Category Archives: K

KURUNG MANUK

KURUNG MANUK

 kurung manuk poster

Masa lalu Manuk (Prasajadi Heru) sangat mempengaruhi kehidupannya di saat dewasa. Ketakutan, kekecewaan, dan keprihatinan hidupnya membuatnya menjadi seorang pria kesepian yang hidup bersama kenangan dan imajinasi absurd yang dimilikinya. Kesepian di saat dewasa ditambah rasa yang dibawanya dari masa lalu membuat Manuk menjadi orang yang memiliki perhatian dan obsesi tinggi terhadap perempuan bernama Wani (Citra Lubis). Obsesi dan dendamnya menjadi seperti bom waktu yang terlihat tenang di selama prosesnya dan akan meledak di waktu yang tidak terduga.

Sebuah film dengan semangat surealis dengan memberikan gambaran imajinatif yang sangat banyak membuat film ini memiliki kekuatan tersendiri. Akting setiap pemain di dalamnya menjadi minimalis dengan porsi yang sangat pas untuk sebuah film dengan gaya ini. Sebagian besar pemain dapat mendukung gaya surealis dengan karakterisasi yang konsisten untuk menampilkan pilihan tokoh yang unik. Beratnya memainkan sebuah film dengan semangat surealis adalah dapat menginterpretasikan sebuah logika cerita yang melawan logika empiris sebagai manusia yang real. Logika cerita ini menjadi strategi untuk menggambarkan ide yang tidak terlihat secara fisik dan ingin disampaikan.

Keberanian Sigit Pradityo untuk mengangkat film dengan gaya yang surealis sangat berani mengambil risiko. Acungan jempol bisa diberikan atas usahanya untuk menggunakan sarana dan prasarana sederhana yang dimaksimalkan untuk sebuah cerita surealis imajinatif. Beberapa kendala teknis ditemukan untuk menyamakan warna film dengan setting yang diambil dalam film. Masalah lain yang didapati ketika menonton film ini adalah isu-isu yang melatari pembangunan cerita untuk digunakan sebagai kritik. Cerita utama yang mengangkat masalah sosial psikologis pribadi Manuk dengan gaya surealis diwarnai dengan adanya isu kriminal, sosial, politik, budaya di masyarakat. Masalah bukan pada porsinya, namun terasa ada lompatan ide yang memaksa penonton untuk memahami lebih dalam setiap isu yang disinggung. Menurut saya, film ini akan lebih kuat dari segi pesan dan hiburan bila fokus pada masalah psikologis Manuk dengan penggambaran imajinasi yang lebih dalam tentang masa lalu. Editing yang cukup rinci untuk menghubungkan pesan antar-scene dapat membuat film ini mengeluarkan idenya sejak awal dan dapat diikuti tanpa masalah. Film ini dapat dijadikan pembelajaran penonton untuk menikmati sebuah film dengan semangat surealis.

Film ini memiliki nilai hiburan yang terbatas pada penikmatnya. Bila belum terbiasa dengan film yang memiliki semangat surealis, logika empiris kita akan membatasi semua efek sinematografis yang diberikan. Perlu ada kepekaan pada inti cerita dan menerima segala suguhan surealis dari gambar. Film ini cukup menghibur mengingat beberapa gaya surealisnya dapat menjadi memori khusus pada penonton merujuk sebuah pesan psikologis tokoh. Hambatannya ada pada keterbatasan penyeragaman warna antara dunia nyata dan dunia imajinatif. Ada hambatan pula pada pengaturan setting mengingat setting yang digunakan adalah lokasi nyata yang ada di ‘lapangan’, bukan studio.

Kekuatan terbesar film ini adalah pada pesan yang tersirat di dalam penceritaan surealis yang disajikan. Pesan ini digunakan sebagai refleksi masalah psikologis tokoh. Setiap penggambaran imajinasi yang ditampilkan dapat dikaitkan dengan keadaan psikologis setiap tokoh yang dipengaruhi masa lalu, emosi, keadaan sosial, maupun tekanan lingkungan di sekitarnya. Refleksi ini dapat dijadikan renungan penonton untuk mempertanyakan hal yang filosofis mengenai beberapa hal yang mendasar atau dianggap tabu karena bertentangan dengan norma yang ada. Dengan kata lain, pesan film ini justru mengarahkan penonton pada eksistensi tokoh dilihat sebagai individu yang pasif secara sosial, namun aktif dalam pemikirannya. Penyampaian pesan yang baik dalam sebuah film bergaya surealis. Kritik yang dibangun dalam film ini juga dapat menyatu dengan berlangsungnya cerita. Pesan mengenai tema kesepian, dendam, dan memori masa lalu menjadi kompleks dengan isu di masyarakat, seperti kekuasaan, kriminal, kritik politik, kemiskinan masyarakat, dan kesenjangan sosial.

Pengambilan gambar yang sederhana, namun cukup jeli untuk mengambil angle yang efektif setiap scene mampu memperlihatkan identitas film ini. Animasi yang unik mampu menjadi ciri khas film ini dan dapat menjadi unsur yang memorable. Scoring music dapat mendukung setiap adegan yang diperlukan. Sayangnya, warna film yang terbilang khas mendapat benturan dengan masalah persiapan setting. Latar interior terasa lebih bebas untuk penataan dibandingkan latar eksterior. Kendala ini yang memberikan perbedaan warna setting dan mengurangi esensi surealis. Harapan pada perkembangan film Indonesia surealis dapat dimulai dari kehadiran film seperti Kurung Manuk.

 

Pemain: Prasajadi Heru, Rhoald Marcellius, Ari Satria, Osh Indah, Citra Lubis

Sutradara : Sigit Pradityo

Produser : Sigit Pradityo

Produksi : Mercusuar Production

Tahun : 2016

kurung manuk

Akting : bintang 7 stgh

Harmonisasi film : bintang 6 stgh

Hiburan : bintang 6

Pesan : bintang 8 stgh

Sinematografi : bintang 6 stgh

————————————————————-

Overall: bintangall 7( 7 )

 

-JD-

 

 

 

 

3 Comments

Filed under K

KABAYAN JADI MILYUNER

KABAYAN JADI MILYUNER

Kabayan (Jamie Aditya) merupakan pemuda baik hati nan jujur yang disegani di masyarakat Sunda. Kesetiaan Kabayan pada pesantren yang dipimpin Ustadz Soleh tidak tergoyahkan walaupun dijanjikan harta yang banyak oleh Bos Rocky (Christian Sugiono) yang ingin menghancurkan pesantren itu untuk dibangun sebuah resort mewah. Akan tetapi, kesetian ini seakan dikalahkan oleh kehadiran Iteung (Rianti Cartwright) yang membuat Kabayan seperti kehilangan akal sehatnya karena dimabuk asmara. Pesantren As-Salam pun menjadi terancam. Kabayan bertekad merantau ke Jakarta, berusaha mencari cara untuk menyelamatkan pesantren sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Akting secara pribadi pemain tidak ada masalah sepanjang cerita. Suasana masyarakat Sunda sangat terasa dengan peran, terutama dialog dan dialek, yang terkesan sangat kental. Yang disayangkan adalah arahan akting pemain yang terasa dipaksakan sehingga lebih terasa pemain sebagai robot yang jalan masing-masing. Yang disayangkan lagi dan paling sering terjadi pada beberapa film Indonesia adalah FIGURAN yang tidak diperhatikan untuk diarahkan. Kekuatan akting pada sebuah film tidak hanya diperuntukkan untuk pemain utama saja. Pemain figuran pun memiliki andil untuk membangkitkan suasana. Spoiler alerts! Salah satu adegan figuran yang paling mengganggu adalah pekerja valet yang senyum (hampir tertawa) ketika mobil pelanggannya dicuri.

Harmonisasi film ini yang perlu banyak koreksi agar menjadi lebih pada film-film mendatang. Pemenggalan adegan per adegan berkesan diburu-buru durasi, sehingga pemotongannya tidak rapi dan terasa ada banyak lompatan ide antara satu adegan ke adegan lain. Penulis naskah ingin memadatkan segala informasi tentang Kabayan (mulai dari percintaan Kabayan–Iteung, tantangan Abah untuk mendapatkan Iteung, dan jin sebagai pelengkap identitas Kabayan dari film terdahulu). Semua ini agar figur Kabayan yang sudah ada di benak penonton tidak rusak, tetapi ia juga ingin memasukkan unsur-unsur zaman sekarang pada cerita Kabayan itu, ditambah ia ingin menyindir masalah sosial dan politik yang sedang terjadi sekarang ini. Semua keinginan yang banyak ini dipadatkan pada satu cerita yang berdurasi tergolong singkat. Hasilnya, penonton kurang bisa menangkap idenya. Sutradara pun harus lebih teliti pada detail yang mungkin dimaksudkan untuk menghibur, tetapi tidak dapat diterima pada logika cerita yang dibangun. Film imajinatif pun punya logikanya sendiri. Contoh: Spoiler alerts! Ketika Armasan mencari Kabayan di dalam gua, dia menggunakan lampu petromaks. Kenapa tidak pakai senter? Apa alasannya karena di desa susah cari baterai? Tapi kok ada kamera digital?! Logika yang ditanyakan: film ini mau menunjukkan desa yang sudah mulai masuk dunia modern atau tidak (ada kamera digital tapi tidak ada senter)? Contoh lain, blue print rencana pembangunan resort ‘yang asli’ oleh Rocky dipampang lebar-lebar di kantornya. Masalahnya, bukankah itu harusnya sebuah rahasia? Rasanya setiap orang bila punya rahasia yang bisa menghancurkan rencananya, ia akan menjaga baik-baik rahasia itu. Masih banyak detail yang harus diperhatikan dalam film ini. Semoga bisa lebih baik di film mendatang. Kemajuan perfilman Indonesia tetap diharapkan di tangan sineas-sineas Indonesia. Tetaplah berkarya!

Film ini bertujuan untuk menghibur penonton dengan suguhan sesosok figur yang telah dikenal di masyarakat sehingga penonton sudah tahu watak para tokoh secara garis besar. Akan tetapi, karena terlalu banyak yang ingin disampaikan pada penonton, penonton pun tidak dapat menikmati satu per satu lelucon secara maksimal. Hiburan diperoleh dari karakter yang dibawakan oleh pemain seperti Jamie Aditya, Amink, Meriam Bellina, dan Melly Goeslaw.

Kembali pada pemadatan yang campur aduk di dalam film ini, pesan film ini tidak tersampaikan dengan baik. Penonton mengerti masalah di dalam cerita hingga akhir yang bahagia karena tergolong cerita sederhana dan klise, tapi kesederhanaan ini tidak menghasilkan apa-apa. Salah satu pesan yang terdapat dalam film adalah kritikan berupa sindiran pada kritik sosial di masyarakat dan pada pemerintah. Akan tetapi, kritikan ini hanya berupa sindiran semata yang sebenarnya kritikan ini sudah ada di pikiran penonton. Jadi, sindiran di film ini hanya ‘memvisualisasikan’ kritikan yang ada di otak penonton. Tidak heran bila sepanjang film penonton akan berceloteh “iya tuh, emang kayak gitu.” Tapi, apa hasilnya? Tidak ada solusi, tidak ada semacam utopia yang dapat membangkitkan imajinasi penonton agar tidak hanya sekadar bisa mengkritik saja.

Pada awalnya, sinematografi film ini lah yang mampu mengangkat nilai film ini. Pengambilan gambar yang tidak mengganggu serta menggunakan fokus dengan membuat benda sekelilingnya menjadi blur. Begitu pula dengan pengambilan gambar yang memanfaatkan keindahan alam Indonesia dengan baik. Akan tetapi, sinematografi mulai terganggu ketika mulai menggunakan komputerisasi yang sederhana. Tolong diperhatikan bagian ini Spoiler alerts! Terutama adegan yang berhubungan dengan jin dan poster, spanduk, baliho “Kabayan dan Nyi Iteung” yang ada di gedung-gedung, serta adegan terbang. Mungkin komputerisasi dalam perfilman Indonesia masih tertinggal dan merupakan sebuah kelemahan perfilman Indonesia, tapi bila ingin menggunakan konsep “menggunakan kelemahan sebagai kekuatan” berarti harus berusaha lebih untuk menerapkannya di film mendatang. Pencahayaan juga mengarah ke luar logika Spoiler alerts! Terutama ketika Armasan masuk ke dalam gua. Pada saat mencari Kabayan, cahaya lampu petromaks terlihat pas dengan suasana gelapnya. Ketika bertemu, cahayanya terang benderang menerangi seisi gua, ditambah ada cahaya dari luar yang terlihat terang. Jadi sebenarnya pencarian ke dalam gua itu masih dekat dengan luar gua atau sudah masuk jauh ke dalam karena Armasan sudah masuk susah-susah ke dalam gua dan berkesan masuk sangat dalam. Intinya, mau pakai logika yang mana? Begitu pula dengan musik. Kekuatan musik Anto Hoed dan Melly Goeslaw tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang disayangkan adalah pemanfaatan potensi ini yang kurang baik. Musik sangat pas menyertai suasana dalam film. Kembali pada pemenggalan adegan yang tidak rapi sehingga potongan musik hanya terdengar intro dan sedikit bagian awal lagu. Ini bukan masalah sebenarnya, masalahnya adalah adegan yang memiliki metode ini banyak sekali sehingga lagu yang kuat ini menjadi lemah karena diulang berkali-kali dengan pemotongan yang hampir sama di adegan-adegan yang suasananya serupa jadi membuat lagu ini hanya untuk mengiringi saja sifatnya.

Pemain: Jamie Aditya, Rianti Cartwright, Amink, Christian Sugiono, Slamet Rahardjo, Didi Petet, Meriam Belina

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produser : Chand Parvez Servia

Produksi : Starvision

Tahun : 2010

Akting : ( 4.5 )

Harmonisasi film : ( 1 )

Hiburan : ( 4 )

Pesan : ( 4 )

Sinematografi : ( 4.5 )

————————————————————-

Overall: ( 3.6 )

-DJD-

 

 

4 Comments

Filed under K

KNIGHT AND DAY

KNIGHT AND DAY

Pertemuan tak disengaja antara Roy Miller (Tom Cruise) dan June Havens (Cameron Diaz) membuka petualangan baru bagi June khususnya. June, seorang gadis biasa yang ingin melakukan perjalanan untuk bertemu keluarga harus terjebak dalam situasi tak diharapkan sejak pertemuan itu. Ia tidak menyangka ternyata Roy memiliki masalah dengan agen-agen rahasia dan karena pertemuan itu June harus masuk di dalamnya dan tak bisa keluar. Diawali dengan June dikejar-kejar dan selalu diselamatkan oleh Roy, padahal June tidak tahu Roy itu ada di pihak mana. Dengan kata lain June harus segera berperilaku seperti agen-agen rahasia pada umumnya, yang cerdik, tenang, melakukan aksi-aksi berbahaya agar bisa bertahan hidup.

Pasangan Cruise – Diaz ingin menciptakan suasana seperti “Mr & Mrs. Smith” dengan Action Comedy yang menyegarkan. Cruise bermain dengan gayanya yang cool sehingga sulit untuk menebak karakter Miller sesungguhnya. Hal ini sangat baik karena karakter Miller yang misterius itulah yang menjadi tujuan film ini. Akting yang baik dilakukan Cruise adalah dia tidak selalu berakting cool, tetapi juga diselingi ketika dia panik karena ada kejadian yang terjadi di luar rencananya dan kekhawatiran yang dimunculkan pada beberapa adegan. Begitu pula dengan Diaz, perubahan karakternya tidak berkesan dibuat-buat sehingga penonton dapat mengerti perubahan karakter yang terjadi. Tampilan “from zero to hero” yang dimainkan Diaz dalam tokoh June juga perlu dipuji.

Bila ingin ditinjau dari penyutradaraan yang mampu membawa harmonisasi dalam film, “Knight and Day” hanya dapat dipuji dari hiburan yang diberikan. Sutradara terlihat sangat ingin memasukkan unsur action dalam film ini, tetapi jatuhnya jadi berlebihan. Untungnya aksi-aksi laga itu diselingi dengan komedi-komedi segar yang dapat menetralkan suasana ketika penonton sudah jenuh dengan aksi laga yang ada.

Untuk penonton yang suka akan film-film yang berjenis action-comedy mungkin akan terhibur dengan film ini karena aksi-aksi laga dan komedi baik dalam bentuk tindakan maupun permainan kata yang ditampilkan. Akan tetapi untuk aksi laga akan merasa jenuh karena aksi laga yang disajikan berkesan terlalu banyak dan semakin lama semakin di luar logika, walaupun logika itu dibentuk dari imajinasi film itu sendiri.

Oleh karena itu, segala pesan kurang tersampaikan dengan baik. Penonton dapat mengerti ceritanya, tapi tetap sulit untuk dimengerti alur kesinambungan antar adegan untuk sampai pada cerita yang dimaksud. Begitu pula pesan-pesan yang dapat diambil untuk penonton. Pesan moral yang dikandung berkesan sangat umum mungkin karena film ini lebih mengutamakan sisi hiburannya saja.

Bila ingin disangkutpautkan, hiburan dalam film ini bisa dirasakan berkat adanya visual effect yang beraneka ragam walaupun tidak sesempurna beberapa film lainnya. Tidak mengecewakan dan tidak mengesankan untuk visual effectnya. Suara juga berpengaruh untuk mendukung suasana aksi laga yang dilakukan.

Pemain: Tom Cruise, Cameron Diaz, Peter Sarsgaard, Jordi Mollà

Sutradara : James Mangold

Produser : Todd Gamer, Cathy Konrad, Steve Pink

Produksi : New Regency Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 7 )

Harmonisasi film : ( 3 )

Hiburan : ( 8 )

Pesan : ( 4 )

Sinematografi : ( 6.5 )

————————————————————-

Overall: ( 5.7 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under K

KARATE KID (2010)

KARATE KID

Dre Parker (Jaden Smith), seorang anak berusia 12 tahun yang harus ikut ibunya (Taraji P. Henson) untuk pindah dari Detroit ke Cina karena penugasan ibunya untuk bekerja. Sebagai anak Amerika, Dre mengalami kesulitan dengan masalah budaya karena bahasa yang berbeda. Masalah Dre di Cina semakin besar sejak bertemu dengan Cheng (Zhenwei Wang). Dre tidak bisa menghadapinya karena anak itu menguasai Kung Fu yang tergolong dalam tingakatan yang sudah tinggi. Masalah ini seakan-akan memaksa Dre untuk harus bisa menguasai ilmu bela diri untuk melawan Cheng. Akhirnya seorang tukang reparasi alat-alat rumah tangga, Mr. Han (Jackie Chan) membantu Dre untuk memahami makna Kung Fu yang sebenarnya seiring dengan membantu Dre untuk menguasai Kung Fu.

Kualitas akting Jackie Chan di Hollywood layak dihormati mengingat pengalaman Jackie Chan dengan jam terbang yang banyak di dunia film. Dalam film ini, Jackie menampilkan karakter yang sedikit berbeda, dia berkesan serius (tidak konyol seperti yang biasa ia mainkan). Dengan ini, Jackie membuktikan kehebatan aktingnya dengan peran yang lebih serius. Begitu pula dengan aktor cilik, Jaden Smith yang patut diacungi jempol untuk aktingnya yang memainkan beberapa emosi dalam satu tokoh. Bila ingin disejajarkan kualitas akting Jaden Smith, dapat dibandingkan dengan ayahnya, Will Smith. Untuk Taraji P. Henson, akting sederhana yang dimainkannya mampu mewarnai film ini. Walaupun tantangan aktingnya tidak seberat tokoh yang ia mainkan dalam “The Curious Case of Benjamin Button”, bermain sebagus dalam film itu. Akan tetapi, untuk pemain Mandarin lainnya kurang mendominasi dan kurang bisa disandingkan dengan ketiga artis tersebut sehingga karakter pemain pendukung lainnya terlihat datar sepanjang film.

Kualitas akting yang baik menutupi cerita yang sangat sederhana. Semua pasti setuju kalau film ini tergolong film yang ending-nya mudah ditebak dari awal. Yang menjadi perhatian dalam film seperti ini adalah: Bagaimana sutradara mengantar penonton untuk mencapai ending yang sudah dapat ditebak? Dalam film ini, sutradara menggarap dengan baik melalui pangaturan tokoh, lelucon yang digunakan, effect, dan scoring yang digunakan. Akan tetapi, pada cerita menuju akhir berkesan diburu-buru untuk diselesaikan. Memang durasi sudah tergolong cukup panjang untuk sebuah film, tapi semua pesan, baik pesan film serta pesan moral sudah tersampaikan dengan baik dari awal hingga tengah film. Dengan begitu, kasarnya penonton sudah mendapat segala pesan tanpa harus menonton ending.

Bila membahas apakah film ini menghibur, jawaban yang benar adalah IYA. Durasi panjang yang terasa berlalu serta emosi yang dapat dirasakan penonton mewakili penilaian ini. Lelucon yang diberikan dapat mengundang tawa, ancaman serta suasana persaingan dapat pula dirasakan. Untuk itu, Karate Kid dapat direkomendasikan untuk penonton yang menginginkan hiburan dalam sebuah film.

Pesan yang disampaikan melalui film ini menjadi faktor penting juga untuk film sederhana seperti ini, terutama pesan moral yang berguna bagi penonton. Masalahnya, bila film sederhana seperti ini dapat dipastikan pesan mengenai cerita (alur) film akan sampai ke penonton dengan baik bahkan sudah dapat dibayangkan alurnya lebih dulu sebelum filmnya selesai, maka pesan moral dalam film berguna untuk membuat film ringan ini menjadi bermanfaat. Bila melihat hal tersebut, usaha penyampaian pesan moral tersebut dapat diterima dengan baik melalui dialog antar tokoh.

Sinematografi yang terlihat dominan dalam film ini adalah penekanan effect terutama pada adegan-adegan berkelahi untuk menonjolkan Kung Fu yang ada. Selain itu, hal yang sangat membantu membawa suasana adalah scoring yang digunakan untuk membangkitkan emosi penonton. Pengambilan sudut pandang kamera tidak terlalu spesial, tetapi tetap mendukung pada beberapa adegan.

Pemain: Jaden Smith, Jackie Chan, Taraji P. Henson, Zhenwei Wang

Sutradara : Harald Zwart

Produser : Will Smith, Jerry Weintraub, Jada Pinkett Smith, James Lassiter, Ken Stovits

Produksi : Columbia Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 8.5 )

Harmonisasi film : ( 4 )

Hiburan : ( 7 )

Pesan : ( 7.5 )

Sinematografi : ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 6.8 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under K

KETIKA CINTA BERTASBIH

KETIKA CINTA BERTASBIH

kcb

Film yang bercerita tentang kehidupan anak-anak muda Indonesia yang menuntut ilmu di Kairo, Mesir. Cerita tentang Khairul Azzam yang memegang teguh ajaran-ajaran Islam dan menjadikannya sebagai prinsip hidupnya. Dengan prinsip inilah Azzam berusaha untuk menemukan jodohnya. Kisah ini juga dilengkapi dengan kehidupan percintaan teman-teman Azzam.

Film ini diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy. Waa… mari kita lihat satu per satu poin. Untuk akting, tidak perlu diragukan karena menggunakan artis-artis ternama sebagai beberapa tokoh di dalam film ini sebut saja misalnya Deddy Mizwar, Didi Petet, dan sebagainya. Untuk pemeran utama, menggunakan artis-artis baru yang diperoleh dari audisi sebelumnya. Hasilnya, aktingnya bagus…. Tapi,,, untuk beberapa pemain pendatang baru terasa membawakan dialog seperti di dalam teater. Ini bukan hal buruk, hanya saja pengaplikasian dialog yang ada terkesan kaku bila di film. Sekali lagi, hal ini tidak mengganggu, tapi mungkin kalau di dalam teater akan lebih cocok untuk penguasaan skenario semacam itu.. tidak salah sih bila digunakan juga dalam film.. mungkin bisa diambil contoh bagus Didi Petet. Didi Petet seorang pemain teater sekaligus pemain film.. Saya pribadi, salut dengan Didi Petet yang dapat membedakan pembawaan karakter dalam teater dengan pembawaan karakter dalam film. Satu lagi, figuran juga berperan penting, di beberapa adegan, figuran kurang mendukung suasana. Hal ini yang sedikit mengganggu. Pesan dalam film ini sangat bagus, terutama pesan-pesan religinya.

Film ini ingin membuat inovasi dengan membuat film “bersambung”, seperti film Indonesia lainnya, “In the Name of Love”. mungkin hal ini dimaksudkan untuk membuat perubahan dari film konservatif yang film selesai terbatas dengan durasi sekitar 1,5 jam – 2 jam. Mungkin juga memang karena disesuaikan dengan novelnya. Saya sangat menghargai film-film Indonesia dengan inovasi semacam ini, dengan membuat film “bersambung” semacam Kill Bill.. akan tetapi, menurut saya, masyarakat Indonesia masih memiliki kebudayaan yang mengakar untuk hiburan semacam film atau teater yang datang ke tempat pertunjukan khusus (bioskop atau teater) dengan harapan keluar dari tempat pertunjukkan setelah menyaksikan cerita yang “selesai”.. karena pertimbangannya, beberapa orang ini merasa pergi ke tempat pertunjukkan khusus semacam itu harus menyediakan waktu dan biaya khusus pula. Lain halnya bila cerita bersambung tersebut bisa diperoleh di televisi yang bisa dibilang waktunya tidak perlu dikhususkan (karena masih berada di dalam rumah sehingga masih dapat mengerjakan berbagai aktivitas) dan “gratis”..

untuk pemotongan sekuel yang drastis semacam ini perlu adaptasi yang lebih dalam lagi terlebih dahulu dari penonton.. mungkin pembagian sekuel seperti Harry Potter (yang setiap sekuelnya “selesai” diceritakan) akan lebih diterima di masyarakat Indonesia sekarang ini. Solusi lain, bila sineas ingin membuat film inovatif semacam ini, sekuel pertamanya harus dibuat semenarik mungkin . Kekuatan di awal film ini haruslah sangat kuat sehingga penonton merasa perlu menonton yang berikutnya, tapi tidak rugi dengan menonton sekuel pertamanya.. jadi, banyak pesan atau hiburan yang diperoleh dari sekuel pertama.. untuk film ini bagus, pesannya cukup banyak dan bagus, akan tetapi durasi yang lama di sekuel pertama ini habis termakan di pengenalan tokoh dan beberapa adegan yang sebenarnya tidak perlu terlalu detail. Harapan besar ditaruh di sekuel kedua,,,

Pemain : Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Alice Norin, Andi Arsyil Rahman, Meyda Safira, Deddy Mizwar, Ninik L. Karim, Didi Petet, Habiburrahman El Shirazy, Aspar Paturusi, Prof.dr. Din Syamsudin, Slamet Rahardjo, El Manik

Sutradara : Chaerul Umam

Produser : Mitzy Christina, Cindy Christina

Produksi : Sinemart Pictures

Tahun : 2008

film20871

Akting : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 7 )

Harmonisasi film : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 4 )

Hiburan : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintang-putih-1-2( 4.5 )

Pesan : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 8 )

Sinematografi : bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 6 )

————————————————————

Overall: bintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputihbintangputih( 5.9 )

-DJD-

2 Comments

Filed under K