KNIGHT AND DAY

KNIGHT AND DAY

Pertemuan tak disengaja antara Roy Miller (Tom Cruise) dan June Havens (Cameron Diaz) membuka petualangan baru bagi June khususnya. June, seorang gadis biasa yang ingin melakukan perjalanan untuk bertemu keluarga harus terjebak dalam situasi tak diharapkan sejak pertemuan itu. Ia tidak menyangka ternyata Roy memiliki masalah dengan agen-agen rahasia dan karena pertemuan itu June harus masuk di dalamnya dan tak bisa keluar. Diawali dengan June dikejar-kejar dan selalu diselamatkan oleh Roy, padahal June tidak tahu Roy itu ada di pihak mana. Dengan kata lain June harus segera berperilaku seperti agen-agen rahasia pada umumnya, yang cerdik, tenang, melakukan aksi-aksi berbahaya agar bisa bertahan hidup.

Pasangan Cruise – Diaz ingin menciptakan suasana seperti “Mr & Mrs. Smith” dengan Action Comedy yang menyegarkan. Cruise bermain dengan gayanya yang cool sehingga sulit untuk menebak karakter Miller sesungguhnya. Hal ini sangat baik karena karakter Miller yang misterius itulah yang menjadi tujuan film ini. Akting yang baik dilakukan Cruise adalah dia tidak selalu berakting cool, tetapi juga diselingi ketika dia panik karena ada kejadian yang terjadi di luar rencananya dan kekhawatiran yang dimunculkan pada beberapa adegan. Begitu pula dengan Diaz, perubahan karakternya tidak berkesan dibuat-buat sehingga penonton dapat mengerti perubahan karakter yang terjadi. Tampilan “from zero to hero” yang dimainkan Diaz dalam tokoh June juga perlu dipuji.

Bila ingin ditinjau dari penyutradaraan yang mampu membawa harmonisasi dalam film, “Knight and Day” hanya dapat dipuji dari hiburan yang diberikan. Sutradara terlihat sangat ingin memasukkan unsur action dalam film ini, tetapi jatuhnya jadi berlebihan. Untungnya aksi-aksi laga itu diselingi dengan komedi-komedi segar yang dapat menetralkan suasana ketika penonton sudah jenuh dengan aksi laga yang ada.

Untuk penonton yang suka akan film-film yang berjenis action-comedy mungkin akan terhibur dengan film ini karena aksi-aksi laga dan komedi baik dalam bentuk tindakan maupun permainan kata yang ditampilkan. Akan tetapi untuk aksi laga akan merasa jenuh karena aksi laga yang disajikan berkesan terlalu banyak dan semakin lama semakin di luar logika, walaupun logika itu dibentuk dari imajinasi film itu sendiri.

Oleh karena itu, segala pesan kurang tersampaikan dengan baik. Penonton dapat mengerti ceritanya, tapi tetap sulit untuk dimengerti alur kesinambungan antar adegan untuk sampai pada cerita yang dimaksud. Begitu pula pesan-pesan yang dapat diambil untuk penonton. Pesan moral yang dikandung berkesan sangat umum mungkin karena film ini lebih mengutamakan sisi hiburannya saja.

Bila ingin disangkutpautkan, hiburan dalam film ini bisa dirasakan berkat adanya visual effect yang beraneka ragam walaupun tidak sesempurna beberapa film lainnya. Tidak mengecewakan dan tidak mengesankan untuk visual effectnya. Suara juga berpengaruh untuk mendukung suasana aksi laga yang dilakukan.

Pemain: Tom Cruise, Cameron Diaz, Peter Sarsgaard, Jordi Mollà

Sutradara : James Mangold

Produser : Todd Gamer, Cathy Konrad, Steve Pink

Produksi : New Regency Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 7 )

Harmonisasi film : ( 3 )

Hiburan : ( 8 )

Pesan : ( 4 )

Sinematografi : ( 6.5 )

————————————————————-

Overall: ( 5.7 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under K

TOY STORY 3

TOY STORY 3

Film ini merupakan petualangan ketiga mainan Sheriff, Woody (Tom Hanks) beserta mainan jagoan luar angkasa, Buzz Lightyear (Tim Allen) dengan teman-teman yang lain tersisa. Penyebab dari petualangan mereka adalah Andy (John Morris) yang sudah remaja dan tidak memainkan lagi mainan-mainannya. Kemungkinan nasib mainan ketika pemiliknya menginjak 17 tahun adalah DISIMPAN di gudang (loteng) atau DIBUANG. Dengan kesalahpahaman yang terjadi, semua mainan kecuali Woody menganggap Andy hendak membuang mereka, sehingga mereka memutuskan untuk ikut Barbie ke tempat penampungan anak, Sunnyside. Ternyata Sunnyside, yang didominasi oleh Lotso (Ned Beatty) bukan tempat yang menyenangkan dan mereka mempunyai misi untuk mengembalikan Woody pada Andy. Yang menjadi masalah adalah semua mainan yang masuk dalam Sunnyside akan sulit untuk untuk keluar termasuk melarikan diri.

Pengisi suara yang menggunakan artis-artis terkenal ini tidak berubah dari “Toy Story” dan “Toy Story 2”. Kesetiaan para artis untuk mengisi suara pada tokoh-tokoh ini mempertahankan kualitas film ini. Walau sedikit komentar untuk Tom Hanks, menurut saya, suara yang dibawakannya semakin identik dengan sosok Tom Hanks, sehingga sosok Woody di film ini tidak terlalu menonjol.

Dapat diakui bahwa cerita Toy Story yang terakhir ini merupakan kisah yang terbaik dan sarat akan makna dari pesan-pesan yang tersurat maupun tersirat. Bila benar adanya bahwa tidak akan ada lanjutan cerita Toy Story maka dengan pengalamannya yang banyak sebagai editor di hampir semua film Disney-Pixar, Lee Unkrich menutup cerita Toy Story dengan sempurna dengan tema perpisahan yang sangat menyentuh. Setiap adegan cerita dapat diikuti oleh semua orang, baik anak-anak, maupun orang dewasa.

Seperti yang telah disinggung di atas, petualangan dalam film ini dapat diikuti dengan baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Imajinasi dalam film ini membentuk logika sendiri yang dapat mengantarkan penontonnya untuk dapat menikmati film. Adegan menegangkan, menyeramkan mengundang rasa emosi penonton. Emosi penonton agar dapat tertawa juga ada melalui mendengar lelucon atau melihat adegan konyol yang diperankan tokoh-tokohnya. Pada bagian akhir, rasa haru juga diangkat dalam film sehingga penonton dapat mengambil makna dari film ini.

Pesan cerita film tersampaikan dengan sempurna melalui logika yang dibuatnya sendiri sehingga penonton dapat mengikuti film dengan baik. Di samping itu, film ini akan menjadi film anak-anak biasa bila tidak ada pesan moral. Menurut saya, bagi anak-anak, pesan moral yang dapat diambil adalah mengenai kesetiaan, kerja sama, solidaritas, dan pantang menyerah. Pesan moral yang tersirat yang sangat menyentuh adalah mengenai sikap kita untuk menghadapi perpisahan. Dalam hidup kita akan menemui saat ketika harus berpisah dengan apa pun. Tidak ada yang abadi. Spoiler Alerts! Hal ini digambarkan melalui adegan akhir ketika Bonnie melihat ada Woody dalam kotak mainan yang ingin disumbangkan Andy padanya. Andy pertama merasa tidak rela untuk memberikan Woody. Bagaimana pun keadaan memaksa Andy untuk berpisah. Perlu sikap yang tegar untuk menghadapi perpisahan semacam itu. Begitu pula pada adegan ibu Andy ketika Andy akan berangkat. Ditambaj pulan ketika Woody berpisah dengan teman-temannya. Dari Sunnyside dapat dipelajari bahwa suatu perpisahan akan menghadirkan sesuatu yang baru.

Untuk teknik animasi sepertinya tidak ada komentar banyak untuk Pixar mengingat Pixar merupakan tempat produksi animasi terbaik pada masa sekarang ini. Akan tetapi, mungkin sedikit komentar untuk tokoh manusia dalam film ini agak terlihat sedikit lebih kaku dibandingkan dengan “UP”. Selebihnya, PERFECT!

Pengisi suara: Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cusack, Ned Beatty, John Morris

Sutradara : Lee Unkrich

Produser : Darla K. Anderson

Produksi : Pixar Animation, Walt Disney Pictures

Tahun : 2010

Pengisi suara : ( 8.5 )

Harmonisasi film : ( 10 )

Hiburan : ( 10 )

Pesan : ( 10 )

Sinematografi : ( 10 )

————————————————————-

Overall: ( 9.7 )

-DJD-

6 Comments

Filed under T

SEX AND THE CITY 2

SEX AND THE CITY 2

Kisah empat sekawan, Carrie (Sarah Jessica Parker), Samantha (Kim Cattrall), Miranda (Cynthia Nixon), dan Charlotte (Kristin Davis), yang telah memiliki kehidupan keluarga masing-masing. Persahabatan mereka masih sangat kuat walaupun mereka memiliki kehidupan sendiri dengan masalah-masalahnya masing-masing. Pelarian dari masalah pribadi mereka diawali ketika Samantha mendapat undangan untuk mengunjungi Abu Dhabi. Samantha memenuhi persyaratan ajakan itu bila teman-temannya bisa ikut menemaninya. Dengan itu, cerita film ini didominasi oleh liburan empat sekawan ini di Abu Dhabi. Banyak pelajaran tentang hidup dan persahabatan, bahkan solusi dari masalah pribadi mereka yang dapat diperoleh dari perjalanan mereka.

Artis-artis pendukung film ini bermain dengan peran yang sederhana. Sederhana dalam arti seperti membawa karakter sehari-hari ke dalam film. Hal ini menjadi positif karena dapat menjiwai karakter lebih mudah dibanding harus menjadi karakter orang lain, mungkin tantangannya tidak seberat membawakan peran yang tidak biasa. Apalagi ditambah dengan cameo yang membawa dirinya dalam film sebagai sedikit bumbu tambahan untuk memeriahkan film. Akan tetapi, yang sedikit disayangkan adalah figuran-figuran dalam film sangat terlihat diatur gerakannya. Hal ini membuat film yang membawa peran sehari-hari terlihat kurang natural.

Bila film ini sebagai media untuk mempromosikan Abu Dhabi, sutradara dapat mempromosikan dengan baik sehingga penonton melihat semua yang positif di Abu Dhabi. Permasalahan pribadi yang dialami tokoh-tokohnya merupakan representasi masalah pada sebagian banyak orang. Ini merupakan suatu hal yang positif karena penonton dapat merujuk film ini untuk menemukan solusi. Sayangnya, cerita untuk mencapai solusi itu berkesan berlebihan sehingga penonton butuh waktu yang agak lama untuk memuaskan keinginannya.

Oleh karena itu, bagi penonton yang memiliki masalah serupa, film ini akan mendorongnya untuk menonton dari awal sampai akhir dengan rasa penasaran yang dialaminya. Sebaliknya, bagi penonton yang menganggap hal yang ada di film bukanlah suatu masalah serius atau tidak sedang dialami, film ini akan menjadi film yang membosankan dengan suguhan kemewahan yang membuai penontonnya.

Untuk menarik pesan cerita dari film ini sangat mudah karena tidak perlu berpikir keras, cukup mengikuti cerita dari awal sampai akhir tanpa harus dikomentari maka akan mengerti cerita yang berjalan selayaknya kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, untuk mengambil pesan moral dari film ini butuh konsentrasi lebih karena penyampaian pesan dapat terlewatkan karena disampaikan melalui dialog tokoh serta kejadian yang terlihat seperti peristiwa biasa. Jujur, pesan yang diberikan sebenarnya banyak dan cukup bermanfaat, tapi penyampaian agak kurang karena terbuai dengan cerita yang sangat ringan.

Pengambilan gambar tidak ada masalah banyak dalam film. Film ini tidak menggunakan efek-efek yang berlebihan agar penonton dapat merasakan film ini seperti kejadian biasa yang dapat dialami semua orang. Shot yang diambil untuk mengangkat latar sangat bekerja dengan baik. Musik yang digunakan pun sangat ringan dan sangat menghibur dan sesuai penggunaannya.

Pemain: Sarah Jessica Parker, Kim Cattrall, Cynthia Nixon, Kristin Davis, David Eigenberg

Sutradara : Michael Patrick King

Produser : Sarah Jessica Parker, Michael Patrick King, Darren Star, John Melfi

Produksi : New Line Cinema

Tahun : 2010

Akting : ( 4.5 )

Harmonisasi film : ( 3 )

Hiburan : ( 3.5 )

Pesan : ( 6 )

Sinematografi : ( 5.5 )

————————————————————-

Overall: ( 4.6 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under S

TANAH AIR BETA

TANAH AIR BETA

Lepasnya Timor Timur dari NKRI sehingga membentuk negara merdeka dengan nama Timor Leste menimbulkan masalah yang hingga kini masih ada. Dengan terpisahnya daerah ini membuat terpisahnya juga hubungan keluarga antara dua saudara, Merry (Griffit Patricia) dan Mauro (Marcel Raymond). Merry yang hidup bersama ibunya, Tatiana (Alexandra Gottardo) kehilangan Mauro sehingga harus ke perbatasan untuk mengetahui kabarnya. Perbatasan ini menjadi penghambat hubungan keluarga yang terputus ini. Dengan keberanian serta tekad yang kuat, Merry berusaha mencari sendiri dengan menuju ke perbatasan seorang diri.

Akting yang dibawakan beberapa pemain dapat dikatakan sangat baik, terutama Alexandra Gottardo. Dia dapat membawakan tokohnya dengan penjiwaan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari logat yang digunakan, cara jalan yang terlihat, serta gerak-gerik lain yang terlihat ia pelajari khusus untuk film ini. Beberapa pemain baru yang muncul juga seperti Griffit Patricia dan Yahuda Rumbindi juga perlu dihargai usahanya untuk membawakan peran. Penjiwaan pemain dalam beberapa adegan dapat diterima oleh penonton, akan tetapi masih ada sedikit kekosongan di beberapa adegan lain. Yang paling disayangkan dari film ini adalah figuran yang digunakan sangat terlihat sebagai objek pelengkap film semata. Bila merujuk pada film-film luar negeri, figuran memiliki peran yang sama bergunanya dengan tokoh utama dalam hal membangkitkan suasana film. Usaha pemain untuk berakting sudah maksimal, tapi figurannya terlihat kurang mengoptimalkan kemampuannya.

Dengan menonton “Tanah Air Beta”, seolah-olah terasa film ini digarap dengan arah sedikit semi-dokumenter dengan menghadirkan gambaran kehidupan pada masyarakat yang terjadi sebenarnya. Dengan berdasarkan fakta yang ada, sutradara mengarahkan fakta tersebut agar sampai ke penonton dengan bantuan cerita drama di dalamnya. Akan tetapi, kehadiran drama di sini kurang kuat untuk mendukung film. Alur ceritanya seperti monoton sehingga tidak terlihat klimaks dan antiklimaks dari cerita tersebut. Penonton lebih mendapat pesan mengenai kehidupan sosial yang digambarkan dibandingkan drama yang terjadi.

Hiburan yang disuguhkan dari film ini adalah drama yang cukup menyentuh. Penonton akan terhanyut dengan rasa kasih sayang dan nasionalisme. Namun, drama tersebut kurang dalam sehingga penonton tidak sepenuhnya merasakan kekuatan dramanya. Yang lebih dapat dinikmati oleh penonton adalah fakta, baik fakta mengenai alam atau pun fakta mengenai kehidupan sosial yang terjalin di masyarakat Timor.

Oleh karena drama yang kurang maksimal, hal ini membawa dampak pada penyampaian pesan film. Pesan mengenai cerita dramanya agak kurang dapat dimengerti karena berkesan datar itu. Di samping itu, sebenarnya kekuatan ide cerita drama dalam film ini termasuk berpotensi besar untuk dinikmati. Sejujurnya drama film ini tidak jelek tapi potensi itu kurang dimaksimalkan. Dengan demikian, untuk dapat menikmati film ini perlu konsentrasi yang lebih agar dapat memahami dengan baik inti ceritanya. Pesan moral yang ingin disampaikan melalui film ini sangat banyak. Agar mampu mengambil pesan-pesan itu harus memperhatikan pesan yang tersirat di setiap adegan. Pandangan kita akan terbuka mengenai kehidupan sosial yang ada di masyarakat kita, apalagi ini menyangkut saudara satu bangsa kita.

Salah satu andalan film ini adalah pengambilan gambar yang didukung oleh pemandangan alam yang memukau. Kita akan semakin cinta Indonesia dengan keadaan alamnya. Begitu pula dengan kehidupan sosial yang ada. Pengambilan gambarnya cukup membuat kita berpikir untuk menyikapinya. Semua hal ini didukung juga oleh musik dan lagu terutama lagu Indonesia Pusaka yang dimasukkan secara pas untuk mengangkat suasana haru.

Pemain: Alexandra Gottardo, Griffit Patricia, Lukman Sardi, Asrul Dahlan, Yahuda Rumbindi, Thessa Kaunang, Roby Tumewu, Ari Sihasale, Marcel Raymond

Sutradara : Ari Sihasale

Produser : Ari Sihasale

Produksi : Alenia Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 4 )

Harmonisasi film : ( 6 )

Hiburan : ( 4.5 )

Pesan : ( 7 )

Sinematografi : ( 9 )

————————————————————-

Overall: ( 6.1 )

-DJD-

1 Comment

Filed under T

KARATE KID (2010)

KARATE KID

Dre Parker (Jaden Smith), seorang anak berusia 12 tahun yang harus ikut ibunya (Taraji P. Henson) untuk pindah dari Detroit ke Cina karena penugasan ibunya untuk bekerja. Sebagai anak Amerika, Dre mengalami kesulitan dengan masalah budaya karena bahasa yang berbeda. Masalah Dre di Cina semakin besar sejak bertemu dengan Cheng (Zhenwei Wang). Dre tidak bisa menghadapinya karena anak itu menguasai Kung Fu yang tergolong dalam tingakatan yang sudah tinggi. Masalah ini seakan-akan memaksa Dre untuk harus bisa menguasai ilmu bela diri untuk melawan Cheng. Akhirnya seorang tukang reparasi alat-alat rumah tangga, Mr. Han (Jackie Chan) membantu Dre untuk memahami makna Kung Fu yang sebenarnya seiring dengan membantu Dre untuk menguasai Kung Fu.

Kualitas akting Jackie Chan di Hollywood layak dihormati mengingat pengalaman Jackie Chan dengan jam terbang yang banyak di dunia film. Dalam film ini, Jackie menampilkan karakter yang sedikit berbeda, dia berkesan serius (tidak konyol seperti yang biasa ia mainkan). Dengan ini, Jackie membuktikan kehebatan aktingnya dengan peran yang lebih serius. Begitu pula dengan aktor cilik, Jaden Smith yang patut diacungi jempol untuk aktingnya yang memainkan beberapa emosi dalam satu tokoh. Bila ingin disejajarkan kualitas akting Jaden Smith, dapat dibandingkan dengan ayahnya, Will Smith. Untuk Taraji P. Henson, akting sederhana yang dimainkannya mampu mewarnai film ini. Walaupun tantangan aktingnya tidak seberat tokoh yang ia mainkan dalam “The Curious Case of Benjamin Button”, bermain sebagus dalam film itu. Akan tetapi, untuk pemain Mandarin lainnya kurang mendominasi dan kurang bisa disandingkan dengan ketiga artis tersebut sehingga karakter pemain pendukung lainnya terlihat datar sepanjang film.

Kualitas akting yang baik menutupi cerita yang sangat sederhana. Semua pasti setuju kalau film ini tergolong film yang ending-nya mudah ditebak dari awal. Yang menjadi perhatian dalam film seperti ini adalah: Bagaimana sutradara mengantar penonton untuk mencapai ending yang sudah dapat ditebak? Dalam film ini, sutradara menggarap dengan baik melalui pangaturan tokoh, lelucon yang digunakan, effect, dan scoring yang digunakan. Akan tetapi, pada cerita menuju akhir berkesan diburu-buru untuk diselesaikan. Memang durasi sudah tergolong cukup panjang untuk sebuah film, tapi semua pesan, baik pesan film serta pesan moral sudah tersampaikan dengan baik dari awal hingga tengah film. Dengan begitu, kasarnya penonton sudah mendapat segala pesan tanpa harus menonton ending.

Bila membahas apakah film ini menghibur, jawaban yang benar adalah IYA. Durasi panjang yang terasa berlalu serta emosi yang dapat dirasakan penonton mewakili penilaian ini. Lelucon yang diberikan dapat mengundang tawa, ancaman serta suasana persaingan dapat pula dirasakan. Untuk itu, Karate Kid dapat direkomendasikan untuk penonton yang menginginkan hiburan dalam sebuah film.

Pesan yang disampaikan melalui film ini menjadi faktor penting juga untuk film sederhana seperti ini, terutama pesan moral yang berguna bagi penonton. Masalahnya, bila film sederhana seperti ini dapat dipastikan pesan mengenai cerita (alur) film akan sampai ke penonton dengan baik bahkan sudah dapat dibayangkan alurnya lebih dulu sebelum filmnya selesai, maka pesan moral dalam film berguna untuk membuat film ringan ini menjadi bermanfaat. Bila melihat hal tersebut, usaha penyampaian pesan moral tersebut dapat diterima dengan baik melalui dialog antar tokoh.

Sinematografi yang terlihat dominan dalam film ini adalah penekanan effect terutama pada adegan-adegan berkelahi untuk menonjolkan Kung Fu yang ada. Selain itu, hal yang sangat membantu membawa suasana adalah scoring yang digunakan untuk membangkitkan emosi penonton. Pengambilan sudut pandang kamera tidak terlalu spesial, tetapi tetap mendukung pada beberapa adegan.

Pemain: Jaden Smith, Jackie Chan, Taraji P. Henson, Zhenwei Wang

Sutradara : Harald Zwart

Produser : Will Smith, Jerry Weintraub, Jada Pinkett Smith, James Lassiter, Ken Stovits

Produksi : Columbia Pictures

Tahun : 2010

Akting : ( 8.5 )

Harmonisasi film : ( 4 )

Hiburan : ( 7 )

Pesan : ( 7.5 )

Sinematografi : ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 6.8 )

-DJD-

Leave a comment

Filed under K

PRINCE OF PERSIA: THE SANDS OF TIME

PRINCE OF PERSIA: THE SANDS OF TIME

Raja Persia memiliki dua orang putra. Hal ini sudah cukup untuk kerajaan memiliki penerus tahta. Akan tetapi, sang raja merasa masih ada yang kurang, hingga akhirnya menemukan seorang anak jalanan yatim piatu yang gesit dan lincah. Sang raja pun mengadopsi anak itu, sehingga anak jalanan itu disebut sebagai “Prince of Persia”. Ketika remaja, sang pengeran yang tidak berdarah biru, Dastan (Jake Gyllenhaal) harus mengikuti penyernuan ke kota Alamut. Kota ini dikepalai oleh seorang putri yang cantik, Tamina (Gemma Arterton). Dastan akhirnya berada dalam masalah setelah penyerbuan berakhir. Dengan demikian, takdir kerajaan Persia dan takdir dunia ada di tangannya.

Bila melihat film ini, kekuatan cerita dan visual effect akan lebih dominan. Pemain tidak berpengaruh banyak dalam akting. Menurut saya, para pemain kurang membawa karakter tokoh masing sehingga saya tidak melihat sosok ‘Dastan’, tapi ‘Jake’. Begitu pula dengan Tamina. Hal ini tidak jelek, tapi tidak ada pengaruhnya bila yang bermain bukan Jake. Sebagai tokoh dalam game yang terkenal sejak lama, karakter yang dimainkan Jake kurang bisa dikenang. Ben Kingsley pun kurang maksimal dalam pembawaan tokohnya (Nizam). Diperkirakan tujuan dari karakter Nizam adalah akan ada dualisme karakter, tetapi dari awal sudah ‘terbaca’ karakter Nizam yang sama saja dari awal hingga akhir. Penonton kurang melihat karakter baik dari Nizam di awal cerita sehingga tidak terasa pengaruhnya untuk cerita berikutnya.

Sutradara memegang kendali agar penonton yang berharap film ini sebagus game-nya tidak kecewa. Sedikit banyak sutradara berhasil. Lepas dari siapa pemain yang ada, pemunculan tokohnya memiliki cerita yang mudah untuk diikuti. Dari cerita tersebut, penonton dapat mengetahui karakter tokohnya walaupun pemain yang membawakannya kurang maksimal. Intinya, karena cerita yang jelas, penonton akan “Ooo, dia ‘begini’, oo yang itu ‘begitu’”. Bila cerita tidak kuat, penonton akan sulit memahami karakter tokoh.

Oleh karena itu, film ini dapat dikategorikan sebagai film yang sangat menghibur karena akan mudah diikuti dari awal hingga akhir. Rasa penasaran akan apa yang terjadi juga dapat dilahirkan ketika menonton. Durasi pas: bila tidak, mungkin akan menjadi seperti “Transformer 2”.

Selayaknya film produksi Disney yang lain, pesan film akan mudah dicerna oleh penonton. Selain itu, pesan moral yang ingin ‘disisipkan’ ke pikiran penonton juga selalu secara gamblang diberikan. Dengan demikian penonton akan mendapatkan sesuatu yang berguna berkat melihat dan mendengar pesan moral tersebut.

Visual effect walau tidak segemilang “Avatar”, perlu juga diberi tepuk tangan. Kesan seperti “The Matrix”, “Indiana Jones”, dan “The Mummy” terlihat dalam film ini. Hal ini bukanlah hal buruk dan tidak menjadi masalah. Beberapa pengambilan gambar terasa sangat pas sehingga penonton mudah untuk melihat pesan yang disampaikan ketika adegan berlangsung.

Pemain: Jake Gyllenhaal, Gemma Arterton, Ben Kingsley, Richard Coyle, Toby Kebbell

Sutradara : Mike Newell

Produser : Jerry Bruckheimer

Produksi : Twentieth Century-Fox Film

Tahun : 2010

Akting : ( 5 )

Harmonisasi film : ( 7 )

Hiburan : ( 8.5 )

Pesan : ( 7.5 )

Sinematografi : ( 8.5 )

————————————————————-

Overall: ( 7.2 )

-DJD-

2 Comments

Filed under P

UN PROPHÈTE (A PROPHET)

UN PROPHÈTE (A PROPHET)

Malik El Djebena (Tahar Rahim), pemuda 19 tahun yang masuk dalam penjara umum, harus menghadapi kenyataan kehidupan penjara yang keras. Dia masuk dalam penjara yang sebagian besar berisi imigran. Ada dua kubu yang terpisah di dalam penjara, gang Arab dan gang Korsika. Malik yang sebenarnya berdarah Arab, diangkat menjadi kaki tangan Luciani (Niels Arestrup), yang merupakan kepala gang Korsika. Kepolosan Malik sebagai “warga baru” penjara memaksa Malik mengikuti segala ‘permainan’ yang ada dan diatur oleh Luciani. Secara tidak langsung, seiring masa hukuman Malik berjalan, kematangan dan kedewasaan Malik berkembang sebagai buah dari adaptasinya dalam kehidupan di dalam penjara.

Film yang dinominasikan film berbahasa asing terbaik dalam ajang penghargaan piala Oscar 2010, diperankan oleh pemain pendatang baru yang aktingya dapat dikatakan gemilang. Selain pendalaman emosi yang pas, perubahan karakter yang dibawakan Tahar Rahim sebagai Malik El Djebena sangat mendukung jalan cerita film ini. Terlihat ke’logis’an dalam kematangan karakter Malik yang dibentuk dalam penjara. Akting Niels Arestrup juga sangat memukau sehingga penonton dapat merasakan aura ‘kepala gang’ dalam penjara. Akan tetapi, akting figuran dan beberapa pemain pendukung terasa sama semua sehingga agak membuat pusing untuk melihat peran selain Malik dan Luciani.

Kehebatan sutradara untuk membuat film ini dengan judul “A Prophet” dapat dilihat setelah menonton film ini. Patut diacungi jempol untuk sutradara untuk membuat film dengan dana yang tidak sedikit ini. Mungkin bila disejajarkan dengan film Prancis sekaligus film festival, film ini tergolong mudah untuk diikuti karena alur yang dibuat sutradara tidak membuat pusing.

Akan tetapi, bila dilihat dari segi hiburan, film ini lebih membutuhkan otak untuk berpikir. Emosi penonton diikutsertakan dalam beberapa adegan yang cukup menegangkan. Emosi penonton juga akan terbawa seiring dengan akting pemain-pemainnya.

Lepas dari segala hiburan yang cukup memusingkan, film ini sarat akan pesan: Baik pesan yang berisi gambaran suasana penjara (khususnya penjara Prancis); pesan mengenai ras, pesan kritik terhadap penjara Prancis. Pesan moral juga dapat dipetik dari film ini. Bila melihat tokoh Malik yang ia sendiri hanya bisa mengikuti ‘permainan’ yang diberikannya, tanpa bisa protes atau apa pun. Setiap orang berhak untuk membuat keputusan. Keputusan untuk memilih mengikuti hukuman dan menjalani segala sesuatu yang tidak dimengerti juga merupakan sebuah keputusan yang dapat dipilih. Menurut saya, kata “Prophet” yang digunakan sebagai judul bukan untuk diterjemahkan sebagai “Nabi”, melainkan diterjemahkan sebagai “utusan” yang digambarkan Luciani mengutus Malik sebagai kaki tangannya untuk melakukan hal-hal yang tidak Malik mengerti. Penjara sebagai simbol kehidupan di dunia serta kerasnya hidup di dalamnya. Menurut saya, sutradara ingin menyadarkan kita bahwa kita dilahirkan di dunia juga sebagai utusan untuk melakukan suatu tugas yang kita sendiri belum tahu tujuan serta ‘buah’ dari tugas tersebut, tapi kita dapat memutuskan untuk mengikuti saja tugas tersebut karena buahnya akan terlihat nanti, bukan ketika kita melakukan tugas tersebut.

Film ini dapat digolongkan sebagai film sulit karena menggunakan penjara sebagai latarnya. Penjara yang memiliki tempat sempit memang sulit digunakan untuk pengambilan gambar. Tak heran bila pengambilan gambar di dalam penjara menggunakan kamera dengan teknik hand-held. Resikonya, hampir di setiap adegan akan ada pergerakan-pergerakan kamera yang cukup membuat pusing.

Pemain: Tahar Rahim, Niels Arestrup, Adel Bencherif

Sutradara : Jacques Audiard

Produser : Martine Cassinelli

Produksi : Why Not Production

Tahun : 2009

Akting : ( 7.5 )

Harmonisasi film : ( 8 )

Hiburan : ( 6.5 )

Pesan : ( 9 )

Sinematografi : ( 7.5 )

————————————————————-

Overall: ( 7.7 )

-DJD-

3 Comments

Filed under P