LA GRANDE BELLEZZA (THE GREAT BEAUTY)

LA GRANDE BELLEZZA 

(THE GREAT BEAUTY)

lagranb  

Seorang jurnalis sekaligus novelis, Jep Gambardella (Toni Servillo), yang akhirnya menjadi ikon kaum sosialita Italia, memutuskan untuk berhenti menulis dan mengamati kehidupan sosial yang dimilikinya dengan kalangan jet set. Dengan demikian, novel pertamanya tersebut sekaligus menjadi satu-satunya masterpiece dalam hidupnya. Ada alasan yang membuat dia berhenti untuk menulis. Namun, dia suka sekali mengamati kehidupan orang sekitarnya dengan memerhatikan tingkah lakunya. Dalam kehidupan glamornya, Jep Gambardella memiliki banyak kenalan dengan karakter yang beragam. Dia berusaha mencari tahu apa yang pola pikir orang-orang di sekitarnya. Dia merasa ada benturan prinsip yang terjadi di lingkungannya. Benturan ini berkaitan banyak hal, salah satunya adalah waktu. Dia semakin tidak memahami pola pikir seni maupun pandangan hidup, bahkan prinsip agama di generasi modern. Hasil dari pengamatannya menghasilkan keinginannya untuk menulis kembali.

 Akting pemain yang luar biasa mengantarkan film ini menjadi film yang penuh makna. Semua pemain membawakan peran sekecil apapun menjadi sangat berarti. Kekuatan permainan akting yang dibantu dengan make up yang sangat baik membuat penonton mengenali karakter tokoh. Yang hebat adalah Toni Servillo sebagai Jep Gambardella yang bertindak selaku tokoh utama sekaligus otak penonton. Dia terlihat tidak memiliki karakter yang dinamis, namun pemikirannya yang dinamis sesuai dengan pengetahuan penonton seperjalanan film. Konflik dirasakan di tokoh-tokoh sekitar tokoh Jep Gambardella

Gaya penceritaan yang tidak biasa oleh Paolo Sorrentino membuat penonton hampir tidak memahami pola film di awal. Sutradara rasanya ingin menjejali penonton dengan kritik-kritik sosialnya melalui penggambaran kehidupan sosial di sekitar. Memang digarap cukup realis dengan men’cuplik’ cerita-cerita orang di sekitar tokoh utama tanpa mendetail sesuai dengan yang dirasakan tokoh utama pada cerita, sekaligus yang dirasakan penonton. Pola penceritaan seperti ini tidak universal sifatnya. Jadi, bila otak kita memaksa untuk mengikuti alur ceritanya, maka kita akan bosan karena kita sudah berasumsi. Bukan kejutan twist cerita yang kita dapatkan, tapi pemikiran tentang adegan tersebut yang dikemas secara tersirat. Jadi, otak kita akan dipaksa untuk berpikir dan memadankan dengan kehidupan sekitar kita. Dengan demikian, film ini sangat cerdas digunakan sebagai sebuah kritik sosial tanpa menggurui penonton.

Memang bila melihat dari nilai hiburan, film ini tidak menyajikan sesuatu yang ‘memanjakan penonton’ dari segi penceritaan. Penonton akan lebih memerhatikan karakter tiap tokoh dan aspek visual dari sinematografis yang disajikan hingga mampu mengalihkan perhatian pada cerita. Namun, film ini memang bukan untuk film yang bersifat hiburan. Film ini menampilkan serealis mungkin hingga seperti cerminan kehidupan biasa. Bisa menjadi bahan pertimbangan bahwa: bila kita bosan menonton film ini, apakah kita juga bosan dengan melihat kehidupan di sekitar kita pada kenyataannya? Inilah yang ingin disinggung. Kita menganggap yang terjadi di sekitar sudah biasa, padahal banyak yang bisa diperhatikan dari orang-orang di sekitar kita yang fake.

 Film ini menjadi film filosofis yang sarat akan kritik sosial. Pesan-pesan tajam yang menyinggung moral masyarakat modern menjadi fokus cerita film ini. Bila kita mencerminkan karakter-karakter di film ini pada orang di sekitar kita atau bahkan pada diri kita sendiri, maka kita film ini akan membuat kita berintrospeksi diri. Pesan cerita akan didapat bila kita tidak berusaha mencari hubungan antartokoh sepanjang film. Kita hanya perlu tahu identitas tokoh itu dan menikmati apa yang dilakukan tokoh tersebut. Dengan pikiran yang fokus pada film ini, maka kita akan mendapatkan pesan moral berkaitan dengan apakah kita juga sebegitu egoisnya seperti tokoh-tokoh yang ada di cerita ini. Sebagian orang dengan pengalaman yang dirasa banyak cenderung akan “merasa ahli” dari pengalamannya sehingga melakukan sesuatu karena “pikiran kita yang mengatakan kita yang lebih tahu” bukan karena “hati kita yang mengarahkan kita bertindak”. Beberapa golongan dikritik kehidupannya di sini. Kaum sosialita yang bersenang-senang biar menunjukkan statusnya, bukan karena hatinya yang ingin berpesta. Kaum seniman yang berkarya bukan lagi dari hati dan imajinasinya, tapi berlandaskan ideologi absurd yang hanya dia sendiri yang memahami agar orang yakin dia seniman hebat. Kaum agamawan yang mengagung-agungkan seseorang karena eksistensi dari kehadirannya yang terasa, bukan karena hatinya yang memang ingin memuja. Oleh karena itu, in a simple way, film ini ingin menyinggung bahwa “semua orang itu fake di setiap tindakannya.” 

At least, sepusing-pusingnya menonton film ini, yang paling bisa dinikmati sama semua orang adalah pengambilan gambar yang dinamis dan berwarna. Detail yang dimaksimalkan di dalam gambar membuat penonton terasa berada di dalam frame. Kekuatan make up dan kostum serta properti yang menguatkan suasana film tersampaikan dengan baik ke mata penonton. Shot yang rapi terlihat dari setiap frame.

Pemain: Toni Servillo, Carlo Verdone, Sabrina Ferilli, Carlo Buccirosso, Serena Grandi.

Sutradara : Paolo Sorrentino

Produser : Francesca Cima, Nicola Giuliano

Produksi : Indigo Film, Medusa Film, Babe Film, Pathé, France 2 Cinéma

Tahun : 2013

greatbeauty02

Akting : bintang 9 stgh

Harmonisasi film : bintang 5

Hiburan : bintang 4

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 10

 ————————————————————-

Overall: bintangall 8( 7.7 )

– DJD–

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under G

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s