INGLOURIOUS BASTERDS

INGLOURIOUS BASTERDS



Masa pendudukan Jerman di Prancis menjadi latar utama dalam film ini. Cerita dimulai dengan ‘pembasmian’ keluarga Yahudi di Prancis yang dilakukan oleh seorang kolonel Nazi yang bertugas dibidang tersebut, Hans Landa (Christoph Waltz). Satu orang dari keluarga Yahudi tersebut berhasil melarikan diri, yakni Shosanna Dreyfus (Mélanie Laurent). Shosanna dengan identitas lain dapat bertahan hidup di masa itu hingga akhirnya seorang petinggi Nazi, Fredrick Zoller (Daniel Brühl) menaruh hati padanya. Di dalam strategi Shosanna, dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas dendam pada Nazi. Di sisi lain, kelompok Yahudi-Amerika yang dikenal dengan “the Basterds”, dipimpin oleh Aldo Raine (Brad Pitt), ingin menghabisi Hitler dan memberi pelajaran pada semua anggota Nazi. Dengan bantuan aktris yang dekat dengan Nazi, Bridget Von Hammersmark (Diane Kruger), Aldo dengan mudah mendapat siasat hingga dapat masuk sebagai tamu ke dalam perkumpulan Nazi. Dua pihak berbeda yang melawan Nazi (Shosanna dan Aldo) ingin menghabisi Nazi di tempat yang sama.

Penghormatan untuk akting layak diberikan pada Christoph Waltz yang memerankan Hans Landa. Penghayatan dalam kecerdasan dan kelicikan Landa sangat terasa dalam film. Tokoh Landa menjadi pusat perhatian walaupun bukan dia tokoh utamanya. Begitu pula dengan Mélanie Laurent. Emosi yang ia ciptakan seakan-akan mengajak penonton untuk ikut terhanyut dalam perasaannya, terutama pada kedendamannya dengan Landa. Brad Pitt dan Diane Kruger tidak berakting jelek, namun terkesan datar dan tidak menonjol dibandingkan tokoh Shosanna dan Landa.

Pecinta film Tarantino yang identik dengan ‘darah-darahan’-nya akan terpuaskan dengan sebuah film garapannya yang satu ini. Film ini menggambarkan kejeniusan Tarantino dalam menggarap sebuah film. Film ‘mikir’ khas Hollywood ini menjadi menarik dengan dialog-dialog cerdas yang singkat padat dan jelas. Menggunakan pemain yang baik dan diarahkan dengan baik pula. Akan tetapi, pada adegan ending, terlihat akhir yang 180º berbeda dari yang konsep yang tertanam dari awal film. Landa yang cerdik menjadi terlihat amat bodoh dengan ending seperti ini. Ini bukan kelemahan film ini, Tarantino pasti ingin mengungkapkan sesuatu dari ‘kebodohan’ ini.

Film Tarantino tergolong berat karena harus berpikir yang cukup dalam untuk mencari pesan film ini. Dengan kecerdasannya, Tarantino membuat adegan-adegan yang memancing emosi penonton sehingga penonton dapat terus mengikuti alur cerita hingga akhir. Permainan emosi dan pikiran penonton membuat rasa penasaran yang tinggi untuk melihat akhir cerita film ini. Untuk sebagian orang mungkin akan bingung dengan jalannya film ini. Akan tetapi, dengan terbawanya suasana hingga adegan akhir itulah yang menjadi kekuatan Tarantino untuk ‘menjebak’ penontonnya untuk memahami film.

Tarantino membuat film yang sama seperti biasanya dengan tetap mengedepankan pesan film yang disampaikan dengan caranya tersendiri. Dia mengajak penonton untuk mengikuti cerita dengan segala teka-teki kecil mengenai peran tokoh-tokoh dalam film. Penonton akan dibawa tegang untuk mendapatkan pesan yang ingin disampaikan. Penonton harus menangkap sendiri pesan tersebut karena Tarantino mengungkapkannya dengan tindakan-tindakan para pemain. Dia tidak menggurui secara langsung. Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari film ini yang salah satunya berkaitan dengan kecerdikan seseorang dalam mengatur strategi menghadapi orang (musuh).

Pergerakan kamera Tarantino seperti biasanya mengarahkan seperti pada nuansa thriller sehingga angle yang diambil lebih dipentingkan pada teka-teki pesan yang ingin disampaikan. Dengan demikian, perlu diperhatikan setiap kamera mengarah pada close up terhadap sesuatu, seperti close up pada jari-jari tokoh untuk menyebut angka “3”. Perbedaan penunjukkan angka tiga dengan jari antara orang Prancis dan orang Jerman menjadi kunci sebuah rahasia terbongkar. Oleh karena itu, untuk menonton film ini perlu ketelitian yang lebih untuk dapat melihat detail yang mungkin akan menjadi kunci pada cerita, biasanya dibantu dengan pergerakan kamera.

Pemain: Leonardo Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Diane Kruger, Daniel Brühl

Sutradara : Quentin Tarantino

Produser : Lawrence Bender

Produksi : Universal Pictures

Tahun : 2009

Akting: ( 8 )

Harmonisasi film: ( 8 )

Hiburan: ( 7 )

Pesan: ( 8 )

Sinematografi: ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 7.6 )

-DJD-

 

 

4 Comments

Filed under I

4 responses to “INGLOURIOUS BASTERDS

  1. Xener

    Endingny gw gak suka.. Masa waltz jadi katro n cupu di depan brad pit akhirnya.. Padahal kan dia superduper jenius dalam observasi,, eh keok Gak jelas pengen jadi warga negara amerik n berkhianat ma negara sendiri. Bener2 bertolak belakng sama karakter yg udah di bentuk dari Awal film

    • jirodanusastro

      terima kasih atas pendapatnya.. itu yang menjadi alasan saya tidak memberikan nilai sempurna pada pesan film ini. Saya ada kecurigaan akan ending film ini (ini pendapat saya -subjektif-, tidak menjadi pertimbangan penilaian): Mungkin Tarantino ingin mendekonstuksi karakter Landa yang sudah dibangun. Saya curiga ini sebuah kritikan Tarantino yang bermakna dalam seperti: “Orang yang nasionalis tinggi pun berpotensi mengkhianati negaranya”. Pesan ini berlaku umum, seperti: “orang yang membela mati2an sesuatu yg dicintainya, bisa juga berkhianat”.. Ini seperti sentilan untuk sifat dasar manusia yang dinamis. bisa berubah-ubah. tapi sekali lagi, saya belum dapat justifikasi dari kecurigaan itu, sehingga saya menilai pesan tersebut tidak mudah diterima penonton secara langsung.
      terima kasih

  2. tomo

    saya juga sedang mengedit film ini menjadi film tandingannya . judul nya yahudi si bangsat(jews the basterd). orang yahudi nggak tahu malu, minta dikasihani dalam peristiwa holocaust tapi berbuat lebih kejam terhadap bangsa palestina. film macem begini cuma menjadi propaganda yahudi bahwasanya ” orang yahudi pantas berbuat kejam pada siapa pun karena dulunya orang yahudi pernah disakiti”.

    • jirodanusastro

      Itu terserah bagaimana Anda menanggapinya. Saya hanya bisa menyarankan sebuah film perlu riset dalam untuk dibuat. Bila Anda ingin membuat film tandingan dgn mengedit film ini, silakan. Untuk konsumsi pribadi tidak masalah, tapi bila untuk konsumsi publik, tolong hati-hati dgn risiko hak cipta. Mengedit berarti Anda tetap menggunakan beberapa unsur dari film ini. Bila Anda siap dengan konsekuensinya, silakan. Dan lagi untuk substansinya. Jangan terburu-buru menggeneralisasi suatu hal. Orang Yahudi yang Anda maksud sepertinya hanya kelompok militan Israel yang menyerang Palestina, BUKAN orang Yahudi secara umum. Hati-hati. bahkan banyak sekali orang Yahudi yang mengutuk perlakuan sebagian orang Israel yang menyerang Palestina. Orang Yahudi di Yerusalem hidup damai dengan orang Nasrani dan Muslim. Orang Yahudi di Prancis juga banyak yang berpihak pada Palestina. Apa orang Yahudi seperti mereka juga menjadi sasaran film Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s