ADA APA DENGAN CINTA? 2

ADA APA DENGAN CINTA? 2 Ada-Apa-Dengan-Cinta-AADC-2

Yogyakarta menjadi saksi pertemuan kembali Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Pertemuan yang tak diduga setelah 9 tahun Rangga memutuskan cinta secara sepihak tanpa sebab yang jelas. Waktu pun memulihkan Cinta hingga akhirnya berencana menikah dengan Trian (Ario Bayu). Ya, pertemuan Cinta dan Rangga terjadi di waktu yang tidak tepat. Semua sudah terlambat. Film ini bertanggung jawab untuk memberikan waktu satu hari pada Rangga untuk dapat menjelaskan semua yang terjadi agar Cinta dapat menjalani kehidupan dengan tenang tanpa dihantui masa lalu yang tidak jelas.

Acungan jempol patut diberikan pada Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo yang berhasil mengeksekusi film ini dengan baik. Ikatan di antara Rangga dan Cinta dapat menghibur penonton yang terbilang sudah penasaran dengan kelanjutan kisah mereka. Setelah melewati pengalaman yang panjang hingga akhirnya tiba di AADC2, semua pemain memiliki kematangan akting yang mumpuni. Akting Nico dan Karmen (Adinia Wirasti) terlihat sangat kuat karena berperan penting untuk menjelaskan semua detil, bahkan detil perasaan yang tidak divisualisasikan dalam film: kesepian, kesedihan, kerinduan, dan masalah pribadi setiap karakter yang sudah tertimbun lama. Akting Dian Sastro pun tak luput dari apresiasi untuk segala detil gestur yang menggambarkan perasaan aktual tokoh. Hampir semua pemain terbantu karena sudah ‘terbiasa’ dengan kamera. Faktor ini menjadi penyelamat teknis, sehingga film ini dapat dinikmati sampai akhir cerita.

Kekuatan Riri Riza sebagai sutradara memang perlu diakui kehebatannya. Segala rangkaian cerita terbilang rapi. Eksekusi untuk sebuah film yang diwarnai kata-kata puitis menjadi sangat populer di tangan Riri Riza. Kronologis cerita tersampaikan dengan baik, bahkan untuk cerita yang terjadi dalam 14 tahun terakhir antara Cinta dan Rangga. Logika yang dibangun sangat rapi dan cukup detil. Benturan durasi film tidak terlalu menjadi penghalang di film ini untuk menjelaskan semuanya. Kecerdasan Riri Riza juga terlihat ketika menyeimbangkan kepuasan sponsor dan penonton. Hal ini menjadi contoh yang baik untuk film populer di masa sekarang ini.

Jelas film ini menjadi film yang sangat menghibur. Penonton akan dengan mudah tertawa, menangis, kesal, bahkan memihak pada tokoh tertentu. Yang paling jelas adalah penonton akan dibawa “senyum-senyum” dari awal film hingga akhir, entah apa yang dipikirkan setiap penonton. Hal ini membuat film ini dapat dinikmati semua kalangan, bukan hanya untuk memuaskan penggila AADC 1 saja. Hiburan ini menjadi nilai tertinggi, sehingga penonton pun sebaiknya menikmatinya sebagai sebuah film hiburan yang dapat melepas penat dari dunia nyata kita semua. Film ini mengembalikan hakikat sebuah film sebagai media hiburan.

Pesan film ini tersampaikan cukup baik untuk hubungan logis tiap adegan. Alur yang diceritakan dengan rapi membuat film ini tidak memusingkan penonton. Film ini sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memasukkan semua elemen yang menjadi semangat film. Ada semangat cinta sastra yang menjadi nafas dari AADC 1. Film ini memberikan perkembangan aplikasi sastra yang dapat dipopulerkan di generasi muda. Film ini juga menjadi cerminan isu sosial dan budaya yang disentil secara halus. Semangat berkesenian membuat film ini akan digemari orang-orang yang merasa cinta seni. Film ini memberikan mimpi untuk kehidupan ideal dari orang yang mencintai seni. Sedikit terkesan utopis, namun terlihat logis. Akan tetapi, banyaknya semangat yang ingin disampaikan cukup mengaburkan fokus utama film ini.

Pemilihan lokasi dan waktu yang sangat tepat untuk menyiasati segala kendala teknis yang ada. Pengambilan gambar untuk memaksimalkan keindahan gambar juga menjadi “nilai jual” film ini. Ada kesan film ini mengambil kesempatan agar “tidak kehilangan momen” pada beberapa gambar yang diambil. Tidak buruk, sangat indah, tapi kurang cukup menguatkan cerita inti. Pertimbangan yang bijak untuk menghargai hasil kerja seluruh tim untuk menghasilkan film yang indah dilihat. Acungan jempol dapat diberikan pada tim make-up dan kostum yang bisa dibilang sangat detil untuk menggambarkan perasaan, keadaan, hinggal selera karakter yang beragam.

 

Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Titi Kamal, Dennis Adhiswara

Sutradara : Riri Riza

Produser : Mira Lesmana

Produksi : Miles Films, Legacy Pictures

Tahun : 2016

Trailer-AADC-2-3

Akting : bintang 8

Harmonisasi film : bintang 8 stgh

Hiburan : bintang 10

Pesan : bintang 7 stgh

Sinematografi : bintang 8

————————————————————-

Overall: bintangall 8 stgh( 8.4 )

 

-JD-

 

 

 

Leave a comment

Filed under A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s