KURUNG MANUK

KURUNG MANUK

 kurung manuk poster

Masa lalu Manuk (Prasajadi Heru) sangat mempengaruhi kehidupannya di saat dewasa. Ketakutan, kekecewaan, dan keprihatinan hidupnya membuatnya menjadi seorang pria kesepian yang hidup bersama kenangan dan imajinasi absurd yang dimilikinya. Kesepian di saat dewasa ditambah rasa yang dibawanya dari masa lalu membuat Manuk menjadi orang yang memiliki perhatian dan obsesi tinggi terhadap perempuan bernama Wani (Citra Lubis). Obsesi dan dendamnya menjadi seperti bom waktu yang terlihat tenang di selama prosesnya dan akan meledak di waktu yang tidak terduga.

Sebuah film dengan semangat surealis dengan memberikan gambaran imajinatif yang sangat banyak membuat film ini memiliki kekuatan tersendiri. Akting setiap pemain di dalamnya menjadi minimalis dengan porsi yang sangat pas untuk sebuah film dengan gaya ini. Sebagian besar pemain dapat mendukung gaya surealis dengan karakterisasi yang konsisten untuk menampilkan pilihan tokoh yang unik. Beratnya memainkan sebuah film dengan semangat surealis adalah dapat menginterpretasikan sebuah logika cerita yang melawan logika empiris sebagai manusia yang real. Logika cerita ini menjadi strategi untuk menggambarkan ide yang tidak terlihat secara fisik dan ingin disampaikan.

Keberanian Sigit Pradityo untuk mengangkat film dengan gaya yang surealis sangat berani mengambil risiko. Acungan jempol bisa diberikan atas usahanya untuk menggunakan sarana dan prasarana sederhana yang dimaksimalkan untuk sebuah cerita surealis imajinatif. Beberapa kendala teknis ditemukan untuk menyamakan warna film dengan setting yang diambil dalam film. Masalah lain yang didapati ketika menonton film ini adalah isu-isu yang melatari pembangunan cerita untuk digunakan sebagai kritik. Cerita utama yang mengangkat masalah sosial psikologis pribadi Manuk dengan gaya surealis diwarnai dengan adanya isu kriminal, sosial, politik, budaya di masyarakat. Masalah bukan pada porsinya, namun terasa ada lompatan ide yang memaksa penonton untuk memahami lebih dalam setiap isu yang disinggung. Menurut saya, film ini akan lebih kuat dari segi pesan dan hiburan bila fokus pada masalah psikologis Manuk dengan penggambaran imajinasi yang lebih dalam tentang masa lalu. Editing yang cukup rinci untuk menghubungkan pesan antar-scene dapat membuat film ini mengeluarkan idenya sejak awal dan dapat diikuti tanpa masalah. Film ini dapat dijadikan pembelajaran penonton untuk menikmati sebuah film dengan semangat surealis.

Film ini memiliki nilai hiburan yang terbatas pada penikmatnya. Bila belum terbiasa dengan film yang memiliki semangat surealis, logika empiris kita akan membatasi semua efek sinematografis yang diberikan. Perlu ada kepekaan pada inti cerita dan menerima segala suguhan surealis dari gambar. Film ini cukup menghibur mengingat beberapa gaya surealisnya dapat menjadi memori khusus pada penonton merujuk sebuah pesan psikologis tokoh. Hambatannya ada pada keterbatasan penyeragaman warna antara dunia nyata dan dunia imajinatif. Ada hambatan pula pada pengaturan setting mengingat setting yang digunakan adalah lokasi nyata yang ada di ‘lapangan’, bukan studio.

Kekuatan terbesar film ini adalah pada pesan yang tersirat di dalam penceritaan surealis yang disajikan. Pesan ini digunakan sebagai refleksi masalah psikologis tokoh. Setiap penggambaran imajinasi yang ditampilkan dapat dikaitkan dengan keadaan psikologis setiap tokoh yang dipengaruhi masa lalu, emosi, keadaan sosial, maupun tekanan lingkungan di sekitarnya. Refleksi ini dapat dijadikan renungan penonton untuk mempertanyakan hal yang filosofis mengenai beberapa hal yang mendasar atau dianggap tabu karena bertentangan dengan norma yang ada. Dengan kata lain, pesan film ini justru mengarahkan penonton pada eksistensi tokoh dilihat sebagai individu yang pasif secara sosial, namun aktif dalam pemikirannya. Penyampaian pesan yang baik dalam sebuah film bergaya surealis. Kritik yang dibangun dalam film ini juga dapat menyatu dengan berlangsungnya cerita. Pesan mengenai tema kesepian, dendam, dan memori masa lalu menjadi kompleks dengan isu di masyarakat, seperti kekuasaan, kriminal, kritik politik, kemiskinan masyarakat, dan kesenjangan sosial.

Pengambilan gambar yang sederhana, namun cukup jeli untuk mengambil angle yang efektif setiap scene mampu memperlihatkan identitas film ini. Animasi yang unik mampu menjadi ciri khas film ini dan dapat menjadi unsur yang memorable. Scoring music dapat mendukung setiap adegan yang diperlukan. Sayangnya, warna film yang terbilang khas mendapat benturan dengan masalah persiapan setting. Latar interior terasa lebih bebas untuk penataan dibandingkan latar eksterior. Kendala ini yang memberikan perbedaan warna setting dan mengurangi esensi surealis. Harapan pada perkembangan film Indonesia surealis dapat dimulai dari kehadiran film seperti Kurung Manuk.

 

Pemain: Prasajadi Heru, Rhoald Marcellius, Ari Satria, Osh Indah, Citra Lubis

Sutradara : Sigit Pradityo

Produser : Sigit Pradityo

Produksi : Mercusuar Production

Tahun : 2016

kurung manuk

Akting : bintang 7 stgh

Harmonisasi film : bintang 6 stgh

Hiburan : bintang 6

Pesan : bintang 8 stgh

Sinematografi : bintang 6 stgh

————————————————————-

Overall: bintangall 7( 7 )

 

-JD-

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under K

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s