Category Archives: I

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

ISTIRAHATLAH KATA-KATA

148306729871376_300x430 

Film tentang kehidupan Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) yang menjadi buronan politik di tahun 90-an, sehingga membuatnya harus melarikan diri ke Kalimantan. Kehidupan seorang buronan politik yang menyebabkan istrinya yang tinggal di Solo, Sipon (Marissa Anita), harus hidup dalam ketidakjelasan. Entah apa yang diinginkan oleh keadaan seperti ini serta siapa yang diuntungkan?

Sebuah film politik yang dibalut dengan kemasan sinematis yang menarik. Kekuatan film ini adalah pengambilan gambar yang mengingatkan pada semangat réalisme poétique dengan memperkuat aspek latar dalam sebuah film. Gambar-gambar yang dapat memberikan pesan yang jauh lebih luas dibandingkan penjelasan verbal sangat mengilhami judul film ini. Sebuah film cerdas dengan pendekatan historis dan menyadarkan penonton tentang pahitnya kenyataan yang dikemas dengan indah.

Gunawan Maryanto dan Marissa Anita bermain sangat kuat untuk melengkapi gambar yang indah dari film ini. Pendekatan teknik akting yang teatrikal membuat pesan film ini langsung tersampaikan pada penonton. Sebuah strategi teknis yang baik untuk sebuah film yang mengangkat tema sejarah-politik. Apresiasi tinggi untuk Gunawan dan Marissa yang berakting dengan hati untuk membangun rasa setiap adegan. Sangat terlihat kepatuhan mereka untuk mengikuti sutradara sebagai sebuah kerja sama yang baik untuk keperluan gambar.

Yosep Anggi Noen berhasil mengembangkan cara klasik dengan gerakan baru untuk pengambilan gambar. Beberapa detail menjadi memiliki kekuatan tinggi yang didukung dengan komposisi framing yang tidak biasa. Gaya pengambilan gambar yang unik ini menjadi hiburan sebagai visualisasi keindahan di balik kata-kata. Sutradara berhasil menggunakan gaya yang cukup berani karena berpotensi mengambil risiko tidak dapat dinikmati oleh penonton secara luas.

Gaya yang jarang ditemukan dalam film kebanyakan ini ditutup dengan sangat baik dengan sebuah adegan yang sangat filosofis. Dari segi mise-en-scène yang cerdas sepanjang film, adegan penutup menjadi klimaks dari gaya yang ditawarkan Yosep Anggi Noen. Sayangnya, (Tapi tidak membuat film ini menjadi buruk), ketika credit title di akhir masih terdengar aspek sinematografis yang kuat (spoiler alert! : suara sapu dan isakan tangis Sipon) yang mungkin tidak dieksploitasi sisi dramatisnya dari aspek visual. Menurut saya, akan lebih dramatis ketika sepanjang credit title masih memperlihatkan gambar Sipon menyapu sambil menangis. Tidak mengikuti formula film pada umumnya: black screen untuk credit title; mengingat film ini memang sudah tidak mengikuti formula umum sebuah film komersial sejak awal.

Seperti yang telah dikatakan berdasarkan gaya film yang dipilih berpotensi tidak banyak penonton yang dapat menikmatinya. Penonton yang dapat menerima gaya film eksperimental, penonton yang memiliki ketertartikan pada detail politis-historis, dan penonton yang cinta pada karya sastra, khususnya puisi, dapat diperkirakan akan menikmati film ini sebagai sebuah hiburan batin yang dipuaskan. Namun, tidak sedikit penonton yang harus memutar otak bila tidak mengenal lebih dulu sosok Wiji Thukul, tidak mengenal gaya film yang berbeda dengan formula Hollywood, dan tidak menyukai pengambilan gambar dan akting yang teatrikal.

Keharmonisan antara pengambilan gambar yang eksperimental, dialog yang puitis, dan akting yang teatrikal menjadi kekuatan film ini untuk menyampaikan pesan. Inti dari setiap pesan tersampaikan dengan baik ke penonton. Namun, beberapa adegan terlihat pengarahan yang sangat teatrikal untuk fokus pada keperluan gambar, sehingga terlihat motivasi pemain hanya untuk menghidupkan adegan yang akan berlangsung. Hal ini membuat motivasi atau latar belakang pemain dari peristiwa sebelumnya tidak tersampaikan dengan baik.

Hal serupa juga tampak pada editing yang menjadi berpola dengan beberapa kali memuat perubahan scene yang mengejutkan dari latar yang gelap ke yang terang, atau sebaliknya. Pemilihan eksekusi seperti ini sebenarnya dapat bermakna filosofis dari aspek sinematografis, namun film ini terlihat kurang memberikan makna lebih dari pola yang digunakan karena berat pada alur historisnya.

Film ini menjadi film Indonesia yang baik untuk ditonton agar mendapatkan pengalaman menonton yang baru. Film ini memperlihatkan kecerdasan dan keteguhan Yosep Anggi Noen dan tim mulai dari riset historis hingga eksplorasi sinematografis yang rapi. Film ini memberikan gambaran kehidupan nyata di dalam kemasan adegan-adegan yang teatrikal.

 

Pemain: Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Eduward Manalu, Melanie Subono, Davi Yunan

Sutradara: Yosep Anggi Noen

Produser: Yulia Evina Bhara, Yosep Anggi Noen

Produksi: KawanKawan Film, Limaenam Film, Partisipasi Indonesia, Yayasan Muara

Tahun: 2016 (rilis 2017)

03-istirahat-kata2

Akting : bintang 7

Harmonisasi film : bintang 7 stgh

Hiburan : bintang 6 stgh

Pesan : bintang 8 stgh

Sinematografi : bintang 8 stgh

————————————————————-

Overall:bintangall 7 stgh( 7.6 )

 

-JD-

Advertisements

Leave a comment

Filed under I

INGLOURIOUS BASTERDS

INGLOURIOUS BASTERDS



Masa pendudukan Jerman di Prancis menjadi latar utama dalam film ini. Cerita dimulai dengan ‘pembasmian’ keluarga Yahudi di Prancis yang dilakukan oleh seorang kolonel Nazi yang bertugas dibidang tersebut, Hans Landa (Christoph Waltz). Satu orang dari keluarga Yahudi tersebut berhasil melarikan diri, yakni Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent). Shosanna dengan identitas lain dapat bertahan hidup di masa itu hingga akhirnya seorang petinggi Nazi, Fredrick Zoller (Daniel Brühl) menaruh hati padanya. Di dalam strategi Shosanna, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam pada Nazi. Di sisi lain, kelompok Yahudi-Amerika yang dikenal dengan “the Basterds”, dipimpin oleh Aldo Raine (Brad Pitt), ingin menghabisi Hitler dan memberi pelajaran pada semua anggota Nazi. Dengan bantuan aktris yang dekat dengan Nazi, Bridget Von Hammersmark (Diane Kruger), Aldo dengan mudah mendapat siasat hingga dapat masuk sebagai tamu ke dalam perkumpulan Nazi. Dua pihak berbeda yang melawan Nazi (Shosanna dan Aldo) ingin menghabisi Nazi di tempat yang sama.

Penghormatan untuk akting layak diberikan pada Christoph Waltz yang memerankan Hans Landa. Penghayatan dalam kecerdasan dan kelicikan Landa sangat terasa dalam film. Tokoh Landa menjadi pusat perhatian walaupun bukan dia tokoh utamanya. Begitu pula dengan Mélanie Laurent. Emosi yang ia ciptakan seakan-akan mengajak penonton untuk ikut terhanyut dalam perasaannya, terutama pada kedendamannya dengan Landa. Brad Pitt dan Diane Kruger tidak berakting jelek, namun terkesan datar dan tidak menonjol dibandingkan tokoh Shosanna dan Landa.

Pecinta film Tarantino yang identik dengan ‘darah-darahan’-nya akan terpuaskan dengan sebuah film garapannya yang satu ini. Film ini menggambarkan kejeniusan Tarantino dalam menggarap sebuah film. Film ‘mikir’ khas Hollywood ini menjadi menarik dengan dialog-dialog cerdas yang singkat padat dan jelas. Menggunakan pemain yang baik dan diarahkan dengan baik pula. Akan tetapi, pada adegan ending, terlihat akhir yang 180º berbeda dari yang konsep yang tertanam dari awal film. Landa yang cerdik menjadi terlihat amat bodoh dengan ending seperti ini. Ini bukan kelemahan film ini, Tarantino pasti ingin mengungkapkan sesuatu dari ‘kebodohan’ ini.

Film Tarantino tergolong berat karena harus berpikir yang cukup dalam untuk mencari pesan film ini. Dengan kecerdasannya, Tarantino membuat adegan-adegan yang memancing emosi penonton sehingga penonton dapat terus mengikuti alur cerita hingga akhir. Permainan emosi dan pikiran penonton membuat rasa penasaran yang tinggi untuk melihat akhir cerita film ini. Untuk sebagian orang mungkin akan bingung dengan jalannya film ini. Akan tetapi, dengan terbawanya suasana hingga adegan akhir itulah yang menjadi kekuatan Tarantino untuk ‘menjebak’ penontonnya untuk memahami film.

Tarantino membuat film yang sama seperti biasanya dengan tetap mengedepankan pesan film yang disampaikan dengan caranya tersendiri. Dia mengajak penonton untuk mengikuti cerita dengan segala teka-teki kecil mengenai peran tokoh-tokoh dalam film. Penonton akan dibawa tegang untuk mendapatkan pesan yang ingin disampaikan. Penonton harus menangkap sendiri pesan tersebut karena Tarantino mengungkapkannya dengan tindakan-tindakan para pemain. Dia tidak menggurui secara langsung. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari film ini yang salah satunya berkaitan dengan kecerdikan seseorang dalam mengatur strategi menghadapi orang (musuh).

Pergerakan kamera Tarantino seperti biasanya mengarahkan seperti pada nuansa thriller sehingga angle yang diambil lebih dipentingkan pada teka-teki pesan yang ingin disampaikan. Dengan demikian, perlu diperhatikan setiap kamera mengarah pada close up terhadap sesuatu, seperti close up pada jari-jari tokoh untuk menyebut angka “3”. Perbedaan penunjukkan angka tiga dengan jari antara orang Prancis dan orang Jerman menjadi kunci sebuah rahasia terbongkar. Oleh karena itu, untuk menonton film ini perlu ketelitian yang lebih untuk dapat melihat detail yang mungkin akan menjadi kunci pada cerita, biasanya dibantu dengan pergerakan kamera.

Pemain: Leonardo Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Diane Kruger, Daniel Brühl

Sutradara : Quentin Tarantino

Produser : Lawrence Bender

Produksi : Universal Pictures

Tahun : 2009

Akting: ( 8 )

Harmonisasi film: ( 8 )

Hiburan: ( 7 )

Pesan: ( 8 )

Sinematografi: ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 7.6 )

-DJD-

 

 

4 Comments

Filed under I

INCEPTION

INCEPTION

Bagaimana rasanya masuk ke dalam mimpi seseorang untuk mencuri ide orang itu? Itulah pekerjaan ilegal yang dilakukan oleh Cobb (Leonardo DiCaprio) beserta rekan setianya, Arthur (Joseph Gordon-Levitt). Suatu hari Cobb menerima tugas baru yang sedikit berbeda. Saito (Ken Watanabe) berpikir jika Cobb mampu mencuri ide melalui mimpi, maka bukan hal yang tidak mungkin untuk melakukan hal sebaliknya, yaitu menanamkan suatu ide melalui mimpi. Itulah tugas yang harus dilakukan pada Robert Fischer, Jr (Cilian Murphy). Untuk melakukan tugas itu, Cobb perlu dibantu oleh teman-teman yang salah satunya adalah Adriadne (Ellen Page). Dalam perjalanan menyelsaikan tugas ini, Adriadne, yang awalnya tidak tahu-menahu tentang metode masuk mimpi ini, tertarik untuk mengetahui latar belakang yang menghambat Cobb dalam menyelesaikan tugas ini.

Acungan jempol untuk akting semua pemain, baik pemain utama maupun pemain pendukung, termasuk figuran. Semua memiliki karakter yang berbeda antara satu dengan yang lain. Penjiwaan yang sempurna untuk semuanya. Untuk perubahan emosi secara cepat, Marion Cotillard tetap menjadi juara bila dilihat dari film-filmnya terdahulu, seperti “La Vie en Rose” dan “Public Enemies”.

Christopher Nolan untuk saat ini tidak diragukan untuk menggarap film yang berkualitas. Dia mampu membawa semua pendukung produksi film bekerja sama dengan baik. Hal ini dapat dilihat juga dari figuran yang dia atur pergerakkannya. Dengan pengarahan yang tepat membuat suasana latar tempatnya terasa hidup. Kejeniusan Nolan juga teruji dengan pembuatan cerita dengan ide yang cemerlang. Film ini berakhir terbuka sehingga tak heran akan muncul banyak forum setelah menontonnya.

Film ini dapat digolongkan film serius yang cukup menghibur karena membawa penonton terhanyut dalam misteri yang dibuatnya sehingga tidak merasakan durasi yang berjalan. Akting yang baik dari seluruh pendukung film mempengaruhi emosi penonton juga. Begitu pula kesempurnaan visual effect yang rapi sehingga penonton terpaku melihatnya. Akan tetapi, hiburan ini akan dirasakan bila penonton melihatnya dengan serius tanpa mempertanyakan alur pada awal cerita. Cerita akan semakin jelas pada pertengahan film. Bila melewatkan beberapa adegan dalam film ini, hasilnya akan pusing setelah menonton.

Dengan keseriusan ini pula, pesan cerita film ini akan tersampaikan dengan caranya Nolan yang tidak secara gamblang membuat alur yang rapi. Otak kita akan terkuras untuk merangkai kejadian demi kejadian untuk mendapatkan alur yang kita pahami sendiri. Bukan menjadi masalah bila banyak menimbulkan spekulasi yang berbeda dari setiap penonton setelah menonton. Penonton mencerna sesuai pemahamannya masing-masing. Apalagi ditutup dengan ending yang terbuka, penonton berhak untuk mengembangkan imajinasinya sendiri. Pesan moral dalam film ini terasa pada dialog yang terdapat dalam setiap adegan. Salah satunya adalah kerelaan Cobb untuk melepas yang paling dicintai untuk menjalani kehidupan berikutnya.

Sinematografi yang disajikan sangat sempurna, baik visual effect maupun efek suara. Semua hal itu membuat film ini memiliki ciri khas tersendiri. Penonton akan selalu mengenang kejadian jalan yang terangkat dan menekuk seakan melipat. Begitu pula dengan adegan air di dalam gelas yang melawan logika di dunia nyata.

Pemain: Leonardo DiCaprio, Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page, Marion Cotillard, Ken Watanabe, Tom Hardy, Cilian Murphy

Sutradara : Christopher Nolan

Produser : Christopher Nolan, Emma Thomas

Produksi : Warner Bros. Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 10 )

Harmonisasi film : ( 9 )

Hiburan : ( 7 )

Pesan : ( 8 )

Sinematografi : ( 10 )

————————————————————-

Overall: ( 8.8 )

-DJD-

4 Comments

Filed under I