ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND

ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND

Kisah cinta Joel (Jim Carey) dan Clementine ‘Tangerine’ (Kate Winslet) merupakan salah satu kisah sepasang kekasih yang berjalan sama seperti pasangan pada umumnya. Pada awalnya, mereka menghabiskan dan menikmati waktu berdua dengan amat bahagia. Seperti pada pasangan yang lain, biasanya kisah awal berpasangan memang sangat manis, tetapi rasa manis itu semakin lama terasa seperti semakin memudar. Tak heran bila setelah beberapa lama mereka berpasangan, rasa manis itu seolah terlupakan dan yang menghiasi kehidupan mereka hanyalah perdebatan dan pertengkaran, hingga hal kecil pun dipermasalahkan. Saking jenuhnya Clem pada Joel, dia pergi ke sebuah klinik yang mampu menghapus memori kenangan dari otak. Clementine pun menghapus Joel dari pikirannya hingga saat mereka bertemu kembali Clem tidak mengenali Joel sama sekali. Setelah Clem, Joel pun melakukan hal yang sama untuk pergi ke klinik tersebut. Awalnya Joel sangat bangga dalam proses penghapusan memori itu, tetapi setelah memori itu semakin mundur, yang terlihat adalah kenangan-kenangan indah dengan Clem. Akhirnya Joel pun sadar betapa cintanya dia pada Clem. Apa daya, Joel harus berjuang menahan Clem dalam ingatannya agar tidak hilang 100%. Perjuangan yang sangat berat bagi Joel karena dia bisa lari dari penghapusan itu, tapi tidak bisa menghindarinya “you can run, but you can’t hide”.

Akting yang luar biasa untuk Kate Winslet. Bila melihat gambar-gambar yang diambil dari scenes film ini, mungkin akan terganggu dengan gaya Kate dalam film ini. Namun, ketika menonton, rasa terganggu itu tertutup dengan penjiwaan Kate yang sangat dalam. Penonton seakan tak akan melihat sosok Kate dalam film itu. Begitu pula dengan Jim Carey. Aktor yang biasanya membawakan peran dengan kekonyolannya, akan menunjukkan kualitas akting seriusnya. Hampir tidak ada adegan Jim yang melakukan tindakan konyol. Acungan jempol yang banyak untuk Jim atas perubahan karakter yang dibawakannya. Semua pemain pendukung dalam film ini pun menjalankan tugasnya dengan baik.

Sutradara menjalankan tugasnya dengan baik juga. Gondry berhasil memvisualisasikan skenario yang ditulis dengan sempurna olehnya bersama Charlie Kaufman. Inti cerita dari film ini dapat dipahami terutama pada adegan-adegan akhir. Cara seperti ini sangat unik untuk sebuah film karena seakan-akan memaksa penonton yang belum tahu latar belakang cerita ini untuk menonton film ini lebih dari satu kali agar memahami adegan awal.

Bila mengharapkan hiburan yang mengundang emosi penonton, film ini tidak menyajikannya di awal cerita. Penonton akan terbawa suasana kebingungan arah tujuan film ini. Namun, rasa penasaran akan timbul ketika menonton film ini. Untuk kejadian dalam film ini sebenarnya adalah masalah yang mungkin dialami setiap orang dalam kehidupan berpasangan. Akan tetapi, dengan sentuhan fiksi yang dikandung membuat cerita sederhana ini menjadi bercampur dengan imajinasi yang luar biasa.

Pesan cerita film ini akan jelas pada adegan-adegan akhir. Tak heran bila beberapa penonton butuh menonton film ini setidaknya dua kali hanya untuk melihat adegan-adegan awal karena adegan akhir menjawab semua kebingungan. Saran bagi yang belum menonton film ini adalah jangan berhenti menonton hingga akhir film. Kebingungan yang timbul berpotensi menciptakan kebosanan. Simpan saja kebingungan itu sendiri. Pesan yang dapat dipetik dari film ini berkaitan dengan rasa jenuh dalam sebuah hubungan berpasangan. Rasa jenuh itu berpotensi untuk memutuskan hubungan. Yang harus disadari adalah rasa jenuh itu sebenarnya bukan alasan untuk memisahkan hubungan berpasangan. Pisah yang disebabkan rasa jenuh akan menoreh penyesalan di kemudian hari karena pasangan itu pada dasarnya masih saling cinta.

Dengan adanya imajinasi yang membuat alat untuk menghapus sebagian memori otak sesuai dengan pilihan pasien, komputerisasi dalam film ini sangat mendukung sinematografinya. Hasilnya, komputerisasi tersebut digarap dengan sangat rapi.

Pemain: Jim Carey, Kate Winslet, Kirsten Dunst, Elijah Wood, Mark Ruffalo, Tom Wilkinson

Sutradara : Michel Gondry

Produser : Steve Golin, Anthony Bregman

Produksi : Anonymous Contents

Tahun : 2004

Akting : ( 10 )

Harmonisasi film : ( 9 )

Hiburan : ( 6 )

Pesan : ( 9.5 )

Sinematografi : ( 9 )

————————————————————-

Overall: ( 8.7 )

-DJD-

3 Comments

Filed under E

3 responses to “ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND

  1. wuri

    Film yang bagus…walau sebenarnya makna yang mau diungkapkan disini sederhana yakni “bila memang jodoh, gak akan kemana” hehehe… Tapi dengan penggarapan yang apik membuat film ini mempunyai nilai lebih…mulai dari ide ceritanya yang unik, sinematografinya yang keren banget…dan akting yang baik dari Kate dan Jim…

    Tapi di sini aku pribadi agak terganggu dengan akting dari Kirsten…peran Kirsten dan emosinya dia menjadi tidak jelas karena aktingnya yang juga gak jelas…

    Setuju juga dengan DJD, untuk menonton film ini akan timbul kebingungan di awal…dan rasa bosan yang terjadi juga dipengaruhi dengan sound efek yang digunakan dalam film ini…jadi berasa filmnya (dalam bahasa jawa) “kemeng” alias sepi…tapi rasa bosan dan bingung ini akan semakin lama semakin hilang karena rasa penasaran semakin menjadi…hingga semuanya terjawab di akhir film…jadi memang harus nonton sampai habis…

  2. verche

    akhirnya ketonton juga😀

    saya sempat bingung saat nonton film ini, kok pertemuan Joel dan Clem di awal film berbeda dengan apa yang diceritakan Joel.. ternyata oh ternyata… film ini memang harus ditonton sampai selesai.

    secara keseluruhan, film ini patut untuk ditonton. Akting Jim Carey dan Kate Winslet memang prima dalam film ini, meski dalam beberapa adegan Jim Carey masih memperlihatkan “kelebihan”nya dalam bermain watak. Daaaaan…. setuju juga dengan DJD dan Wuri, akting Kirsten di sini sangat amat mengganggu. Tapi memang secara pribadi saya ga suka sama Kirsten, hehe…

    Setuju lagi sama Wuri, pesan yang paling saya tangkap dari film ini adalah “kalo udah cinta apa boleh dikata, ga bisa diapa-apain lagi”. Seperti halnya Clem yang mencari sosok Joel yang “dicuri” oleh Patrick atau Mary yang tetap saja menyukai Howard meski sudah menghapus segalanya dari ingatannya.

    Overall, film ini menarik untuk ditonton, namun bagi yang mengharapkan drama tulen mungkin agak kecewa, karena film ini lebih pada permainan spekulasi daripada emosi (buat saya). Loncatan-loncatan ingatan Joel akan Clem yang sedikit demi sedikit mulai terhapus cukup menarik, namun mungkin akan membuat bingung sebagian orang. Kalau saya memang suka dengna film-film seperti ini, tapi mungkin film ini lebih cocok ditonton sesekali saja.

  3. yonce

    salah tuh ratingnya. mestinya 10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s