SABTU BERSAMA BAPAK

SABTU BERSAMA BAPAK

81da32650a9cee5c84d5c8ada86d50ec-002021600_1457426892-sabtu 

Kekhawatiran Gunawan (Abimana Aryasatya), yang tidak mampu melihat perkembangan keluarganya karena vonis dokter perihal pernyakitnya, memberikan ide untuk tetap hadir sebagai sosok ayah yang menjadi pemimpin keluarga. Gunawan merekam semua pesan yang ingin disampaikan pada anak-anaknya, Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra), sebagai pengganti kehadirannya. Pesan dari ayah yang bijaksana ini menjadi bekal keluarga kecil yang bahagia untuk menjalani hidup yang penuh dengan konflik. Kehangatan Sang Ayah yang menjadi jiwa di keluarga ini membuktikan kebijaksanaan dapat hidup tanpa kehadiran fisik.

Kematangan Abimana Aryasatya untuk mengimbangi akting Ira Wibowo menjadi nilai tambah film ini. Rasa yang dibangun oleh kedua tokoh ini memperkuat emosi yang dibangun oleh cerita yang sudah menyentuh. Pada dasarnya, semua tokoh penting dalam film ini sangat kuat menyampaikan pesan dialognya membuat menjadi nilai tinggi untuk kategori akting. Semua pemain bermain sesuai porsinya. Tantangan terlihat untuk permainan emosi tanpa harus ada twisted character sepanjang cerita. Kelemahan masih dialami seperti film Indonesia pada umumnya yang menempatkan pemain figuran seakan sebagai ‘pelengkap’. Kekuatan sutradara menjadi sangat diuji ketika harus mengarahkan figuran yang terlihat tidak ‘menyatu’ dengan tokoh lainnya. Permasalahan teknis yang perlu mendapat perhatian ke depannya karena menghambat akting pemain penting dalam film bila susah membangun chemistry dengan pemain figuran. Pemain figuran masih terlihat belum mendapat porsi sebagai pemain yang profesional.

Kasus profesionalitas pemain figuran menjadi salah satu detail yang masih menjadi PR dari sutradara. Hal ini memaksa sutradara harus pintar-pintar menyiasati figuran yang aktingnya ‘belum terlatih’. Beban berat sutradara ini menjadi menumpuk ketika tim luput akan detail yang dapat mempengaruhi produksi dari sebuah cerita yang sangat kuat. Detail lain yang luput dari keharmonisan film ini adalah masalah latar waktu dan tempat yang (lagi-lagi, saya yakin) terbentur karena masalah teknis produksi. Keterbatasan produksi dengan setting luar negeri adalah kesinambungan cerita yang perlu diperhatikan dengan latar sebenarnya. Negara 4 musim memiliki durasi waktu tersendiri yang perlu disiasati bila ingin menggunakan latar waktu dengan durasi yang panjang. Keharmonisan akan menjadi masalah bila film menyebut memberikan penunjuk waktu yang tidak relevan dengan latar tempat. Namun, kekuatan film ini adalah pada tim tata rias yang mampu memberikan porsinya yang pas untuk menguatkan beberapa efek karakter dalam film.

Nilai tertinggi dalam film ini adalah bagian hiburan. Permainan emosi yang dibangun sejak film dimulai memberikan kesan tersendiri dalam 10 menit pertama film dimulai. Hal ini memberikan kesan yang sangat baik untuk film yang dapat dinikmati hingga akhir. Dinamika perasaan penonton dimainkan melalui berbagai macam adegan yang mengundang tawa, sedih, amarah, bahkan kecewa. Rasa haru yang mewarnai film ini membuat hampir semua adegan bermakna untuk dikenang.

Kekuatan pesan cerita dan pesan film yang dapat diperoleh penonton juga menjadi hadiah ketika menonton film ini. Kompleksitas masalah tokoh menjadi menarik diikuti sepanjang cerita. Hal ini dipertajam dengan pesan-pesan hidup yang dapat dijadikan pelajaran untuk menyikapi hubungan orang tua dan anak. Kebijaksanaan yang ditampilkan melalui dialog dan sikap setiap tokoh membuat film ini memiliki tempat tersendiri untuk penonton. Menurut saya, film ini sangat tepat untuk dikoleksi karena pesan-pesan indah yang dapat membawa kedamaian, terutama untuk hubungan orang tua dan anak.

Permainan warna untuk menunjukkan perbedaan zaman menjadi teknik sinematografis yang unik dalam film ini. Hal ini diperkuat dengan detail properti dan kostum yang menunjang pengambilan gambar yang cukup kompleks. Mengingat rekaman video adalah properti utama dari film ini, pengambilan gambar yang pas sebagai framing kisah yang mengharukan. Eksplorasi yang tinggi ketika menggunakan teknik yang berbeda untuk menunjukkan dimensi yang lain, seperti mimpi. Eksplorasi sinematografis yang perlu diperhatikan ketika mengambil shot eksterior di negara asing. Apalagi bila tersebut merupakan tempat yang ramai. Stock character yang terambil perlu dipertimbangkan karena berpotensi mengurangi nilai gambar. Namun, kekuatan musik memberikan nilai tambah pada aspek sinematografis yang dapat menguatkan emosi setiap adegan.

 

Pemain: Abimana Aryasatya, Ira Wibowo, Arifin Putra, Deva Mahenra, Acha Septriasa, Sheila Dara Aisha

Sutradara: Monty Tiwa

Produser: Ody Mulya Hidayat

Produksi: Max Pictures

Tahun: 2016

Untitled

Akting : bintang 8

Harmonisasi film : bintang 4

Hiburan : bintang 10

Pesan : bintang 9

Sinematografi : bintang 7 stgh

————————————————————-

Overall: bintangall 8( 7.7 )

 

-JD-

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under S

KURUNG MANUK

KURUNG MANUK

 kurung manuk poster

Masa lalu Manuk (Prasajadi Heru) sangat mempengaruhi kehidupannya di saat dewasa. Ketakutan, kekecewaan, dan keprihatinan hidupnya membuatnya menjadi seorang pria kesepian yang hidup bersama kenangan dan imajinasi absurd yang dimilikinya. Kesepian di saat dewasa ditambah rasa yang dibawanya dari masa lalu membuat Manuk menjadi orang yang memiliki perhatian dan obsesi tinggi terhadap perempuan bernama Wani (Citra Lubis). Obsesi dan dendamnya menjadi seperti bom waktu yang terlihat tenang di selama prosesnya dan akan meledak di waktu yang tidak terduga.

Sebuah film dengan semangat surealis dengan memberikan gambaran imajinatif yang sangat banyak membuat film ini memiliki kekuatan tersendiri. Akting setiap pemain di dalamnya menjadi minimalis dengan porsi yang sangat pas untuk sebuah film dengan gaya ini. Sebagian besar pemain dapat mendukung gaya surealis dengan karakterisasi yang konsisten untuk menampilkan pilihan tokoh yang unik. Beratnya memainkan sebuah film dengan semangat surealis adalah dapat menginterpretasikan sebuah logika cerita yang melawan logika empiris sebagai manusia yang real. Logika cerita ini menjadi strategi untuk menggambarkan ide yang tidak terlihat secara fisik dan ingin disampaikan.

Keberanian Sigit Pradityo untuk mengangkat film dengan gaya yang surealis sangat berani mengambil risiko. Acungan jempol bisa diberikan atas usahanya untuk menggunakan sarana dan prasarana sederhana yang dimaksimalkan untuk sebuah cerita surealis imajinatif. Beberapa kendala teknis ditemukan untuk menyamakan warna film dengan setting yang diambil dalam film. Masalah lain yang didapati ketika menonton film ini adalah isu-isu yang melatari pembangunan cerita untuk digunakan sebagai kritik. Cerita utama yang mengangkat masalah sosial psikologis pribadi Manuk dengan gaya surealis diwarnai dengan adanya isu kriminal, sosial, politik, budaya di masyarakat. Masalah bukan pada porsinya, namun terasa ada lompatan ide yang memaksa penonton untuk memahami lebih dalam setiap isu yang disinggung. Menurut saya, film ini akan lebih kuat dari segi pesan dan hiburan bila fokus pada masalah psikologis Manuk dengan penggambaran imajinasi yang lebih dalam tentang masa lalu. Editing yang cukup rinci untuk menghubungkan pesan antar-scene dapat membuat film ini mengeluarkan idenya sejak awal dan dapat diikuti tanpa masalah. Film ini dapat dijadikan pembelajaran penonton untuk menikmati sebuah film dengan semangat surealis.

Film ini memiliki nilai hiburan yang terbatas pada penikmatnya. Bila belum terbiasa dengan film yang memiliki semangat surealis, logika empiris kita akan membatasi semua efek sinematografis yang diberikan. Perlu ada kepekaan pada inti cerita dan menerima segala suguhan surealis dari gambar. Film ini cukup menghibur mengingat beberapa gaya surealisnya dapat menjadi memori khusus pada penonton merujuk sebuah pesan psikologis tokoh. Hambatannya ada pada keterbatasan penyeragaman warna antara dunia nyata dan dunia imajinatif. Ada hambatan pula pada pengaturan setting mengingat setting yang digunakan adalah lokasi nyata yang ada di ‘lapangan’, bukan studio.

Kekuatan terbesar film ini adalah pada pesan yang tersirat di dalam penceritaan surealis yang disajikan. Pesan ini digunakan sebagai refleksi masalah psikologis tokoh. Setiap penggambaran imajinasi yang ditampilkan dapat dikaitkan dengan keadaan psikologis setiap tokoh yang dipengaruhi masa lalu, emosi, keadaan sosial, maupun tekanan lingkungan di sekitarnya. Refleksi ini dapat dijadikan renungan penonton untuk mempertanyakan hal yang filosofis mengenai beberapa hal yang mendasar atau dianggap tabu karena bertentangan dengan norma yang ada. Dengan kata lain, pesan film ini justru mengarahkan penonton pada eksistensi tokoh dilihat sebagai individu yang pasif secara sosial, namun aktif dalam pemikirannya. Penyampaian pesan yang baik dalam sebuah film bergaya surealis. Kritik yang dibangun dalam film ini juga dapat menyatu dengan berlangsungnya cerita. Pesan mengenai tema kesepian, dendam, dan memori masa lalu menjadi kompleks dengan isu di masyarakat, seperti kekuasaan, kriminal, kritik politik, kemiskinan masyarakat, dan kesenjangan sosial.

Pengambilan gambar yang sederhana, namun cukup jeli untuk mengambil angle yang efektif setiap scene mampu memperlihatkan identitas film ini. Animasi yang unik mampu menjadi ciri khas film ini dan dapat menjadi unsur yang memorable. Scoring music dapat mendukung setiap adegan yang diperlukan. Sayangnya, warna film yang terbilang khas mendapat benturan dengan masalah persiapan setting. Latar interior terasa lebih bebas untuk penataan dibandingkan latar eksterior. Kendala ini yang memberikan perbedaan warna setting dan mengurangi esensi surealis. Harapan pada perkembangan film Indonesia surealis dapat dimulai dari kehadiran film seperti Kurung Manuk.

 

Pemain: Prasajadi Heru, Rhoald Marcellius, Ari Satria, Osh Indah, Citra Lubis

Sutradara : Sigit Pradityo

Produser : Sigit Pradityo

Produksi : Mercusuar Production

Tahun : 2016

kurung manuk

Akting : bintang 7 stgh

Harmonisasi film : bintang 6 stgh

Hiburan : bintang 6

Pesan : bintang 8 stgh

Sinematografi : bintang 6 stgh

————————————————————-

Overall: bintangall 7( 7 )

 

-JD-

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under K

ADA APA DENGAN CINTA? 2

ADA APA DENGAN CINTA? 2 Ada-Apa-Dengan-Cinta-AADC-2

Yogyakarta menjadi saksi pertemuan kembali Cinta (Dian Sastrowardoyo) dan Rangga (Nicholas Saputra). Pertemuan yang tak diduga setelah 9 tahun Rangga memutuskan cinta secara sepihak tanpa sebab yang jelas. Waktu pun memulihkan Cinta hingga akhirnya berencana menikah dengan Trian (Ario Bayu). Ya, pertemuan Cinta dan Rangga terjadi di waktu yang tidak tepat. Semua sudah terlambat. Film ini bertanggung jawab untuk memberikan waktu satu hari pada Rangga untuk dapat menjelaskan semua yang terjadi agar Cinta dapat menjalani kehidupan dengan tenang tanpa dihantui masa lalu yang tidak jelas.

Acungan jempol patut diberikan pada Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo yang berhasil mengeksekusi film ini dengan baik. Ikatan di antara Rangga dan Cinta dapat menghibur penonton yang terbilang sudah penasaran dengan kelanjutan kisah mereka. Setelah melewati pengalaman yang panjang hingga akhirnya tiba di AADC2, semua pemain memiliki kematangan akting yang mumpuni. Akting Nico dan Karmen (Adinia Wirasti) terlihat sangat kuat karena berperan penting untuk menjelaskan semua detil, bahkan detil perasaan yang tidak divisualisasikan dalam film: kesepian, kesedihan, kerinduan, dan masalah pribadi setiap karakter yang sudah tertimbun lama. Akting Dian Sastro pun tak luput dari apresiasi untuk segala detil gestur yang menggambarkan perasaan aktual tokoh. Hampir semua pemain terbantu karena sudah ‘terbiasa’ dengan kamera. Faktor ini menjadi penyelamat teknis, sehingga film ini dapat dinikmati sampai akhir cerita.

Kekuatan Riri Riza sebagai sutradara memang perlu diakui kehebatannya. Segala rangkaian cerita terbilang rapi. Eksekusi untuk sebuah film yang diwarnai kata-kata puitis menjadi sangat populer di tangan Riri Riza. Kronologis cerita tersampaikan dengan baik, bahkan untuk cerita yang terjadi dalam 14 tahun terakhir antara Cinta dan Rangga. Logika yang dibangun sangat rapi dan cukup detil. Benturan durasi film tidak terlalu menjadi penghalang di film ini untuk menjelaskan semuanya. Kecerdasan Riri Riza juga terlihat ketika menyeimbangkan kepuasan sponsor dan penonton. Hal ini menjadi contoh yang baik untuk film populer di masa sekarang ini.

Jelas film ini menjadi film yang sangat menghibur. Penonton akan dengan mudah tertawa, menangis, kesal, bahkan memihak pada tokoh tertentu. Yang paling jelas adalah penonton akan dibawa “senyum-senyum” dari awal film hingga akhir, entah apa yang dipikirkan setiap penonton. Hal ini membuat film ini dapat dinikmati semua kalangan, bukan hanya untuk memuaskan penggila AADC 1 saja. Hiburan ini menjadi nilai tertinggi, sehingga penonton pun sebaiknya menikmatinya sebagai sebuah film hiburan yang dapat melepas penat dari dunia nyata kita semua. Film ini mengembalikan hakikat sebuah film sebagai media hiburan.

Pesan film ini tersampaikan cukup baik untuk hubungan logis tiap adegan. Alur yang diceritakan dengan rapi membuat film ini tidak memusingkan penonton. Film ini sudah berupaya semaksimal mungkin untuk memasukkan semua elemen yang menjadi semangat film. Ada semangat cinta sastra yang menjadi nafas dari AADC 1. Film ini memberikan perkembangan aplikasi sastra yang dapat dipopulerkan di generasi muda. Film ini juga menjadi cerminan isu sosial dan budaya yang disentil secara halus. Semangat berkesenian membuat film ini akan digemari orang-orang yang merasa cinta seni. Film ini memberikan mimpi untuk kehidupan ideal dari orang yang mencintai seni. Sedikit terkesan utopis, namun terlihat logis. Akan tetapi, banyaknya semangat yang ingin disampaikan cukup mengaburkan fokus utama film ini.

Pemilihan lokasi dan waktu yang sangat tepat untuk menyiasati segala kendala teknis yang ada. Pengambilan gambar untuk memaksimalkan keindahan gambar juga menjadi “nilai jual” film ini. Ada kesan film ini mengambil kesempatan agar “tidak kehilangan momen” pada beberapa gambar yang diambil. Tidak buruk, sangat indah, tapi kurang cukup menguatkan cerita inti. Pertimbangan yang bijak untuk menghargai hasil kerja seluruh tim untuk menghasilkan film yang indah dilihat. Acungan jempol dapat diberikan pada tim make-up dan kostum yang bisa dibilang sangat detil untuk menggambarkan perasaan, keadaan, hinggal selera karakter yang beragam.

 

Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Adinia Wirasti, Sissy Priscillia, Titi Kamal, Dennis Adhiswara

Sutradara : Riri Riza

Produser : Mira Lesmana

Produksi : Miles Films, Legacy Pictures

Tahun : 2016

Trailer-AADC-2-3

Akting : bintang 8

Harmonisasi film : bintang 8 stgh

Hiburan : bintang 10

Pesan : bintang 7 stgh

Sinematografi : bintang 8

————————————————————-

Overall: bintangall 8 stgh( 8.4 )

 

-JD-

 

 

 

Leave a comment

Filed under A

STAY WITH ME

STAY WITH ME
072986400_1442225164-boy_william

Apa konsekuensi dari sebuah ucapan janji untuk hidup bersama? Kesetiaan. Ini yang harus dihadapi oleh Boy Dimas (Boy William) dan Deyna (Ully Triani) ketika Deyna harus meninggalkan Boy untuk melanjutkan hidup di luar negeri. Berapa lama orang bisa setia dengan cinta yang tanpa kabar semenit pun? Waktu menjadi penghalang kesetiaan mereka, 6 tahun berlalu, Boy dan Deyna sudah berkeluarga dengan pasangan hidup masing-masing. Waktu pula yang mempertemukan mereka untuk menguji kesetiaan mereka dengan keadaan tersebut. Film ini memang tentang kesetiaan. Kesetiaan pada orang yang dicintai atau pada pasangan hidup yang dipilih?

Film ini menjadi cerita cinta baru yang ditawarkan Rudi Soedjarwo. Kisah yang jauh berbeda dari Ada Apa dengan Cinta? atau Tentang Dia. Bukan kisah cinta yang berjalan menuju happy ending. Kisah cinta kali ini sudah diawali dengan bahagia. Perjalanan cinta yang awalnya sudah bahagia diceritakan tidak selalu menjadi bahagia ketika banyak rintangan di dalamnya. Kekuatan dialog film ini mengantar perasaan setiap tokoh. Dialog sederhana, namun penuh rasa dapat disampaikan dengan baik oleh pemain-pemain yang terbilang baru dalam dunia film. Perkembangan emosi sangat terlihat di setiap scene, sehingga mampu mengantar penonton untuk dimainkan perasaannya. Tuntutan untuk bermain senatural mungkin yang meringankan film ini untuk dinikmati. Karakter yang sebenarnya bisa kita temui di sekeliling kita.

Film ini memiliki kesan awal sebagai film yang datar karena banyak scene yang terasa panjang. Panjangnya scene guna mengikuti pembangkitan emosi yang dirasakan setiap tokoh. Bila dipikir lebih detil, semua scene, baik yang panjang maupun yang singkat, menjadi sangat penting untuk film ini. Menurut saya, tidak ada scene yang sia-sia. Tanggung jawab besar memang ada di pemain karena film ini padat dengan perkembangan emosi tokoh dari awal hingga akhir film. Perkembangan cerita tidak terlihat signifikan, sehingga kesan datar itu muncul. Film ini mengutamakan karakter yang menjadi cerita utama. Ilustrasi musik pun berfungsi untuk membantu pembawaan emosi penonton, bukan penanda adegan berikutnya (tidak seperti pola yang sering digunakan untuk film horor atau komedi).

Dengan fokus pada tokoh dari awal hingga akhir film di dalam cerita yang terbilang sederhana ini, mungkin untuk penonton yang menginginkan nilai hiburan yang tinggi perlu menyiapkan diri untuk menikmati akting yang kuat dari pemain. Film ini tidak melakukan twist cerita yang signifikan. Kesederhanaan menjadi nilai lebih dalam film ini. Cerita sederhana yang diceritakan dengan sangat istimewa mengajak penonton untuk menikmati emosi setiap scene, bukan untuk menebak adegan berikutnya. Ini sebuah kisah perjalanan cinta, bukan misteri cinta.

Pusat film ini jadinya lebih pada pesan yang ingin disampaikan pada penonton, baik pesan cerita maupun pesan moral yang dapat diambil. Pesan cerita melalui pemain membuat penonton akan merefleksikan cerita Boy dan Deyna pada kehidupan pribadi atau kisah cinta yang diketahui di dunia nyata, sehingga penonton akan merasa dekat dengan tema cerita cinta seperti ini. Temanya sederhana: kesetiaan. Tema sederhana ini menjadi pesan yang akan dibawa penonton dalam film ini lebih. Kisah Boy dan Deyna membuat berpikir mengenai makna kesetiaan: setia pada cinta atau pada komitmen? Itu pilihan yang personal, setiap orang bebas memilih.

Satu lagi nilai tinggi dalam film ini adalah pengambilan gambar yang mengutamakan momen di setiap pembangkitan emosi tokoh. Acungan jempol diberikan untuk eksplorasi angle untuk mendapat momen secara utuh dan maksimal. Sekali lagi, pengambilan gambar yang sederhana dapat memberikan nilai yang lebih untuk memaksimalkan momen di setiap scene. Banyak pengambilan gambar yang menguatkan film ini untuk dikenang. Intinya, kesederhanaan membuat film ini bernilai.

 

Pemain: Boy William, Ully Triani, Natasha Ratulangi, Firman Subagja, Nathalie Pandoyo

Sutradara : Rudi Soedjarwo

Produser : Tyas Abiyoga, Rudi Soedjarwo, Aulia Mahariza

Produksi : IFS

Tahun : 2016

maxresdefault

Akting : bintang 8

Harmonisasi film : bintang 7 stgh

Hiburan : bintang 6

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 9

————————————————————-

Overall: bintangall 8( 8.1 )

–DJD–

 

 

Leave a comment

Filed under S

LA VIE D’ADÈLE (BLUE IS THE WARMEST COLOR)

LA VIE D’ADÈLE – CHAPITRE 1 & 2

(BLUE IS THE WARMEST COLOR)

 La vie d'adele KP

Sesuai judul bahasa Prancisnya yang memiliki arti “Kehidupan Adèle – Bagian 1 dan 2”, film ini mengisahkan kehidupan Adèle (Adèle Exarchopoulos) yang dimulai dari kehidupannya di SMA. Fokus cerita film ini ada pada kehidupan percintaan Adèle yang dimulai dari melihat Emma (Léa Seydoux) di jalan secara tidak sengaja. Mereka tidak saling mengenal, namun kehadiran Emma cukup mengganggu pikiran Adèle. Adèle mulai merasa bimbang dengan pilihan hatinya. Akhirnya, ia yang awalnya ingin mencari jawaban dengan mencoba memasuki gay cafe khusus lesbian, justru malah menemukan Emma di dalamnya dan mereka pun akhirnya berkenalan. Mereka akhirnya menjalankan kehidupan mereka berdua. Hubungan mereka terus diceritakan hingga mereka hidup bersama dalam waktu yang lama. Mereka pun memiliki kesibukan masing-masing walau tinggal bersama. Inilah yang menjadi bagian kedua (menurut saya) cerita ini. Kehidupan untuk mempertahankan hubungan mereka dalam waktu yang panjang. Rasa jenuh dan ‘gangguan’ dalam hubungan pun terjadi. Bagaimana menyikapinya? Yang jelas hidup terus berlanjut. 

Film yang memenangkan 45 penghargaan bergengsi di dunia ini (termasuk meraih Palme d’Or di Festival Film Cannes 2013), didominasi oleh penghargaan untuk kategori film terbaik dan aktris terbaik: baik untuk Adèle Exarchopoulos, maupun Léa Seydoux. Patut diakui kehebatan akting Adèle dan Léa untuk film ini. Léa yang terbilang bukan aktris baru di perfilman Prancis bermain sangat mengagumkan untuk mendalami karakternya. Dia melepas semua karakter yang pernah dimainkan sebelumnya. Dia benar-benar memberikan jiwa untuk karakter Emma secara total. Sedangkan Adèle yang berperan sebagai Adèle langsung melejit sebagai aktris pendatang baru. Kekuatan akting yang luar biasa dari Adèle mengisi setiap scene yang dimainkannya. Apa yang dirasakan oleh tokoh Adèle mampu membuat penonton merasakan apa yang dirasakan Adèle ATAU justru ingin menyalahkan Adèle atas segala yang terjadi padanya. Ini tergantung kacamata yang dipakai penonton ketika menonton.

Keberhasilan film ini tentu saja berkat tangan Abdellatif Kechiche yang ‘langganan’ meraih penghargaan dengan filmnya yang berkualitas. Detail yang sangat rapi oleh Kechiche membuat setiap scene berguna. Tidak ada scene yang bersifat katalisator (hanya untuk mempercepat peristiwa). Semua scene terbangun dengan baik hingga semua rasa dapat diterima oleh penonton. Kepiawaian Kechiche juga terlihat dari bagaimana dia membuat film yang bertema gay/lesbian dengan pesan-pesan yang sangat universal. Sesuatu yang dibangun oleh Kechiche dalam film ini mampu dianalogikan pada kehidupan pasangan heteroseksual sekalipun walaupun penggambaran lesbian dalam film ini sangat kental. Menurut saya, hanya Kechiche yang mampu membuat cerita ini menjadi universal.

Film berdurasi hampir 3 jam ini tidak terasa ketika kita mengikutinya secara saksama. Rasa ini terbawa akibat rasa yang dialami Adèle sangat berwarna, mulai dari awal ia jatuh cinta dengan Emma hingga usaha dia mempertahankan rasa cintanya itu setelah hidup bersama. Rasa geregetan, sedih, dan haru mewarnai sepanjang film ini. Sekali lagi, film ini bersifat universal karena hubungan yang dibangun Emma dan Adèle sangat nyata. Dengan demikian, apa yang terjadi pada Emma dan Adèle mungkin dan bisa saja dialami oleh semua hubungan berpasangan. Ketika menonton film ini, kita bisa menjadi memihak pada Adèle, memihak pada Emma, atau kita menyalahkan keduanya saat hubungan mereka retak. 

Pesan film ini yang sangat universal membuat film ini sangat cocok untuk menjadi introspeksi setiap pasangan di kehidupan nyata. Walaupun Adèle dan Emma menjalani hubungan sejenis, tapi pesan moral yang ingin disampaikan bisa diterapkan pada semua hubungan karena Adèle dan Emma masih menjalankan peran gender maskulin dan feminin dalam hubungan mereka. Kegagalan pada sebuah hubungan adalah kesalahan dua pihak. Semua tergantung komunikasi dan kesepakatan. Satu pesan yang paling umum adalah masalah hati dan masalah ketubuhan adalah dua hal yang berbeda. Orang yang kita cintai belum tentu menjadi orang yang tepat untuk menjadi pasangan kita. Apapun yang terjadi pada masalah-masalah itu, hidup terus berlanjut. Ending yang terbuka membuat penonton bebas untuk menentukan sendiri dirinya mendukung siapa yang salah pada hubungan tersebut. 

Aspek sinematografis yang penting dalam film ini berkenaan dengan pengambilan gambar dan penempatannya di dalam film. Bukan teknik yang gemilang, mengingat sepanjang film didominasi penggunaan handheld camera, melainkan pengambilan momen yang pas setiap scene yang membuat film ini menjadi bermakna. Mungkin untuk penonton Indonesia pada umumnya, ada beberapa adegan yang tidak berterima karena perbedaan budaya. Keintiman mereka tidak berlaku untuk keperluan gambar semata, tapi pada akhirnya, penonton akan lebih merasakan apa yang dirasakan Adèle karena suasana yang dibangun di keintiman mereka berdua. 

Pemain: Adèle Exarchopoulos, Léa Seydoux, Jérémie Laheurte, Mona Walravens

Sutradara : Abellatif Kechiche

Produser : Abellatif Kechiche, Brahim Chioua, Vincent Maraval

Produksi : Wild Bunch, Quat’sous Films

Tahun : 2013

 LVA_08

Akting :  bintang 10

Harmonisasi film : bintang 10

Hiburan : bintang 6 stgh

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 8

 ————————————————————-

Overall: bintangall 9( 8.9 )

–DJD–/@kritikpenonton

 

 

Leave a comment

Filed under B, V

LA GRANDE BELLEZZA (THE GREAT BEAUTY)

LA GRANDE BELLEZZA 

(THE GREAT BEAUTY)

lagranb  

Seorang jurnalis sekaligus novelis, Jep Gambardella (Toni Servillo), yang akhirnya menjadi ikon kaum sosialita Italia, memutuskan untuk berhenti menulis dan mengamati kehidupan sosial yang dimilikinya dengan kalangan jet set. Dengan demikian, novel pertamanya tersebut sekaligus menjadi satu-satunya masterpiece dalam hidupnya. Ada alasan yang membuat dia berhenti untuk menulis. Namun, dia suka sekali mengamati kehidupan orang sekitarnya dengan memerhatikan tingkah lakunya. Dalam kehidupan glamornya, Jep Gambardella memiliki banyak kenalan dengan karakter yang beragam. Dia berusaha mencari tahu apa yang pola pikir orang-orang di sekitarnya. Dia merasa ada benturan prinsip yang terjadi di lingkungannya. Benturan ini berkaitan banyak hal, salah satunya adalah waktu. Dia semakin tidak memahami pola pikir seni maupun pandangan hidup, bahkan prinsip agama di generasi modern. Hasil dari pengamatannya menghasilkan keinginannya untuk menulis kembali.

 Akting pemain yang luar biasa mengantarkan film ini menjadi film yang penuh makna. Semua pemain membawakan peran sekecil apapun menjadi sangat berarti. Kekuatan permainan akting yang dibantu dengan make up yang sangat baik membuat penonton mengenali karakter tokoh. Yang hebat adalah Toni Servillo sebagai Jep Gambardella yang bertindak selaku tokoh utama sekaligus otak penonton. Dia terlihat tidak memiliki karakter yang dinamis, namun pemikirannya yang dinamis sesuai dengan pengetahuan penonton seperjalanan film. Konflik dirasakan di tokoh-tokoh sekitar tokoh Jep Gambardella

Gaya penceritaan yang tidak biasa oleh Paolo Sorrentino membuat penonton hampir tidak memahami pola film di awal. Sutradara rasanya ingin menjejali penonton dengan kritik-kritik sosialnya melalui penggambaran kehidupan sosial di sekitar. Memang digarap cukup realis dengan men’cuplik’ cerita-cerita orang di sekitar tokoh utama tanpa mendetail sesuai dengan yang dirasakan tokoh utama pada cerita, sekaligus yang dirasakan penonton. Pola penceritaan seperti ini tidak universal sifatnya. Jadi, bila otak kita memaksa untuk mengikuti alur ceritanya, maka kita akan bosan karena kita sudah berasumsi. Bukan kejutan twist cerita yang kita dapatkan, tapi pemikiran tentang adegan tersebut yang dikemas secara tersirat. Jadi, otak kita akan dipaksa untuk berpikir dan memadankan dengan kehidupan sekitar kita. Dengan demikian, film ini sangat cerdas digunakan sebagai sebuah kritik sosial tanpa menggurui penonton.

Memang bila melihat dari nilai hiburan, film ini tidak menyajikan sesuatu yang ‘memanjakan penonton’ dari segi penceritaan. Penonton akan lebih memerhatikan karakter tiap tokoh dan aspek visual dari sinematografis yang disajikan hingga mampu mengalihkan perhatian pada cerita. Namun, film ini memang bukan untuk film yang bersifat hiburan. Film ini menampilkan serealis mungkin hingga seperti cerminan kehidupan biasa. Bisa menjadi bahan pertimbangan bahwa: bila kita bosan menonton film ini, apakah kita juga bosan dengan melihat kehidupan di sekitar kita pada kenyataannya? Inilah yang ingin disinggung. Kita menganggap yang terjadi di sekitar sudah biasa, padahal banyak yang bisa diperhatikan dari orang-orang di sekitar kita yang fake.

 Film ini menjadi film filosofis yang sarat akan kritik sosial. Pesan-pesan tajam yang menyinggung moral masyarakat modern menjadi fokus cerita film ini. Bila kita mencerminkan karakter-karakter di film ini pada orang di sekitar kita atau bahkan pada diri kita sendiri, maka kita film ini akan membuat kita berintrospeksi diri. Pesan cerita akan didapat bila kita tidak berusaha mencari hubungan antartokoh sepanjang film. Kita hanya perlu tahu identitas tokoh itu dan menikmati apa yang dilakukan tokoh tersebut. Dengan pikiran yang fokus pada film ini, maka kita akan mendapatkan pesan moral berkaitan dengan apakah kita juga sebegitu egoisnya seperti tokoh-tokoh yang ada di cerita ini. Sebagian orang dengan pengalaman yang dirasa banyak cenderung akan “merasa ahli” dari pengalamannya sehingga melakukan sesuatu karena “pikiran kita yang mengatakan kita yang lebih tahu” bukan karena “hati kita yang mengarahkan kita bertindak”. Beberapa golongan dikritik kehidupannya di sini. Kaum sosialita yang bersenang-senang biar menunjukkan statusnya, bukan karena hatinya yang ingin berpesta. Kaum seniman yang berkarya bukan lagi dari hati dan imajinasinya, tapi berlandaskan ideologi absurd yang hanya dia sendiri yang memahami agar orang yakin dia seniman hebat. Kaum agamawan yang mengagung-agungkan seseorang karena eksistensi dari kehadirannya yang terasa, bukan karena hatinya yang memang ingin memuja. Oleh karena itu, in a simple way, film ini ingin menyinggung bahwa “semua orang itu fake di setiap tindakannya.” 

At least, sepusing-pusingnya menonton film ini, yang paling bisa dinikmati sama semua orang adalah pengambilan gambar yang dinamis dan berwarna. Detail yang dimaksimalkan di dalam gambar membuat penonton terasa berada di dalam frame. Kekuatan make up dan kostum serta properti yang menguatkan suasana film tersampaikan dengan baik ke mata penonton. Shot yang rapi terlihat dari setiap frame.

Pemain: Toni Servillo, Carlo Verdone, Sabrina Ferilli, Carlo Buccirosso, Serena Grandi.

Sutradara : Paolo Sorrentino

Produser : Francesca Cima, Nicola Giuliano

Produksi : Indigo Film, Medusa Film, Babe Film, Pathé, France 2 Cinéma

Tahun : 2013

greatbeauty02

Akting : bintang 9 stgh

Harmonisasi film : bintang 5

Hiburan : bintang 4

Pesan : bintang 10

Sinematografi : bintang 10

 ————————————————————-

Overall: bintangall 8( 7.7 )

– DJD–

 

 

 

 

Leave a comment

Filed under G

THE FIGHTER

THE FIGHTER

 

Micky Ward (Mark Wahlberg) adalah harapan keluarga Ward untuk menjadi petinju profesional yang dapat menjadi kebanggaan. Untuk itu, Micky dilatih oleh kakaknya, Dicky Eklund (Christian Bale), yang merupakan mantan atlet tinju, tapi sekarang terjebak pada kecanduan alkohol dan narkotika. Kehidupa keluarga ini tidak ada masalah hingga muncul Charlene Fleming (Amy Adams) yang seakan menyadarkan bahwa Micky semacam menjadi robot keluarga Ward yang terlalu diatur oleh kakak dan ibunya (Melissa Leo). Konflik antarpribadi pun terjadi dan Micky yang harus mengendalikan konflik itu agar dapat berjalan dengan baik.

Salah satu nominasi film terbaik pada Oscar 2011 ini menghadirkan pemain-pemain dengan akting yang luar biasa. Tidak heran bila melihat hasil bahwa Melissa Leo dan Christian Bale mendapatkan penghargaan di banyak festival film. Akting mereka yang total dan juga pembawaan karakter yang membuat mereka tampak berbeda dari beberapa film mereka yang lain. Tidak hanya mereka berdua yang berakting hebat, tetapi juga Mark Wahlberg dan Amy Adams menunjukkan totalitas mereka dengan menyeimbangkan porsi mereka yang menjadi peran penting dalam perubahan karakter Micky. 

Sutradara membuat film ini seakan-akan film semi-dokumenter karena memang berdasarkan kisah nyata dengan mengawali dan mengakhiri adegan dengan interview Micky dan Dicky. Penonton dapat terbawa pada genre drama yang tidak menggambarkan konflik kehidupan sehari-hari. Editing film ini pun tidak merusak pesan yang akan disampaikan. Penonton tetap dapat meruntut sendiri kejadian demi kejadian hingga memahami apa dasar konflik dari film ini.

Film ini mampu membawa suasana konflik dalam film terasa pada penonton sehingga penonton dapat merasa ‘geregetan’ seperti di dalam film. Film ini dapat dinikmati oleh banyak orang, tidak hanya terpaku pada penonton yang menggemari tinju saja. Rasa haru, sedih, senang, dan puas dapat dirasakan oleh penonton. Cerita yang terinspirasi dari kisah nyata ini benar-benar terasa dekat dengan kehidupan semua orang.

Jalan cerita film ini dapat dipahami penonton dengan baik. Alur yang cenderung kronologis membuat penonton mudah untuk memahami hubungan antara satu adegan dengan adegan lain. Yang hebat dari film ini adalah, penyampaian pesan yang dapat dipetik penonton bersumber dari kekuatan pembawaan karakter setiap pemain. Penonton diajak memahami peran setiap tokoh dalam film ini, sehingga penonton akam mengerti perasaan setiap tokoh pada konflik personal maupun konflik antartokoh yang terjadi. Penonton akan berpikir “Kalau saya jadi si … mungkin akan melakukan hal yang sama.” Diharapkan penonton dapat lebih bijaksana menghadapi orang lain karena setiap orang memiliki idealisme sendiri-sendiri yang diyakini benar oleh pribadi masing-masing.

Film dengan sinematografi cukup baik untuk film yang terinspirasi dari kisah nyata. “Warna” film yang sama sepanjang film sedikit membuat penonton bosan dan kurang dapat menerima klimaks dari film ini. Hal ini menjadi baik karena tema dasar dari film ini yaitu membuat se-nyata mungkin, sehingga terasa seperti kejadian sehari-hari. Kesan itu sangat bisa diterima oleh penonton. 

Pemain: Mark Wahlberg, Christian Bale, Amy Adams, Melissa Leo, Mickey O’Keefe, Jack McGee

Sutradara : David O. Russell

Produser : Dorothy Aufiero, David Hoberman, Ryan Kavanugh, Todd Lieberman, Paul Tamasy, Mark Wahlberg

Produksi : Closest to the Hole Productions, Fighter, Mandeville Films

Tahun : 2010

 

Akting : 

Harmonisasi film : 

Hiburan : 

Pesan : 

Sinematografi : 

 ————————————————————-

Overall: ( 7.5 )

-DJD/@kritikpenonton

Leave a comment

Filed under F