LA VIE D’ADÈLE (BLUE IS THE WARMEST COLOR)

LA VIE D’ADÈLE – CHAPITRE 1 & 2

(BLUE IS THE WARMEST COLOR)

 La vie d'adele KP

Sesuai judul bahasa Prancisnya yang memiliki arti “Kehidupan Adèle – Bagian 1 dan 2”, film ini mengisahkan kehidupan Adèle (Adèle Exarchopoulos) yang dimulai dari kehidupannya di SMA. Fokus cerita film ini ada pada kehidupan percintaan Adèle yang dimulai dari melihat Emma (Léa Seydoux) di jalan secara tidak sengaja. Mereka tidak saling mengenal, namun kehadiran Emma cukup mengganggu pikiran Adèle. Adèle mulai merasa bimbang dengan pilihan hatinya. Akhirnya, ia yang awalnya ingin mencari jawaban dengan mencoba memasuki gay cafe khusus lesbian, justru malah menemukan Emma di dalamnya dan mereka pun akhirnya berkenalan. Mereka akhirnya menjalankan kehidupan mereka berdua. Hubungan mereka terus diceritakan hingga mereka hidup bersama dalam waktu yang lama. Mereka pun memiliki kesibukan masing-masing walau tinggal bersama. Inilah yang menjadi bagian kedua (menurut saya) cerita ini. Kehidupan untuk mempertahankan hubungan mereka dalam waktu yang panjang. Rasa jenuh dan ‘gangguan’ dalam hubungan pun terjadi. Bagaimana menyikapinya? Yang jelas hidup terus berlanjut. 

Film yang memenangkan 45 penghargaan bergengsi di dunia ini (termasuk meraih Palme d’Or di Festival Film Cannes 2013), didominasi oleh penghargaan untuk kategori film terbaik dan aktris terbaik: baik untuk Adèle Exarchopoulos, maupun Léa Seydoux. Patut diakui kehebatan akting Adèle dan Léa untuk film ini. Léa yang terbilang bukan aktris baru di perfilman Prancis bermain sangat mengagumkan untuk mendalami karakternya. Dia melepas semua karakter yang pernah dimainkan sebelumnya. Dia benar-benar memberikan jiwa untuk karakter Emma secara total. Sedangkan Adèle yang berperan sebagai Adèle langsung melejit sebagai aktris pendatang baru. Kekuatan akting yang luar biasa dari Adèle mengisi setiap scene yang dimainkannya. Apa yang dirasakan oleh tokoh Adèle mampu membuat penonton merasakan apa yang dirasakan Adèle ATAU justru ingin menyalahkan Adèle atas segala yang terjadi padanya. Ini tergantung kacamata yang dipakai penonton ketika menonton.

Keberhasilan film ini tentu saja berkat tangan Abdellatif Kechiche yang ‘langganan’ meraih penghargaan dengan filmnya yang berkualitas. Detail yang sangat rapi oleh Kechiche membuat setiap scene berguna. Tidak ada scene yang bersifat katalisator (hanya untuk mempercepat peristiwa). Semua scene terbangun dengan baik hingga semua rasa dapat diterima oleh penonton. Kepiawaian Kechiche juga terlihat dari bagaimana dia membuat film yang bertema gay/lesbian dengan pesan-pesan yang sangat universal. Sesuatu yang dibangun oleh Kechiche dalam film ini mampu dianalogikan pada kehidupan pasangan heteroseksual sekalipun walaupun penggambaran lesbian dalam film ini sangat kental. Menurut saya, hanya Kechiche yang mampu membuat cerita ini menjadi universal.

Film berdurasi hampir 3 jam ini tidak terasa ketika kita mengikutinya secara saksama. Rasa ini terbawa akibat rasa yang dialami Adèle sangat berwarna, mulai dari awal ia jatuh cinta dengan Emma hingga usaha dia mempertahankan rasa cintanya itu setelah hidup bersama. Rasa geregetan, sedih, dan haru mewarnai sepanjang film ini. Sekali lagi, film ini bersifat universal karena hubungan yang dibangun Emma dan Adèle sangat nyata. Dengan demikian, apa yang terjadi pada Emma dan Adèle mungkin dan bisa saja dialami oleh semua hubungan berpasangan. Ketika menonton film ini, kita bisa menjadi memihak pada Adèle, memihak pada Emma, atau kita menyalahkan keduanya saat hubungan mereka retak. 

Pesan film ini yang sangat universal membuat film ini sangat cocok untuk menjadi introspeksi setiap pasangan di kehidupan nyata. Walaupun Adèle dan Emma menjalani hubungan sejenis, tapi pesan moral yang ingin disampaikan bisa diterapkan pada semua hubungan karena Adèle dan Emma masih menjalankan peran gender maskulin dan feminin dalam hubungan mereka. Kegagalan pada sebuah hubungan adalah kesalahan dua pihak. Semua tergantung komunikasi dan kesepakatan. Satu pesan yang paling umum adalah masalah hati dan masalah ketubuhan adalah dua hal yang berbeda. Orang yang kita cintai belum tentu menjadi orang yang tepat untuk menjadi pasangan kita. Apapun yang terjadi pada masalah-masalah itu, hidup terus berlanjut. Ending yang terbuka membuat penonton bebas untuk menentukan sendiri dirinya mendukung siapa yang salah pada hubungan tersebut. 

Aspek sinematografis yang penting dalam film ini berkenaan dengan pengambilan gambar dan penempatannya di dalam film. Bukan teknik yang gemilang, mengingat sepanjang film didominasi penggunaan handheld camera, melainkan pengambilan momen yang pas setiap scene yang membuat film ini menjadi bermakna. Mungkin untuk penonton Indonesia pada umumnya, ada beberapa adegan yang tidak berterima karena perbedaan budaya. Keintiman mereka tidak berlaku untuk keperluan gambar semata, tapi pada akhirnya, penonton akan lebih merasakan apa yang dirasakan Adèle karena suasana yang dibangun di keintiman mereka berdua. 

Pemain: Adèle Exarchopoulos, Léa Seydoux, Jérémie Laheurte, Mona Walravens

Sutradara : Abellatif Kechiche

Produser : Abellatif Kechiche, Brahim Chioua, Vincent Maraval

Produksi : Wild Bunch, Quat’sous Films

Tahun : 2013

 LVA_08

Akting :  bintang 10

Harmonisasi film : bintang 10

Hiburan : bintang 6 stgh

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 8

 ————————————————————-

Overall: bintangall 9( 8.9 )

–DJD–/@kritikpenonton

 

 

Leave a comment

Filed under B, V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s