PINTU TERLARANG

PINTU TERLARANG


Cerita diawali dari pengenalan sosok Gambir (Fachri Albar) yang meniti karir sebagai seniman (pematung). Banyak orang yang mengagumi karya Gambir karena dianggap memiliki jiwa di dalam patung-patungnya. Memang ternyata ada misteri dibalik pembuatan patung oleh Gambir. Orang yang berperan pada awal mula misteri karya Gambir ini adalah pacarnya, Talyda (Marsha Timothy), yang kemudian menjadi istri Gambir. Kehidupan Gambir penuh konflik. Tidak hanya dalam karirnya, Gambir juga memiliki masalah pada banyak hal. Semua masalah ini memiliki benang merah pada kehidupan masa kecil Gambir yang akhirnya menjadi jawaban dari segalanya.

Akting pemain dalam film ini tergolong baik. Semua pemain terlihat bermain dengan sepenuh hati. Secara teknik, setiap pemain membawakan perannya dengan karakter masing-masing. Akan tetapi, ada beberapa detail dari akting pemain yang sedikit mengganggu jalannya cerita. Marsha Timothy memang berakting baik, tetapi kesan ‘mengikuti instruksi sutradara’ terasa di hampir setiap kemunculannya. Ada penjiwaan yang sesekali tidak terasa. Contoh dapat terlihat pada Spoiler Alert [1]. Selain itu, beberapa pemain memiliki perubahan karakter yang seakan memang menjadi tuntutan cerita ini. Namun, hal ini tidak terlalu terasa pada Marsha Timothy pada adegan akhir (lihat Spoiler Alert [2]). Kelebihan Marsha Timothy dalam film ini adalah kemampuan aktingnya yang rapi dan mampu menyampaikan pesan film dengan baik.

Two thumbs up untuk ide cerita yang sangat hebat baik dari versi asli dalam novel maupun ide tambahan dalam adapatasinya ke dalam film. Tema kejiwaan seperti ini sangat banyak dijumpai pada film-film festival, tapi film ini mengangkat suatu ide yang dikemas dengan pesan moral yang dalam. Kerapihan seluruh aspek film ini juga patut diacungi jempol. Kenapa? Hal pertama yang menarik perhatian adalah siasat menghindari masalah yang biasanya muncul pada sebagian besar film Indonesia, yaitu pemain figuran. Banyak film yang hanya menggunakan figuran sebagai ‘pancingan’ tapi tidak diarahkan kualitasnya. Pada film ini, Joko Anwar menggunakan figuran sebagai latar yang tidak mengganggu jalannya cerita karena peran mereka diarahkan senatural mungkin. Ada sedikit yang mengganggu yaitu seperti yang dapat dilihat pada spoiler alert [3]. Selebihnya, PERFECT! Ada beberapa detail yang sedikit menjadi pertanyaan namun kritik ini sifatnya 100% dapat didebatkan. Pertama pada sampanye yang diminum tamu-tamu galeri, sepengetahuan saya (dapat disanggah bila salah), warna sampanye lebih bening dari yang di film. Masalahnya, penonton dengan pengetahuan seperti itu, seakan sampanye yang diminum dalam film seperti bir yang dituang di gelas sampanye. Kedua, Adegan yang dapat dilihat pada spoiler alert [4]. Adegan ini seperti mengambang karena hanya sedikit benang merah dengan cerita sebelum dan sesudahnya sehingga seakan-akan bila adegan ini hilang pun tidak menjadi masalah besar. Terlebih lagi, logika yang dibangun pada adegan ini agak sedikit tidak berterima (sifatnya) dan respons pemain untuk adegan ini sedikit berlebihan. Ketiga detail yang agak fatal adalah ketika salah satu pemain ekstra (tamu) mengucapkan kata “voilà” dengan pelafalan bunyi [f]. Sutradara sebaiknya memerhatikan bila menggunakan istilah asing dari bahasa apa pun. Dalam bahasa Prancis, bunyi [f] dan [v] dapat membedakan arti. Logat/aksen tidak masalah, pelafalan yang lebih berbahaya. UNTUNGNYA kata yang digunakan adalah “voilà”, tidak menjadi masalah besar, tetapi perlu diperhatikan bila berikutnya akan menyisipkan istilah asing dalam sebuah film.

Pada dasarnya film ini sangat menghibur karena dapat memancing emosi penonton dan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Jawaban dari masalah film ini pun sangat baik dan mampu menjawab dengan baik semua kegundahan yang dibangun sepanjang film.

Lepas dari hiburan yang dibangun film ini, pesan yang disampaikan dapat dinilai sempurna karena pesan film dengan jalan cerita yang unik mampu menjawab segala misteri yang dibangun. Pesan moral yang dikandungnya pun tergolong sangat banyak terutama pada penyinggungan masalah pribadi seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan orang-orang di sekitarnya. Film yang mampu membuat merenung setelah menontonnya.

Penampilan aspek visual yang dapat dikatakan sangat baik pada film Indonesia sekarang ini. Efek darah yang dibuat dan efek sadis dalam film ini membantu membangkitkan suasana. Begitu pula dengan aspek audio yang mengiringi dengan ilustrasi musik yang membangun permainan emosi penonton. Lepas dari kualitas efeknya, sinematografi film ini dapat dibilang sangat rapi dan memang dirancang untuk memancing penonton menganalisis simbol-simbol di dalamnya.

Spoiler Alerts! (Sebaiknya jangan dibaca bila belum menonton film ini)

[1] Adegan awal ketika Gambir di luar galeri dan Talyda menghampirinya, ada tamu yang baru tiba. Penjiwaan Talyda sebagai salah satu “tuan rumah” acara itu tidak terlalu terasa. Marsha lebih cenderung menampilkan sosoknya sebagai istri Gambir saja.

[2] Marsha sebagai Talyda dengan Marsha sebagai Pusparanti tidak terasa bedanya dari penjiwaan Marsha. Mungkin hal ini dapat menjadi nilai plus karena menimbulkan teka-teki pada pikiran penonton dengan menebak-nebak peran Marsha dalam film ini. Akan tetapi, bila melihat contoh Ario Bayu, walau sedikit perubahan, perbedaan peran yang dibawakan dapat terlihat, sedangkan Marsha Timothy seakan hanya tertolong dari informasi name tag dan make up yang berbeda.

[3] Adegan yang sama dengan [1], kedua pemuda yang baru tiba terlihat buru-buru untuk masuk galeri padahal yang bertemu papasan dengan mereka adalah bisa dibilang ‘yang punya acara’. Kurang ada respons yang baik dari kedua pemuda ini dan mungkin ini yang menyebabkan penjiwaan Marsha sebagai ‘tuan rumah’ juga hilang.

[4] Adegan setelah ‘pemerkosaan’ Gambir pada Talyda. Talyda jatuh, luka, lalu keduanya saling minta maaf.

Pemain: Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Otto Djauhari, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe

Sutradara: Joko Anwar

Produser : Sheila Timothy

Produksi : LifeLike Pictures

Tahun : 2009


Akting : ( 7 )

Harmonisasi film : ( 9 )

Hiburan : ( 8.5 )

Pesan : ( 10 )

Sinematografi : ( 8 )

————————————————————-

Overall: ( 8.5 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s