apa dengan Cinta? atau Tentang Dia. Bukan kisah cinta yang berjalan menuju happy ending. Kisah cinta kali ini sudah diawali dengan bahagia. Perjalanan cinta yang awalnya sudah bahagia diceritakan tidak selalu menjadi bahagia ketika banyak rintangan di dalamnya. Kekuatan dialog film ini mengantar perasaan setiap tokoh. Dialog sederhana, namun penuh rasa dapat disampaikan dengan baik oleh pemain-pemain yang terbilang baru dalam dunia film. Perkembangan emosi sangat terlihat di setiap scene, sehingga mampu mengantar penonton untuk dimainkan perasaannya. Tuntutan untuk bermain senatural mungkin yang meringankan film ini untuk dinikmati. Karakter yang sebenarnya bisa kita temui di sekeliling kita.

Film ini memiliki kesan awal sebagai film yang datar karena banyak scene yang terasa panjang. Panjangnya scene guna mengikuti pembangkitan emosi yang dirasakan setiap tokoh. Bila dipikir lebih detil, semua scene, baik yang panjang maupun yang singkat, menjadi sangat penting untuk film ini. Menurut saya, tidak ada scene yang sia-sia. Tanggung jawab besar memang ada di pemain karena film ini padat dengan perkembangan emosi tokoh dari awal hingga akhir film. Perkembangan cerita tidak terlihat signifikan, sehingga kesan datar itu muncul. Film ini mengutamakan karakter yang menjadi cerita utama. Ilustrasi musik pun berfungsi untuk membantu pembawaan emosi penonton, bukan penanda adegan berikutnya (tidak seperti pola yang sering digunakan untuk film horor atau komedi).

Dengan fokus pada tokoh dari awal hingga akhir film di dalam cerita yang terbilang sederhana ini, mungkin untuk penonton yang menginginkan nilai hiburan yang tinggi perlu menyiapkan diri untuk menikmati akting yang kuat dari pemain. Film ini tidak melakukan twist cerita yang signifikan. Kesederhanaan menjadi nilai lebih dalam film ini. Cerita sederhana yang diceritakan dengan sangat istimewa mengajak penonton untuk menikmati emosi setiap scene, bukan untuk menebak adegan berikutnya. Ini sebuah kisah perjalanan cinta, bukan misteri cinta.

Pusat film ini jadinya lebih pada pesan yang ingin disampaikan pada penonton, baik pesan cerita maupun pesan moral yang dapat diambil. Pesan cerita melalui pemain membuat penonton akan merefleksikan cerita Boy dan Deyna pada kehidupan pribadi atau kisah cinta yang diketahui di dunia nyata, sehingga penonton akan merasa dekat dengan tema cerita cinta seperti ini. Temanya sederhana: kesetiaan. Tema sederhana ini menjadi pesan yang akan dibawa penonton dalam film ini lebih. Kisah Boy dan Deyna membuat berpikir mengenai makna kesetiaan: setia pada cinta atau pada komitmen? Itu pilihan yang personal, setiap orang bebas memilih.

Satu lagi nilai tinggi dalam film ini adalah pengambilan gambar yang mengutamakan momen di setiap pembangkitan emosi tokoh. Acungan jempol diberikan untuk eksplorasi angle untuk mendapat momen secara utuh dan maksimal. Sekali lagi, pengambilan gambar yang sederhana dapat memberikan nilai yang lebih untuk memaksimalkan momen di setiap scene. Banyak pengambilan gambar yang menguatkan film ini untuk dikenang. Intinya, kesederhanaan membuat film ini bernilai.

 

Pemain: Boy William, Ully Triani, Natasha Ratulangi, Firman Subagja, Nathalie Pandoyo

Sutradara : Rudi Soedjarwo

Produser : Tyas Abiyoga, Rudi Soedjarwo, Aulia Mahariza

Produksi : IFS

Tahun : 2016

maxresdefault

Akting : bintang 8

Harmonisasi film : bintang 7 stgh

Hiburan : bintang 6

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 9

————————————————————-

Overall: bintangall 8( 8.1 )

–DJD–

 

 

Leave a comment

Filed under S

LA VIE D’ADÈLE (BLUE IS THE WARMEST COLOR)

LA VIE D’ADÈLE – CHAPITRE 1 & 2

(BLUE IS THE WARMEST COLOR)

 La vie d'adele KP

Sesuai judul bahasa Prancisnya yang memiliki arti “Kehidupan Adèle – Bagian 1 dan 2”, film ini mengisahkan kehidupan Adèle (Adèle Exarchopoulos) yang dimulai dari kehidupannya di SMA. Fokus cerita film ini ada pada kehidupan percintaan Adèle yang dimulai dari melihat Emma (Léa Seydoux) di jalan secara tidak sengaja. Mereka tidak saling mengenal, namun kehadiran Emma cukup mengganggu pikiran Adèle. Adèle mulai merasa bimbang dengan pilihan hatinya. Akhirnya, ia yang awalnya ingin mencari jawaban dengan mencoba memasuki gay cafe khusus lesbian, justru malah menemukan Emma di dalamnya dan mereka pun akhirnya berkenalan. Mereka akhirnya menjalankan kehidupan mereka berdua. Hubungan mereka terus diceritakan hingga mereka hidup bersama dalam waktu yang lama. Mereka pun memiliki kesibukan masing-masing walau tinggal bersama. Inilah yang menjadi bagian kedua (menurut saya) cerita ini. Kehidupan untuk mempertahankan hubungan mereka dalam waktu yang panjang. Rasa jenuh dan ‘gangguan’ dalam hubungan pun terjadi. Bagaimana menyikapinya? Yang jelas hidup terus berlanjut. 

Film yang memenangkan 45 penghargaan bergengsi di dunia ini (termasuk meraih Palme d’Or di Festival Film Cannes 2013), didominasi oleh penghargaan untuk kategori film terbaik dan aktris terbaik: baik untuk Adèle Exarchopoulos, maupun Léa Seydoux. Patut diakui kehebatan akting Adèle dan Léa untuk film ini. Léa yang terbilang bukan aktris baru di perfilman Prancis bermain sangat mengagumkan untuk mendalami karakternya. Dia melepas semua karakter yang pernah dimainkan sebelumnya. Dia benar-benar memberikan jiwa untuk karakter Emma secara total. Sedangkan Adèle yang berperan sebagai Adèle langsung melejit sebagai aktris pendatang baru. Kekuatan akting yang luar biasa dari Adèle mengisi setiap scene yang dimainkannya. Apa yang dirasakan oleh tokoh Adèle mampu membuat penonton merasakan apa yang dirasakan Adèle ATAU justru ingin menyalahkan Adèle atas segala yang terjadi padanya. Ini tergantung kacamata yang dipakai penonton ketika menonton.

Keberhasilan film ini tentu saja berkat tangan Abdellatif Kechiche yang ‘langganan’ meraih penghargaan dengan filmnya yang berkualitas. Detail yang sangat rapi oleh Kechiche membuat setiap scene berguna. Tidak ada scene yang bersifat katalisator (hanya untuk mempercepat peristiwa). Semua scene terbangun dengan baik hingga semua rasa dapat diterima oleh penonton. Kepiawaian Kechiche juga terlihat dari bagaimana dia membuat film yang bertema gay/lesbian dengan pesan-pesan yang sangat universal. Sesuatu yang dibangun oleh Kechiche dalam film ini mampu dianalogikan pada kehidupan pasangan heteroseksual sekalipun walaupun penggambaran lesbian dalam film ini sangat kental. Menurut saya, hanya Kechiche yang mampu membuat cerita ini menjadi universal.

Film berdurasi hampir 3 jam ini tidak terasa ketika kita mengikutinya secara saksama. Rasa ini terbawa akibat rasa yang dialami Adèle sangat berwarna, mulai dari awal ia jatuh cinta dengan Emma hingga usaha dia mempertahankan rasa cintanya itu setelah hidup bersama. Rasa geregetan, sedih, dan haru mewarnai sepanjang film ini. Sekali lagi, film ini bersifat universal karena hubungan yang dibangun Emma dan Adèle sangat nyata. Dengan demikian, apa yang terjadi pada Emma dan Adèle mungkin dan bisa saja dialami oleh semua hubungan berpasangan. Ketika menonton film ini, kita bisa menjadi memihak pada Adèle, memihak pada Emma, atau kita menyalahkan keduanya saat hubungan mereka retak. 

Pesan film ini yang sangat universal membuat film ini sangat cocok untuk menjadi introspeksi setiap pasangan di kehidupan nyata. Walaupun Adèle dan Emma menjalani hubungan sejenis, tapi pesan moral yang ingin disampaikan bisa diterapkan pada semua hubungan karena Adèle dan Emma masih menjalankan peran gender maskulin dan feminin dalam hubungan mereka. Kegagalan pada sebuah hubungan adalah kesalahan dua pihak. Semua tergantung komunikasi dan kesepakatan. Satu pesan yang paling umum adalah masalah hati dan masalah ketubuhan adalah dua hal yang berbeda. Orang yang kita cintai belum tentu menjadi orang yang tepat untuk menjadi pasangan kita. Apapun yang terjadi pada masalah-masalah itu, hidup terus berlanjut. Ending yang terbuka membuat penonton bebas untuk menentukan sendiri dirinya mendukung siapa yang salah pada hubungan tersebut. 

Aspek sinematografis yang penting dalam film ini berkenaan dengan pengambilan gambar dan penempatannya di dalam film. Bukan teknik yang gemilang, mengingat sepanjang film didominasi penggunaan handheld camera, melainkan pengambilan momen yang pas setiap scene yang membuat film ini menjadi bermakna. Mungkin untuk penonton Indonesia pada umumnya, ada beberapa adegan yang tidak berterima karena perbedaan budaya. Keintiman mereka tidak berlaku untuk keperluan gambar semata, tapi pada akhirnya, penonton akan lebih merasakan apa yang dirasakan Adèle karena suasana yang dibangun di keintiman mereka berdua. 

Pemain: Adèle Exarchopoulos, Léa Seydoux, Jérémie Laheurte, Mona Walravens

Sutradara : Abellatif Kechiche

Produser : Abellatif Kechiche, Brahim Chioua, Vincent Maraval

Produksi : Wild Bunch, Quat’sous Films

Tahun : 2013

 LVA_08

Akting :  bintang 10

Harmonisasi film : bintang 10

Hiburan : bintang 6 stgh

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 8

 ————————————————————-

Overall: bintangall 9( 8.9 )

–DJD–/@kritikpenonton

 

 

Leave a comment

Filed under B, V

LA GRANDE BELLEZZA (THE GREAT BEAUTY)

LA GRANDE BELLEZZA 

(THE GREAT BEAUTY)

lagranb  

Seorang jurnalis sekaligus novelis, Jep Gambardella (Toni Servillo), yang akhirnya menjadi ikon kaum sosialita Italia, memutuskan untuk berhenti menulis dan mengamati kehidupan sosial yang dimilikinya dengan kalangan jet set. Dengan demikian, novel pertamanya tersebut sekaligus menjadi satu-satunya masterpiece dalam hidupnya. Ada alasan yang membuat dia berhenti untuk menulis. Namun, dia suka sekali mengamati kehidupan orang sekitarnya dengan memerhatikan tingkah lakunya. Dalam kehidupan glamornya, Jep Gambardella memiliki banyak kenalan dengan karakter yang beragam. Dia berusaha mencari tahu apa yang pola pikir orang-orang di sekitarnya. Dia merasa ada benturan prinsip yang terjadi di lingkungannya. Benturan ini berkaitan banyak hal, salah satunya adalah waktu. Dia semakin tidak memahami pola pikir seni maupun pandangan hidup, bahkan prinsip agama di generasi modern. Hasil dari pengamatannya menghasilkan keinginannya untuk menulis kembali.

 Akting pemain yang luar biasa mengantarkan film ini menjadi film yang penuh makna. Semua pemain membawakan peran sekecil apapun menjadi sangat berarti. Kekuatan permainan akting yang dibantu dengan make up yang sangat baik membuat penonton mengenali karakter tokoh. Yang hebat adalah Toni Servillo sebagai Jep Gambardella yang bertindak selaku tokoh utama sekaligus otak penonton. Dia terlihat tidak memiliki karakter yang dinamis, namun pemikirannya yang dinamis sesuai dengan pengetahuan penonton seperjalanan film. Konflik dirasakan di tokoh-tokoh sekitar tokoh Jep Gambardella

Gaya penceritaan yang tidak biasa oleh Paolo Sorrentino membuat penonton hampir tidak memahami pola film di awal. Sutradara rasanya ingin menjejali penonton dengan kritik-kritik sosialnya melalui penggambaran kehidupan sosial di sekitar. Memang digarap cukup realis dengan men’cuplik’ cerita-cerita orang di sekitar tokoh utama tanpa mendetail sesuai dengan yang dirasakan tokoh utama pada cerita, sekaligus yang dirasakan penonton. Pola penceritaan seperti ini tidak universal sifatnya. Jadi, bila otak kita memaksa untuk mengikuti alur ceritanya, maka kita akan bosan karena kita sudah berasumsi. Bukan kejutan twist cerita yang kita dapatkan, tapi pemikiran tentang adegan tersebut yang dikemas secara tersirat. Jadi, otak kita akan dipaksa untuk berpikir dan memadankan dengan kehidupan sekitar kita. Dengan demikian, film ini sangat cerdas digunakan sebagai sebuah kritik sosial tanpa menggurui penonton.

Memang bila melihat dari nilai hiburan, film ini tidak menyajikan sesuatu yang ‘memanjakan penonton’ dari segi penceritaan. Penonton akan lebih memerhatikan karakter tiap tokoh dan aspek visual dari sinematografis yang disajikan hingga mampu mengalihkan perhatian pada cerita. Namun, film ini memang bukan untuk film yang bersifat hiburan. Film ini menampilkan serealis mungkin hingga seperti cerminan kehidupan biasa. Bisa menjadi bahan pertimbangan bahwa: bila kita bosan menonton film ini, apakah kita juga bosan dengan melihat kehidupan di sekitar kita pada kenyataannya? Inilah yang ingin disinggung. Kita menganggap yang terjadi di sekitar sudah biasa, padahal banyak yang bisa diperhatikan dari orang-orang di sekitar kita yang fake.

 Film ini menjadi film filosofis yang sarat akan kritik sosial. Pesan-pesan tajam yang menyinggung moral masyarakat modern menjadi fokus cerita film ini. Bila kita mencerminkan karakter-karakter di film ini pada orang di sekitar kita atau bahkan pada diri kita sendiri, maka kita film ini akan membuat kita berintrospeksi diri. Pesan cerita akan didapat bila kita tidak berusaha mencari hubungan antartokoh sepanjang film. Kita hanya perlu tahu identitas tokoh itu dan menikmati apa yang dilakukan tokoh tersebut. Dengan pikiran yang fokus pada film ini, maka kita akan mendapatkan pesan moral berkaitan dengan apakah kita juga sebegitu egoisnya seperti tokoh-tokoh yang ada di cerita ini. Sebagian orang dengan pengalaman yang dirasa banyak cenderung akan “merasa ahli” dari pengalamannya sehingga melakukan sesuatu karena “pikiran kita yang mengatakan kita yang lebih tahu” bukan karena “hati kita yang mengarahkan kita bertindak”. Beberapa golongan dikritik kehidupannya di sini. Kaum sosialita yang bersenang-senang biar menunjukkan statusnya, bukan karena hatinya yang ingin berpesta. Kaum seniman yang berkarya bukan lagi dari hati dan imajinasinya, tapi berlandaskan ideologi absurd yang hanya dia sendiri yang memahami agar orang yakin dia seniman hebat. Kaum agamawan yang mengagung-agungkan seseorang karena eksistensi dari kehadirannya yang terasa, bukan karena hatinya yang memang ingin memuja. Oleh karena itu, in a simple way, film ini ingin menyinggung bahwa “semua orang itu fake di setiap tindakannya.” 

At least, sepusing-pusingnya menonton film ini, yang paling bisa dinikmati sama semua orang adalah pengambilan gambar yang dinamis dan berwarna. Detail yang dimaksimalkan di dalam gambar membuat penonton terasa berada di dalam frame. Kekuatan make up dan kostum serta properti yang menguatkan suasana film tersampaikan dengan baik ke mata penonton. Shot yang rapi terlihat dari setiap frame.

Pemain: Toni Servillo, Carlo Verdone, Sabrina Ferilli, Carlo Buccirosso, Serena Grandi.

Sutradara : Paolo Sorrentino

Produser : Francesca Cima, Nicola Giuliano

Produksi : Indigo Film, Medusa Film, Babe Film, Pathé, France 2 Cinéma

Tahun : 2013

greatbeauty02

Akting : bintang 9 stgh

Harmonisasi film : bintang 5

Hiburan : bintang 4

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 10

 ————————————————————-

Overall: bintangall 8( 7.7 )

– DJD–

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under G

THE FIGHTER

THE FIGHTER

 

Micky Ward (Mark Wahlberg) adalah harapan keluarga Ward untuk menjadi petinju profesional yang dapat menjadi kebanggaan. Untuk itu, Micky dilatih oleh kakaknya, Dicky Eklund (Christian Bale), yang merupakan mantan atlet tinju, tapi sekarang terjebak pada kecanduan alkohol dan narkotika. Kehidupa keluarga ini tidak ada masalah hingga muncul Charlene Fleming (Amy Adams) yang seakan menyadarkan bahwa Micky semacam menjadi robot keluarga Ward yang terlalu diatur oleh kakak dan ibunya (Melissa Leo). Konflik antarpribadi pun terjadi dan Micky yang harus mengendalikan konflik itu agar dapat berjalan dengan baik.

Salah satu nominasi film terbaik pada Oscar 2011 ini menghadirkan pemain-pemain dengan akting yang luar biasa. Tidak heran bila melihat hasil bahwa Melissa Leo dan Christian Bale mendapatkan penghargaan di banyak festival film. Akting mereka yang total dan juga pembawaan karakter yang membuat mereka tampak berbeda dari beberapa film mereka yang lain. Tidak hanya mereka berdua yang berakting hebat, tetapi juga Mark Wahlberg dan Amy Adams menunjukkan totalitas mereka dengan menyeimbangkan porsi mereka yang menjadi peran penting dalam perubahan karakter Micky. 

Sutradara membuat film ini seakan-akan film semi-dokumenter karena memang berdasarkan kisah nyata dengan mengawali dan mengakhiri adegan dengan interview Micky dan Dicky. Penonton dapat terbawa pada genre drama yang tidak menggambarkan konflik kehidupan sehari-hari. Editing film ini pun tidak merusak pesan yang akan disampaikan. Penonton tetap dapat meruntut sendiri kejadian demi kejadian hingga memahami apa dasar konflik dari film ini.

Film ini mampu membawa suasana konflik dalam film terasa pada penonton sehingga penonton dapat merasa ‘geregetan’ seperti di dalam film. Film ini dapat dinikmati oleh banyak orang, tidak hanya terpaku pada penonton yang menggemari tinju saja. Rasa haru, sedih, senang, dan puas dapat dirasakan oleh penonton. Cerita yang terinspirasi dari kisah nyata ini benar-benar terasa dekat dengan kehidupan semua orang.

Jalan cerita film ini dapat dipahami penonton dengan baik. Alur yang cenderung kronologis membuat penonton mudah untuk memahami hubungan antara satu adegan dengan adegan lain. Yang hebat dari film ini adalah, penyampaian pesan yang dapat dipetik penonton bersumber dari kekuatan pembawaan karakter setiap pemain. Penonton diajak memahami peran setiap tokoh dalam film ini, sehingga penonton akam mengerti perasaan setiap tokoh pada konflik personal maupun konflik antartokoh yang terjadi. Penonton akan berpikir “Kalau saya jadi si … mungkin akan melakukan hal yang sama.” Diharapkan penonton dapat lebih bijaksana menghadapi orang lain karena setiap orang memiliki idealisme sendiri-sendiri yang diyakini benar oleh pribadi masing-masing.

Film dengan sinematografi cukup baik untuk film yang terinspirasi dari kisah nyata. “Warna” film yang sama sepanjang film sedikit membuat penonton bosan dan kurang dapat menerima klimaks dari film ini. Hal ini menjadi baik karena tema dasar dari film ini yaitu membuat se-nyata mungkin, sehingga terasa seperti kejadian sehari-hari. Kesan itu sangat bisa diterima oleh penonton. 

Pemain: Mark Wahlberg, Christian Bale, Amy Adams, Melissa Leo, Mickey O’Keefe, Jack McGee

Sutradara : David O. Russell

Produser : Dorothy Aufiero, David Hoberman, Ryan Kavanugh, Todd Lieberman, Paul Tamasy, Mark Wahlberg

Produksi : Closest to the Hole Productions, Fighter, Mandeville Films

Tahun : 2010

 

Akting : 

Harmonisasi film : 

Hiburan : 

Pesan : 

Sinematografi : 

 ————————————————————-

Overall: ( 7.5 )

-DJD/@kritikpenonton

Leave a comment

Filed under F

BLACK SWAN

BLACK SWAN

 

Nina Sayers (Natalie Portman) memiliki kecintaan yang luar biasa pada balet. Rasa cinta ini seakan diturunkan oleh ibunya, Erica (Barbara Hershey), yang merupakan mantan balerina. Suatu ketika, Nina terobsesi pada pementasan Swan Lake yang akan digelar, sehingga dia berniat untuk meraih peran utama di pementasan tersebut. Dia pun akhirnya mendapatkan peran tersebut. Masalahnya, peran tersebut merupakan cita-cita hampir semua balerina untuk memperlihatkan skill mereka. Nina khawatir perannya akan direbut orang lain. Menjelang pementasan, ternyata Nina dijebak oleh temannya, Lily (Mila Kunis), sehingga Lily pun menjadi cadangan utama untuk menggantikan Nina. Kesempatan Nina untuk memerankan White Swan dan Black Swan dalam pementasan itu pun menjadi terancam.

Berbagai penghargaan yang ditujukan untuk Natalie Portman sebagai aktris terbaik membanjiri prestasi film ini. Hasilnya, memang Natalie Portman bermain luar biasa. Portman sukses memerankan tokoh yang memiliki keterbelakangan yang menghantui untuk mencapai obsesinya tersebut. Perubahan karakter yang terlihat di pertengahan film sangat mengejutkan penonton. Begitu pula tekanan yang dialami Nina di akhir cerita. Penonton akan terpaku dengan karakter ini. Walaupun fokus film ini lebih terarah pada Natalie Portman, kehebatan akting tidak hanya dikerahkan oleh Natalie Portman saja. Semua pemain pendukung termasuk Mila Kunis, Barbara Hershey, Vincent Cassel, dan Winona Ryder pun sangat sempurna. Semua pemain mendukung misteri yang dibentuk dalam film ini.

Keharmonisan film ini terbentuk dari misteri yang dibentuknya. Penonton yang belum mendapat “bocoran” mengenai film ini akan mengharapkan film drama sederhana mengenai seorang balerina. Hasilnya pun itu yang diterima penonton ketika menikmati filmnya walaupun berkesan “black” dari awal. Kejutan-kejutan mengenai jalan cerita film ini pun memang sengaja membuat penonton bertanya hingga akhir film yang mampu menjawab semuanya. Sutradara dan tim editing film ini memang perlu diacungi jempol karena sangat apik membuat “puzzle” yang cukup memutar otak penonton.

Film ini sangat menghibur. Hiburan dalam film ini bukanlah dari drama yang dibentuk, yang biasanya berhubungan dengan rasa haru, lucu, seram,dll, tetapi hiburannya justru dari teka-teki yang memancing penonton untuk melihat jawabannya di akhir cerita. Dengan kata lain, film ini membuat penonton penasaran dan seakan ‘harus’ menyelsaikannya sampai akhir. Penonton tidak merasa bosan karena kekuatan akting pemain-pemainnya mengantarkan interpretasi penonton untuk menafsirkannya di setiap adegan untuk mencapai asumsi penonton yang dapat berbeda-beda.

Pesan dari jalannya cerita dapat diterima penonton pada akhirnya. Sepanjang film penonton akan menebak-nebak sendiri. Hal ini menjadi baik karena penonton dapat menemukan jawabannya bila mengikuti alurnya walaupun mungkin berpotensi untuk adanya perbedaan persepsi dari satu penonton dengan penonton lainnya. Pesan moral yang dikandung film ini pun mungkin tidak menjadi perhatian utama penonton. Akan tetapi, sebagian baiknya film ini adalah menyiratkan pesan moral itu untuk ditemukan oleh penonton dari dialog, setting, atau ide ceritanya itu sendiri. Tak heran bila ingin menerima pesan moral dari film ini harus memerhatikan dengan seksama setiap adegan atau mungkin harus menonton berkali-kali.

Aspek visual dan audio dari film ini mendukung suasana ‘suram’ yang dibentuk sepanjang film. Fokus pada tokoh Nina terbentuk dengan setting, pergerakan kamera, permainan kamera yang sangat baik. Permainan efek visual pada beberapa adegan juga dapat menguatkan tujuan film ini. Semua jalannya cerita yang tidak mengeluarkan teka-teki di benak penonton disebabkan oleh teknik pengambilan gambar dari film ini dan semua itu dikemas dengan sempurna oleh film ini.

Pemain: Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel, Barbara Hershey, Winona Ryder

Sutradara : Darren Aronofsky

Produser : Scott Franklin, Mike Medavoy, Arnold Messer, Brian Olivier

Produksi : Fox Searchlight Pictures, Protozoa Pictures, Phoenix Pictures

Tahun : 2010

 

Akting : ( 9 )

Harmonisasi film : ( 8 )

Hiburan : ( 7.5 )

Pesan : ( 8 )

Sinematografi : ( 9 )

 ————————————————————-

Overall: ( 8.3 )

-DJD- /@kritikpenonton

Leave a comment

Filed under B

PINTU TERLARANG

PINTU TERLARANG


Cerita diawali dari pengenalan sosok Gambir (Fachri Albar) yang meniti karir sebagai seniman (pematung). Banyak orang yang mengagumi karya Gambir karena dianggap memiliki jiwa di dalam patung-patungnya. Memang ternyata ada misteri dibalik pembuatan patung oleh Gambir. Orang yang berperan pada awal mula misteri karya Gambir ini adalah pacarnya, Talyda (Marsha Timothy), yang kemudian menjadi istri Gambir. Kehidupan Gambir penuh konflik. Tidak hanya dalam karirnya, Gambir juga memiliki masalah pada banyak hal. Semua masalah ini memiliki benang merah pada kehidupan masa kecil Gambir yang akhirnya menjadi jawaban dari segalanya.

Akting pemain dalam film ini tergolong baik. Semua pemain terlihat bermain dengan sepenuh hati. Secara teknik, setiap pemain membawakan perannya dengan karakter masing-masing. Akan tetapi, ada beberapa detail dari akting pemain yang sedikit mengganggu jalannya cerita. Marsha Timothy memang berakting baik, tetapi kesan ‘mengikuti instruksi sutradara’ terasa di hampir setiap kemunculannya. Ada penjiwaan yang sesekali tidak terasa. Contoh dapat terlihat pada Spoiler Alert [1]. Selain itu, beberapa pemain memiliki perubahan karakter yang seakan memang menjadi tuntutan cerita ini. Namun, hal ini tidak terlalu terasa pada Marsha Timothy pada adegan akhir (lihat Spoiler Alert [2]). Kelebihan Marsha Timothy dalam film ini adalah kemampuan aktingnya yang rapi dan mampu menyampaikan pesan film dengan baik.

Two thumbs up untuk ide cerita yang sangat hebat baik dari versi asli dalam novel maupun ide tambahan dalam adapatasinya ke dalam film. Tema kejiwaan seperti ini sangat banyak dijumpai pada film-film festival, tapi film ini mengangkat suatu ide yang dikemas dengan pesan moral yang dalam. Kerapihan seluruh aspek film ini juga patut diacungi jempol. Kenapa? Hal pertama yang menarik perhatian adalah siasat menghindari masalah yang biasanya muncul pada sebagian besar film Indonesia, yaitu pemain figuran. Banyak film yang hanya menggunakan figuran sebagai ‘pancingan’ tapi tidak diarahkan kualitasnya. Pada film ini, Joko Anwar menggunakan figuran sebagai latar yang tidak mengganggu jalannya cerita karena peran mereka diarahkan senatural mungkin. Ada sedikit yang mengganggu yaitu seperti yang dapat dilihat pada spoiler alert [3]. Selebihnya, PERFECT! Ada beberapa detail yang sedikit menjadi pertanyaan namun kritik ini sifatnya 100% dapat didebatkan. Pertama pada sampanye yang diminum tamu-tamu galeri, sepengetahuan saya (dapat disanggah bila salah), warna sampanye lebih bening dari yang di film. Masalahnya, penonton dengan pengetahuan seperti itu, seakan sampanye yang diminum dalam film seperti bir yang dituang di gelas sampanye. Kedua, Adegan yang dapat dilihat pada spoiler alert [4]. Adegan ini seperti mengambang karena hanya sedikit benang merah dengan cerita sebelum dan sesudahnya sehingga seakan-akan bila adegan ini hilang pun tidak menjadi masalah besar. Terlebih lagi, logika yang dibangun pada adegan ini agak sedikit tidak berterima (sifatnya) dan respons pemain untuk adegan ini sedikit berlebihan. Ketiga detail yang agak fatal adalah ketika salah satu pemain ekstra (tamu) mengucapkan kata “voilà” dengan pelafalan bunyi [f]. Sutradara sebaiknya memerhatikan bila menggunakan istilah asing dari bahasa apa pun. Dalam bahasa Prancis, bunyi [f] dan [v] dapat membedakan arti. Logat/aksen tidak masalah, pelafalan yang lebih berbahaya. UNTUNGNYA kata yang digunakan adalah “voilà”, tidak menjadi masalah besar, tetapi perlu diperhatikan bila berikutnya akan menyisipkan istilah asing dalam sebuah film.

Pada dasarnya film ini sangat menghibur karena dapat memancing emosi penonton dan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Jawaban dari masalah film ini pun sangat baik dan mampu menjawab dengan baik semua kegundahan yang dibangun sepanjang film.

Lepas dari hiburan yang dibangun film ini, pesan yang disampaikan dapat dinilai sempurna karena pesan film dengan jalan cerita yang unik mampu menjawab segala misteri yang dibangun. Pesan moral yang dikandungnya pun tergolong sangat banyak terutama pada penyinggungan masalah pribadi seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan orang-orang di sekitarnya. Film yang mampu membuat merenung setelah menontonnya.

Penampilan aspek visual yang dapat dikatakan sangat baik pada film Indonesia sekarang ini. Efek darah yang dibuat dan efek sadis dalam film ini membantu membangkitkan suasana. Begitu pula dengan aspek audio yang mengiringi dengan ilustrasi musik yang membangun permainan emosi penonton. Lepas dari kualitas efeknya, sinematografi film ini dapat dibilang sangat rapi dan memang dirancang untuk memancing penonton menganalisis simbol-simbol di dalamnya.

Spoiler Alerts! (Sebaiknya jangan dibaca bila belum menonton film ini)

[1] Adegan awal ketika Gambir di luar galeri dan Talyda menghampirinya, ada tamu yang baru tiba. Penjiwaan Talyda sebagai salah satu “tuan rumah” acara itu tidak terlalu terasa. Marsha lebih cenderung menampilkan sosoknya sebagai istri Gambir saja.

[2] Marsha sebagai Talyda dengan Marsha sebagai Pusparanti tidak terasa bedanya dari penjiwaan Marsha. Mungkin hal ini dapat menjadi nilai plus karena menimbulkan teka-teki pada pikiran penonton dengan menebak-nebak peran Marsha dalam film ini. Akan tetapi, bila melihat contoh Ario Bayu, walau sedikit perubahan, perbedaan peran yang dibawakan dapat terlihat, sedangkan Marsha Timothy seakan hanya tertolong dari informasi name tag dan make up yang berbeda.

[3] Adegan yang sama dengan [1], kedua pemuda yang baru tiba terlihat buru-buru untuk masuk galeri padahal yang bertemu papasan dengan mereka adalah bisa dibilang ‘yang punya acara’. Kurang ada respons yang baik dari kedua pemuda ini dan mungkin ini yang menyebabkan penjiwaan Marsha sebagai ‘tuan rumah’ juga hilang.

[4] Adegan setelah ‘pemerkosaan’ Gambir pada Talyda. Talyda jatuh, luka, lalu keduanya saling minta maaf.

Pemain: Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Otto Djauhari, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe

Sutradara: Joko Anwar

Produser : Sheila Timothy

Produksi : LifeLike Pictures

Tahun : 2009


Akting : ( 7 )

Harmonisasi film : ( 9 )

Hiburan : ( 8.5 )

Pesan : ( 10 )

Sinematografi : ( 8 )

————————————————————-

Overall: ( 8.5 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under P

THE TOURIST

THE TOURIST

Gerak-gerik Elise Clifton-Ward (Angelina Jolie) selalu diikuti oleh intel yang ingin mencari Alexander Pearce. Elise merupakan kekasih Pearce yang dipercaya oleh intel bahwa suatu saat mereka akan bertemu. Intel selalu mencurigai siapa pun yang berada di sekitar Elise karena ada kemungkinan bahwa itulah Pearce. Kondisi ini dimanfaatkan Pearce melalui suratnya pada Elise untuk menemukan satu orang di kereta untuk mengelabuhi agen-agen dari intel tersebut. Orang yang ditemukan itu adalah Frank Tupelo (Johnny Depp). Frank pun akhirnya dikejar-kejar untuk ditangkap. Perjalanan Frank yang tadinya untuk liburan menjadi terjebak dalam masalah Elise dengan intel serta mafia.

Akting pemain, terutama Angelina Jolie dan Johnny Depp terbilang stabil dari awal hingga akhir film. Tidak ada perubahan emosi yang signifikan. Kestabilan akting mereka tertolong alur cerita yang sangat mengantarkan penonton pada pengungkapan peran tokoh-tokoh tersebut. Berbeda dari versi Prancisya (“Anthony Zimmer”, 2005) yang diperankan oleh Sophie Marceau, misteri yang dibuat menjadi bukan sesuatu yang mengherankan bagi penonton mengingat peran-peran yang dimainkan Angelina Jolie pada film-film sebelumnya.

Membuat film remake dari film yang berisi misteri teka-teki akan menjadi tidak menarik bila dibuat sama persis dengan versi aslinya karena penonton yang sudah menonton film aslinya sudah tahu misteri tersebut. Inilah yang terjadi pada film ini. Sepertinya kurang bijak untuk membuat film yang mengutamakan suatu misteri berupa teka-teki dengan remake persis dari versi aslinya. Konsekuensinya, penonton menjadi bosan untuk menontonnya karena sudah tahu jawabannya dan penonton menjadi tidak perlu menonton versi aslinya karena sama persis. Perbedaannya hanya yang satu versi Hollywood dan yang lainnya versi Prancis. Versi ini lebih ‘menuntun’ penonton dari awal hingga jawabannya diberikan secara eksplisit, sedangkan versi Prancis penonton diajak untuk menebaknya sendiri. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Selayaknya film Prancis yang di-remake dengan cara Hollywood, film ini menjadi lebih menghibur. Penonton akan dengan mudah mengikuti cerita versi Hollywood karena dikemas lebih menarik dan dituntun dengan baik sehingga penonton tidak perlu berpikir keras karena akan diarahkan sepanjang cerita. Ketegangan pun lebih terasa karena menggunakan efek yang lebih canggih.

Perbedaan yang mendasar dari film versi Prancis dan Hollywood adalah penyampaian pesan. Seperti yang telah disebutkan, film Hollywood cenderung menuntun penontonnya sehingga pesan film ini pun sampai dengan baik ke penonton tanpa harus konsentrasi tinggi.

Sinematografi pun lebih baik karena menggunakan efek yang lebih canggih. Pengambilan gambar sangat jelas untuk menonjolkan sesuatu yang dipentingkan dan menjadi pengendali cerita. Sinematografi dalam film ini mampu mebangkitkan suasana ketegangan. Akan tetapi, bila melihat jajaran produser yang banyak dan melihat perkembangan Hollywood sekarang, rasanya kesan action di film ini tergolong biasa, seharusnya hal ini bisa menjadi pembeda yang sangat besar dengan versi Prancis sehingga tidak menjadi sama persis serta menjadi keunggulan tersendiri dari film ini.

Pemain: Johnny Depp, Angelina Jolie, Paul Bettany, Steven Berkoff, Timothy Dalton

Sutradara : Florian Henckel von Donnersmarck

Produser : Gary Barber, Roger Birnbaum, Jonathan Glickman, Tim Headington, Graham King

Produksi : GK Films, Spyglass Entertainment

Tahun : 2010

Akting : ( 5 )

Harmonisasi film : ( 6 )

Hiburan : ( 7 )

Pesan : ( 5.5 )

Sinematografi : ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 6.1 )

-DJD-

 

 

1 Comment

Filed under T