Category Archives: S

SABTU BERSAMA BAPAK

SABTU BERSAMA BAPAK

81da32650a9cee5c84d5c8ada86d50ec-002021600_1457426892-sabtu 

Kekhawatiran Gunawan (Abimana Aryasatya), yang tidak mampu melihat perkembangan keluarganya karena vonis dokter perihal pernyakitnya, memberikan ide untuk tetap hadir sebagai sosok ayah yang menjadi pemimpin keluarga. Gunawan merekam semua pesan yang ingin disampaikan pada anak-anaknya, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra), sebagai pengganti kehadirannya. Pesan dari ayah yang bijaksana ini menjadi bekal keluarga kecil yang bahagia untuk menjalani hidup yang penuh dengan konflik. Kehangatan Sang Ayah yang menjadi jiwa di keluarga ini membuktikan kebijaksanaan dapat hidup tanpa kehadiran fisik.

Kematangan Abimana Aryasatya untuk mengimbangi akting Ira Wibowo menjadi nilai tambah film ini. Rasa yang dibangun oleh kedua tokoh ini memperkuat emosi yang dibangun oleh cerita yang sudah menyentuh. Pada dasarnya, semua tokoh penting dalam film ini sangat kuat menyampaikan pesan dialognya membuat menjadi nilai tinggi untuk kategori akting. Semua pemain bermain sesuai porsinya. Tantangan terlihat untuk permainan emosi tanpa harus ada twisted character sepanjang cerita. Kelemahan masih dialami seperti film Indonesia pada umumnya yang menempatkan pemain figuran seakan sebagai ‘pelengkap’. Kekuatan sutradara menjadi sangat diuji ketika harus mengarahkan figuran yang terlihat tidak ‘menyatu’ dengan tokoh lainnya. Permasalahan teknis yang perlu mendapat perhatian ke depannya karena menghambat akting pemain penting dalam film bila susah membangun chemistry dengan pemain figuran. Pemain figuran masih terlihat belum mendapat porsi sebagai pemain yang profesional.

Kasus profesionalitas pemain figuran menjadi salah satu detail yang masih menjadi PR dari sutradara. Hal ini memaksa sutradara harus pintar-pintar menyiasati figuran yang aktingnya ‘belum terlatih’. Beban berat sutradara ini menjadi menumpuk ketika tim luput akan detail yang dapat mempengaruhi produksi dari sebuah cerita yang sangat kuat. Detail lain yang luput dari keharmonisan film ini adalah masalah latar waktu dan tempat yang (lagi-lagi, saya yakin) terbentur karena masalah teknis produksi. Keterbatasan produksi dengan setting luar negeri adalah kesinambungan cerita yang perlu diperhatikan dengan latar sebenarnya. Negara 4 musim memiliki durasi waktu tersendiri yang perlu disiasati bila ingin menggunakan latar waktu dengan durasi yang panjang. Keharmonisan akan menjadi masalah bila film menyebut memberikan penunjuk waktu yang tidak relevan dengan latar tempat. Namun, kekuatan film ini adalah pada tim tata rias yang mampu memberikan porsinya yang pas untuk menguatkan beberapa efek karakter dalam film.

Nilai tertinggi dalam film ini adalah bagian hiburan. Permainan emosi yang dibangun sejak film dimulai memberikan kesan tersendiri dalam 10 menit pertama film dimulai. Hal ini memberikan kesan yang sangat baik untuk film yang dapat dinikmati hingga akhir. Dinamika perasaan penonton dimainkan melalui berbagai macam adegan yang mengundang tawa, sedih, amarah, bahkan kecewa. Rasa haru yang mewarnai film ini membuat hampir semua adegan bermakna untuk dikenang.

Kekuatan pesan cerita dan pesan film yang dapat diperoleh penonton juga menjadi hadiah ketika menonton film ini. Kompleksitas masalah tokoh menjadi menarik diikuti sepanjang cerita. Hal ini dipertajam dengan pesan-pesan hidup yang dapat dijadikan pelajaran untuk menyikapi hubungan orang tua dan anak. Kebijaksanaan yang ditampilkan melalui dialog dan sikap setiap tokoh membuat film ini memiliki tempat tersendiri untuk penonton. Menurut saya, film ini sangat tepat untuk dikoleksi karena pesan-pesan indah yang dapat membawa kedamaian, terutama untuk hubungan orang tua dan anak.

Permainan warna untuk menunjukkan perbedaan zaman menjadi teknik sinematografis yang unik dalam film ini. Hal ini diperkuat dengan detail properti dan kostum yang menunjang pengambilan gambar yang cukup kompleks. Mengingat rekaman video adalah properti utama dari film ini, pengambilan gambar yang pas sebagai framing kisah yang mengharukan. Eksplorasi yang tinggi ketika menggunakan teknik yang berbeda untuk menunjukkan dimensi yang lain, seperti mimpi. Eksplorasi sinematografis yang perlu diperhatikan ketika mengambil shot eksterior di negara asing. Apalagi bila tersebut merupakan tempat yang ramai. Stock character yang terambil perlu dipertimbangkan karena berpotensi mengurangi nilai gambar. Namun, kekuatan musik memberikan nilai tambah pada aspek sinematografis yang dapat menguatkan emosi setiap adegan.

 

Pemain: Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha

Sutradara: Monty Tiwa

Produser: Ody Mulya Hidayat

Produksi: Max Pictures

Tahun: 2016

Untitled

Akting : bintang 8

Harmonisasi film : bintang 4

Hiburan : bintang 10

Pesan : bintang 9

Sinematografi : bintang 7 stgh

————————————————————-

Overall: bintangall 8( 7.7 )

 

-JD-

 

 

 

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under S

STAY WITH ME

STAY WITH ME
072986400_1442225164-boy_william

Apa konsekuensi dari sebuah ucapan janji untuk hidup bersama? Kesetiaan. Ini yang harus dihadapi oleh Boy Dimas (Boy William) dan Deyna (Ully Triani) ketika Deyna harus meninggalkan Boy untuk melanjutkan hidup di luar negeri. Berapa lama orang bisa setia dengan cinta yang tanpa kabar semenit pun? Waktu menjadi penghalang kesetiaan mereka, 6 tahun berlalu, Boy dan Deyna sudah berkeluarga dengan pasangan hidup masing-masing. Waktu pula yang mempertemukan mereka untuk menguji kesetiaan mereka dengan keadaan tersebut. Film ini memang tentang kesetiaan. Kesetiaan pada orang yang dicintai atau pada pasangan hidup yang dipilih?

Film ini menjadi cerita cinta baru yang ditawarkan Rudi Soedjarwo. Kisah yang jauh berbeda dari Ada Apa dengan Cinta? atau Tentang Dia. Bukan kisah cinta yang berjalan menuju happy ending. Kisah cinta kali ini sudah diawali dengan bahagia. Perjalanan cinta yang awalnya sudah bahagia diceritakan tidak selalu menjadi bahagia ketika banyak rintangan di dalamnya. Kekuatan dialog film ini mengantar perasaan setiap tokoh. Dialog sederhana, namun penuh rasa dapat disampaikan dengan baik oleh pemain-pemain yang terbilang baru dalam dunia film. Perkembangan emosi sangat terlihat di setiap scene, sehingga mampu mengantar penonton untuk dimainkan perasaannya. Tuntutan untuk bermain senatural mungkin yang meringankan film ini untuk dinikmati. Karakter yang sebenarnya bisa kita temui di sekeliling kita.

Film ini memiliki kesan awal sebagai film yang datar karena banyak scene yang terasa panjang. Panjangnya scene guna mengikuti pembangkitan emosi yang dirasakan setiap tokoh. Bila dipikir lebih detil, semua scene, baik yang panjang maupun yang singkat, menjadi sangat penting untuk film ini. Menurut saya, tidak ada scene yang sia-sia. Tanggung jawab besar memang ada di pemain karena film ini padat dengan perkembangan emosi tokoh dari awal hingga akhir film. Perkembangan cerita tidak terlihat signifikan, sehingga kesan datar itu muncul. Film ini mengutamakan karakter yang menjadi cerita utama. Ilustrasi musik pun berfungsi untuk membantu pembawaan emosi penonton, bukan penanda adegan berikutnya (tidak seperti pola yang sering digunakan untuk film horor atau komedi).

Dengan fokus pada tokoh dari awal hingga akhir film di dalam cerita yang terbilang sederhana ini, mungkin untuk penonton yang menginginkan nilai hiburan yang tinggi perlu menyiapkan diri untuk menikmati akting yang kuat dari pemain. Film ini tidak melakukan twist cerita yang signifikan. Kesederhanaan menjadi nilai lebih dalam film ini. Cerita sederhana yang diceritakan dengan sangat istimewa mengajak penonton untuk menikmati emosi setiap scene, bukan untuk menebak adegan berikutnya. Ini sebuah kisah perjalanan cinta, bukan misteri cinta.

Pusat film ini jadinya lebih pada pesan yang ingin disampaikan pada penonton, baik pesan cerita maupun pesan moral yang dapat diambil. Pesan cerita melalui pemain membuat penonton akan merefleksikan cerita Boy dan Deyna pada kehidupan pribadi atau kisah cinta yang diketahui di dunia nyata, sehingga penonton akan merasa dekat dengan tema cerita cinta seperti ini. Temanya sederhana: kesetiaan. Tema sederhana ini menjadi pesan yang akan dibawa penonton dalam film ini lebih. Kisah Boy dan Deyna membuat berpikir mengenai makna kesetiaan: setia pada cinta atau pada komitmen? Itu pilihan yang personal, setiap orang bebas memilih.

Satu lagi nilai tinggi dalam film ini adalah pengambilan gambar yang mengutamakan momen di setiap pembangkitan emosi tokoh. Acungan jempol diberikan untuk eksplorasi angle untuk mendapat momen secara utuh dan maksimal. Sekali lagi, pengambilan gambar yang sederhana dapat memberikan nilai yang lebih untuk memaksimalkan momen di setiap scene. Banyak pengambilan gambar yang menguatkan film ini untuk dikenang. Intinya, kesederhanaan membuat film ini bernilai.

 

Pemain: Boy William, Ully Triani, Natasha Ratulangi, Firman Subagja, Nathalie Pandoyo

Sutradara : Rudi Soedjarwo

Produser : Tyas Abiyoga, Rudi Soedjarwo, Aulia Mahariza

Produksi : IFS

Tahun : 2016

maxresdefault

Akting : bintang 8

Harmonisasi film : bintang 7 stgh

Hiburan : bintang 6

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 9

————————————————————-

Overall: bintangall 8( 8.1 )

–DJD–

 

 

Leave a comment

Filed under S

STEP UP 3D

STEP UP 3D

Luke (Rick Malambri) sebagai ketua perkumpulan penari jalanan di New York menginginkan kemajuan untuk kelompoknya. Hal ini diperlukan untuk mempertahankan tempat latihan mereka yang terancam dilelang karena ketidakmampuan Luke untuk melunasi segala hutang untuk tetap bisa menggunakan tempatnya. Dia mendapat dua anggota baru yang mampu memperkuat kelompoknya, yaitu seorang mahasiswa yang bernama Moose (Adam G. Sevani) dan seorang gadis yang memikat hatinya, Natalie (Sharni Vinson). Kekuatan ini akan diuji di turnamen tari jalanan yang berhadiah besar. Kesulitan dihadapi pada urusan kampus Moose yang tak sesuai dengan time table kelompok tari tersebut dan kisah cinta Luke­–Natalie yang berujung sebuah masalah.

Bila ingin dinilai dari sisi kekuatan akting yang dibawa oleh pemain-pemainnya, tidak menunjukkan sesuatu yang menarik perhatian. Semua bermain netral dan penjiwaan yang biasa saja. Singkatnya, kekuatan film ini tidak terletak pada akting pemainnya.

Penggarapan film ini lebih diarahkan pada efek yang digunakan untuk sensasi hiburan semata. Alur cerita menjadi tidak begitu penting karena yang penting dapat memasukkan unsur tarian yang menjadi potensi besar film ini dengan cerita yang dibilang sederhana saja. Penekanan pada unsur tarian ini sangat terasa apalagi ditambah dengan efek-efek visual yang mendukung fokus tarian.

Di bagian hiburan inilah kekuatan film ini. Dengan visual effect yang digunakan, penonton akan terbius untuk menikmatinya. Unsur tarian yang menjadi fokus utama film ini akan dengan mudah dinikmati, terutama bagi mereka yang mencintai dunia tari, khususnya street dance. Penonton akan menunggu-nunggu penampilan tarian yang disuguhkan.

Karena memang fokus utama film ini adalah ingin memperlihatkan tarian yang menjadi kekuatannya maka tidak banyak pesan yang dapat dipetik. Untuk pesan cerita filmnya tergolong sangat klise dan tidak terasa begitu penting untuk memerhatikan jalan ceritanya. Pesan yang tercapai dalam film ini adalah keberhasilan mengangkat street dance dengan efek yang maksimal.

Sesuai dengan judul filmnya yang menggunakan “3D” untuk menyebut sekuel Step Up yang ketiga ini, film ini mengoptimalkan penggunaan fasilitas tiga dimensi untuk menarik perhatian penontonnya. Dapat dikatakan penggunaan tiga dimensi dalam film ini dimanfaatkan dengan sangat baik. Penonton akan terkagum-kagum dengan efek ini seakan menonton pertunjukan tari secara langsung. Pengambilan gambar sangat terasa berguna hanya pada adegan-adegan tarian. Pada pengambilan cerita biasa, efek kamera tidak begitu diutamakan.

Pemain: Rick Malambri, Adam G. Sevani, Sharni Vinson, Joe Slaughter, Alyson Stoner

Sutradara : Jon Chu

Produser : Erik Feig, Jennifer Gibgot, Adam Shankman, Patrick Wachsberger

Produksi : Touchstone Pictures, Summit Entertainment

Tahun : 2010

Akting : ( 4 )

Harmonisasi film : ( 2 )

Hiburan : ( 5.5 )

Pesan : ( 2.5 )

Sinematografi : ( 7.5 )

————————————————————-

Overall: ( 4.3 )

-DJD-

 

 

6 Comments

Filed under S

SEX AND THE CITY 2

SEX AND THE CITY 2

Kisah empat sekawan, Carrie (Sarah Jessica Parker), Samantha (Kim Cattrall), Miranda (Cynthia Nixon), dan Charlotte (Kristin Davis), yang telah memiliki kehidupan keluarga masing-masing. Persahabatan mereka masih sangat kuat walaupun mereka memiliki kehidupan sendiri dengan masalah-masalahnya masing-masing. Pelarian dari masalah pribadi mereka diawali ketika Samantha mendapat undangan untuk mengunjungi Abu Dhabi. Samantha memenuhi persyaratan ajakan itu bila teman-temannya bisa ikut menemaninya. Dengan itu, cerita film ini didominasi oleh liburan empat sekawan ini di Abu Dhabi. Banyak pelajaran tentang hidup dan persahabatan, bahkan solusi dari masalah pribadi mereka yang dapat diperoleh dari perjalanan mereka.

Artis-artis pendukung film ini bermain dengan peran yang sederhana. Sederhana dalam arti seperti membawa karakter sehari-hari ke dalam film. Hal ini menjadi positif karena dapat menjiwai karakter lebih mudah dibanding harus menjadi karakter orang lain, mungkin tantangannya tidak seberat membawakan peran yang tidak biasa. Apalagi ditambah dengan cameo yang membawa dirinya dalam film sebagai sedikit bumbu tambahan untuk memeriahkan film. Akan tetapi, yang sedikit disayangkan adalah figuran-figuran dalam film sangat terlihat diatur gerakannya. Hal ini membuat film yang membawa peran sehari-hari terlihat kurang natural.

Bila film ini sebagai media untuk mempromosikan Abu Dhabi, sutradara dapat mempromosikan dengan baik sehingga penonton melihat semua yang positif di Abu Dhabi. Permasalahan pribadi yang dialami tokoh-tokohnya merupakan representasi masalah pada sebagian banyak orang. Ini merupakan suatu hal yang positif karena penonton dapat merujuk film ini untuk menemukan solusi. Sayangnya, cerita untuk mencapai solusi itu berkesan berlebihan sehingga penonton butuh waktu yang agak lama untuk memuaskan keinginannya.

Oleh karena itu, bagi penonton yang memiliki masalah serupa, film ini akan mendorongnya untuk menonton dari awal sampai akhir dengan rasa penasaran yang dialaminya. Sebaliknya, bagi penonton yang menganggap hal yang ada di film bukanlah suatu masalah serius atau tidak sedang dialami, film ini akan menjadi film yang membosankan dengan suguhan kemewahan yang membuai penontonnya.

Untuk menarik pesan cerita dari film ini sangat mudah karena tidak perlu berpikir keras, cukup mengikuti cerita dari awal sampai akhir tanpa harus dikomentari maka akan mengerti cerita yang berjalan selayaknya kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, untuk mengambil pesan moral dari film ini butuh konsentrasi lebih karena penyampaian pesan dapat terlewatkan karena disampaikan melalui dialog tokoh serta kejadian yang terlihat seperti peristiwa biasa. Jujur, pesan yang diberikan sebenarnya banyak dan cukup bermanfaat, tapi penyampaian agak kurang karena terbuai dengan cerita yang sangat ringan.

Pengambilan gambar tidak ada masalah banyak dalam film. Film ini tidak menggunakan efek-efek yang berlebihan agar penonton dapat merasakan film ini seperti kejadian biasa yang dapat dialami semua orang. Shot yang diambil untuk mengangkat latar sangat bekerja dengan baik. Musik yang digunakan pun sangat ringan dan sangat menghibur dan sesuai penggunaannya.

Pemain: Sarah Jessica Parker, Kim Cattrall, Cynthia Nixon, Kristin Davis, David Eigenberg

Sutradara : Michael Patrick King

Produser : Sarah Jessica Parker, Michael Patrick King, Darren Star, John Melfi

Produksi : New Line Cinema

Tahun : 2010

Akting : ( 4.5 )

Harmonisasi film : ( 3 )

Hiburan : ( 3.5 )

Pesan : ( 6 )

Sinematografi : ( 5.5 )

————————————————————-

Overall: ( 4.6 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under S

SERENDIPITY

SERENDIPITY

Cinta pada pandangan pertama. Itulah yang menjadi isu utama dalam film ini. Cerita berawal dari pertemuan tak sengaja di sebuah departement store dalam suasana menjelang Natal. Jonathan Trager (John Cusack) dan Sara Thomas (Kate Beckinsale) hendak membeli barang yang sama. Mereka berebut karena barang tersebut hanya tersedia satu saja. Jonathan yakin pertemuan tak sengaja tersebut adalah sebuah takdir, sedangkan Sara hanya menganggap pertemuan tersebut hanya kebetulan semata. Ternyata, pertemuan singkat itu membekas di hati keduanya. Untuk itu, keduanya berusaha mencari cara untuk membuktikan pertemuan tersebut adalah takdir atau memang hanyalah kebetulan di saat itu saja sehingga mengharuskan mereka hanya bisa mengenang pertemuan mereka yang hanya beberapa jam itu karena mereka berdua sebenarnya sudah mempunyai calon pasangan hidup masing-masing.

Salah satu film romantis yang cukup menyentuh walaupun dengan ide cerita yang sangat sederhana. Dikemas cukup baik walaupun bisa dibilang jalan cerita mudah ditebak. Pesan film ini cukup tersampaikan dengan apalagi untuk mereka yang meyakini love at the first sight. Akting yang cukup mendukung juga menghindari film ini dari kesan ‘film tidak bermutu’. Akan tetapi, beberapa pemain pendukung agak kurang berakting dengan baik dalam beberapa adegan. Lepas dari kekurangan film ini, Serendipity bisa dijadikan hiburan ringan bila ingin menghabiskan waktu dengan menonton film romantis. Logika cerita yang cukup berjalan dengan baik walau sulit sebenarnya bila terjadi di kehidupan nyata.

Pemain: John Cusack, Kate Beckinsale, Jeremy Piven, Molly Shannon, Eugene Levy, John Corbett, Bridget Moynahan

Sutradara: Peter Chelsom

Produser: Peter Abrams, Simon Fields, Robert L. Levy

Produksi: Miramax Films

Tahun : 2002

Akting : ( 7 )

Harmonisasi film : ( 6.5 )

Hiburan : ( 8 )

Pesan : ( 5 )

Sinematografi : ( 6.5 )

————————————————————-

Overall: ( 6.6 )

-DJD-

1 Comment

Filed under S

17 AGAIN

17 AGAIN

17-again-poster

Film ini menceritakan Mike O’Donnell (Matthew Perry) yang mengalami hidup yang buruk pada masa dewasa. Padahal, ketika dia SMA, Mike muda (Zac Efron) merupakan idola.. masa SMA inilah yang merupakan masa keemasan Mike. Dia merasa salah mengambil jalan hidup ketika lepas dari SMA: karir buruk, keluarga tidak harmonis, hidup tidak ‘berwarna’… dia ingin memperbaiki hidupnya dengan kembali ke umur 17 tahun dan memilih jalan yang benar. Akan tetapi, dia bukan kembali ke masa itu,,,melainkan hanya tubuhnya saja yang menjadi 17 tahun… kehidupan tetap berjalan maju… ternyata kehidupannya akan membaik jika dia bisa membuat keluarga yang harmonis… inilah misi utama Mike, mengutuhkan keluarganya melalui tubuhnya di masa umur 17 tahun.

Ide cerita yang menarik… ini mungkin yang sempat dipikirkan orang-orang dewasa: ingin kembali ke masa-masa remaja.. film ini merupakan film drama keluarga yang dikemas secara ‘remaja’.. tidak bisa berkomentar banyak… di akhir film cukup membuat merenung sejenak. Terutama mengingat hidup ini Cuma sekali.

yah.. akting-akting pemainnya oke.. figurannya juga mendukung. Bagus. Sinematografi tidak mengecewakan, tapi Detail agak kurang. Alur agak cepat sedikit.. bikin kurang ‘greget’.. harusnya bisa bagus.. Film ini bolehlah dikoleksi untuk orang-orang yang suka jenis film drama, terutama drama keluarga. Saya pribadi agak terganggu dengan beberapa adegan Zac Efron yang berkesan “menjual” Zac Efron-nya secara fisik saja,, bukan kualitasnya… aktingnya sih tidak masalah,, bagus,, tapi, beberapa adegan dibuat berlebihan hanya untuk ‘menjual’ Zac Efron… jadi, bagi pengggemar Zac Efron, akan puas menikmatinya di film ini…

Pemain : Zac Efron, Matthew Perry, Leslie Mann, Michelle Tratenberg, Sterling Knight, Thomas Lennon

Sutradara : Burr Steers

Produser : Adam Shankman, Jennifer Gibgot

Produksi : New Line Cinema

Tahun : 2009

Zac-Efron-in-17-Again-200-001

Akting : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 7 )

Harmonisasi film : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 5 )

Hiburan : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 8 )

Pesan : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 8 )

Sinematografi : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 6 )

————————————————————-

Overall: bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 6.8 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under S

SLUMDOG MILLIONAIRE

SLUMDOG MILLIONAIRE

2968978540_b3a8f207bc

Kisah tentang Jamal (Dev Patel) yang memenangkan acara “who wants to be a millionaire” versi India. Ketika Jamal telah mendapatkan 10 juta rupee, yang selangkah lagi mendapatkan hadiah utama sebesar 20 juta rupee, dia dituduh melakukan kecurangan. Dia dipaksa mengaku di kantor polisi. Dia dituduh curang karena Jamal berasal dari daerah slum (kumuh), sehingga berkesan bagaimana orang daerah slum yang identik dengan kebodohan bisa memenangkan kuis tersebut. Jawabannya adalah untuk memenangkan kuis tersebut tak perlu orang yang jenius. Dia bisa menjawab pertanyaan kuis tersebut karena berdasarkan pengalaman-pengalaman tragis yang pernah dia alami dari kecil. Lagipula, Jamal ikut kuis ini bukan untuk hadiahnya.

Kesan ketika selesai nonton menonton film ini: “pantes menang!” saya bingung mau memulai dari mana nilainya. Yang paling perlu untuk diacungi jempol adalah sutradaranya, Danny Boyle. Dia dapat membuat ide cerita yang sederhana ini menjadi “wow”. Dia menggarap sangat apik. Kronologis ceritanya dapat ditangkap dengan mudah walaupun alurnya maju mundur. Jadi, untuk menilai film ini bagus atau tidak, harus benar-benar menonton dari awal sampai akhir. Soalnya, sebenarnya, bila menilainya dibagi-bagi menurut unsur-unsurnya, film ini tidak cukup bagus. Komposisi yang pas dari keseluruhannyalah yang membuat film ini pantas menang di festival-festival film. Akting pemain hanya beberapa yang bagus. Hanya Dev Patel dan Anil Kapoor yang menonjol bagus. Sinematografi agak kurang, banyak pengambilan gambar yang tidak fokus, goyang. Bila dalam adegan lari atau untuk adegan yang menegangkan, pengambilan gambar seperti ini tidak masalah. Tapi, bila pada saat dialog yang posisinya diam, mengapa kamera tetap goyang? Tapi selebihnya, spot, angle semua diambil sangat bagus. Perlu diacungi jempol juga kameraman film ini untuk pengambilan beberapa adegan yang tergolong sulit. Editor! Hebat, potongan-potongan gambar antar scene sangat rapi.

Rasanya film ini seperti film dokumenter yang didramakan. Membuka mata, bisa jadi perenungan, saking terlihat real menjadi terbawa suasana. Tidak memainkan emosi penonton tapi cukup membawa suasana. Bila dicermati pesan film ini bagus walau banyak pesan yang tersirat. Jadi, perlu sedikit berpikir untuk mendapatkan pesan film ini.

Pemain: Dev Patel, Freida Pinto, Anil Kapoor, Madhur Mittal, Mahesh Manjrekar

Sutradara: Danny Boyle, Loveleen Tandan

Produser: Christian Colson

Produksi: Celador Films

Tahun : 2008

www_cinemaisdope-com1

Akting : bintangputih bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 8 )

Harmonisasi film : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 10 )

Hiburan : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 8 )

Pesan : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintang-putih-1-2( 8.5 )

Sinematografi : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintang-putih-1-2( 7.5 )

————————————————————

Overall: bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintang-putih-1-2( 8.4 )

-DJD-

2 Comments

Filed under S