KABAYAN JADI MILYUNER
January 6, 2011 at 9:02 am 1 comment
KABAYAN JADI MILYUNER
Kabayan (Jamie Aditya) merupakan pemuda baik hati nan jujur yang disegani di masyarakat Sunda. Kesetiaan Kabayan pada pesantren yang dipimpin Ustadz Soleh tidak tergoyahkan walaupun dijanjikan harta yang banyak oleh Bos Rocky (Christian Sugiono) yang ingin menghancurkan pesantren itu untuk dibangun sebuah resort mewah. Akan tetapi, kesetian ini seakan dikalahkan oleh kehadiran Iteung (Rianti Cartwright) yang membuat Kabayan seperti kehilangan akal sehatnya karena dimabuk asmara. Pesantren As-Salam pun menjadi terancam. Kabayan bertekad merantau ke Jakarta, berusaha mencari cara untuk menyelamatkan pesantren sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Akting secara pribadi pemain tidak ada masalah sepanjang cerita. Suasana masyarakat Sunda sangat terasa dengan peran, terutama dialog dan dialek, yang terkesan sangat kental. Yang disayangkan adalah arahan akting pemain yang terasa dipaksakan sehingga lebih terasa pemain sebagai robot yang jalan masing-masing. Yang disayangkan lagi dan paling sering terjadi pada beberapa film Indonesia adalah FIGURAN yang tidak diperhatikan untuk diarahkan. Kekuatan akting pada sebuah film tidak hanya diperuntukkan untuk pemain utama saja. Pemain figuran pun memiliki andil untuk membangkitkan suasana. Spoiler alerts! Salah satu adegan figuran yang paling mengganggu adalah pekerja valet yang senyum (hampir tertawa) ketika mobil pelanggannya dicuri.
Harmonisasi film ini yang perlu banyak koreksi agar menjadi lebih pada film-film mendatang. Pemenggalan adegan per adegan berkesan diburu-buru durasi, sehingga pemotongannya tidak rapi dan terasa ada banyak lompatan ide antara satu adegan ke adegan lain. Penulis naskah ingin memadatkan segala informasi tentang Kabayan (mulai dari percintaan Kabayan–Iteung, tantangan Abah untuk mendapatkan Iteung, dan jin sebagai pelengkap identitas Kabayan dari film terdahulu). Semua ini agar figur Kabayan yang sudah ada di benak penonton tidak rusak, tetapi ia juga ingin memasukkan unsur-unsur zaman sekarang pada cerita Kabayan itu, ditambah ia ingin menyindir masalah sosial dan politik yang sedang terjadi sekarang ini. Semua keinginan yang banyak ini dipadatkan pada satu cerita yang berdurasi tergolong singkat. Hasilnya, penonton kurang bisa menangkap idenya. Sutradara pun harus lebih teliti pada detail yang mungkin dimaksudkan untuk menghibur, tetapi tidak dapat diterima pada logika cerita yang dibangun. Film imajinatif pun punya logikanya sendiri. Contoh: Spoiler alerts! Ketika Armasan mencari Kabayan di dalam gua, dia menggunakan lampu petromaks. Kenapa tidak pakai senter? Apa alasannya karena di desa susah cari baterai? Tapi kok ada kamera digital?! Logika yang ditanyakan: film ini mau menunjukkan desa yang sudah mulai masuk dunia modern atau tidak (ada kamera digital tapi tidak ada senter)? Contoh lain, blue print rencana pembangunan resort ‘yang asli’ oleh Rocky dipampang lebar-lebar di kantornya. Masalahnya, bukankah itu harusnya sebuah rahasia? Rasanya setiap orang bila punya rahasia yang bisa menghancurkan rencananya, ia akan menjaga baik-baik rahasia itu. Masih banyak detail yang harus diperhatikan dalam film ini. Semoga bisa lebih baik di film mendatang. Kemajuan perfilman Indonesia tetap diharapkan di tangan sineas-sineas Indonesia. Tetaplah berkarya!
Film ini bertujuan untuk menghibur penonton dengan suguhan sesosok figur yang telah dikenal di masyarakat sehingga penonton sudah tahu watak para tokoh secara garis besar. Akan tetapi, karena terlalu banyak yang ingin disampaikan pada penonton, penonton pun tidak dapat menikmati satu per satu lelucon secara maksimal. Hiburan diperoleh dari karakter yang dibawakan oleh pemain seperti Jamie Aditya, Amink, Meriam Bellina, dan Melly Goeslaw.
Kembali pada pemadatan yang campur aduk di dalam film ini, pesan film ini tidak tersampaikan dengan baik. Penonton mengerti masalah di dalam cerita hingga akhir yang bahagia karena tergolong cerita sederhana dan klise, tapi kesederhanaan ini tidak menghasilkan apa-apa. Salah satu pesan yang terdapat dalam film adalah kritikan berupa sindiran pada kritik sosial di masyarakat dan pada pemerintah. Akan tetapi, kritikan ini hanya berupa sindiran semata yang sebenarnya kritikan ini sudah ada di pikiran penonton. Jadi, sindiran di film ini hanya ‘memvisualisasikan’ kritikan yang ada di otak penonton. Tidak heran bila sepanjang film penonton akan berceloteh “iya tuh, emang kayak gitu.” Tapi, apa hasilnya? Tidak ada solusi, tidak ada semacam utopia yang dapat membangkitkan imajinasi penonton agar tidak hanya sekadar bisa mengkritik saja.
Pada awalnya, sinematografi film ini lah yang mampu mengangkat nilai film ini. Pengambilan gambar yang tidak mengganggu serta menggunakan fokus dengan membuat benda sekelilingnya menjadi blur. Begitu pula dengan pengambilan gambar yang memanfaatkan keindahan alam Indonesia dengan baik. Akan tetapi, sinematografi mulai terganggu ketika mulai menggunakan komputerisasi yang sederhana. Tolong diperhatikan bagian ini Spoiler alerts! Terutama adegan yang berhubungan dengan jin dan poster, spanduk, baliho “Kabayan dan Nyi Iteung” yang ada di gedung-gedung, serta adegan terbang. Mungkin komputerisasi dalam perfilman Indonesia masih tertinggal dan merupakan sebuah kelemahan perfilman Indonesia, tapi bila ingin menggunakan konsep “menggunakan kelemahan sebagai kekuatan” berarti harus berusaha lebih untuk menerapkannya di film mendatang. Pencahayaan juga mengarah ke luar logika Spoiler alerts! Terutama ketika Armasan masuk ke dalam gua. Pada saat mencari Kabayan, cahaya lampu petromaks terlihat pas dengan suasana gelapnya. Ketika bertemu, cahayanya terang benderang menerangi seisi gua, ditambah ada cahaya dari luar yang terlihat terang. Jadi sebenarnya pencarian ke dalam gua itu masih dekat dengan luar gua atau sudah masuk jauh ke dalam karena Armasan sudah masuk susah-susah ke dalam gua dan berkesan masuk sangat dalam. Intinya, mau pakai logika yang mana? Begitu pula dengan musik. Kekuatan musik Anto Hoed dan Melly Goeslaw tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang disayangkan adalah pemanfaatan potensi ini yang kurang baik. Musik sangat pas menyertai suasana dalam film. Kembali pada pemenggalan adegan yang tidak rapi sehingga potongan musik hanya terdengar intro dan sedikit bagian awal lagu. Ini bukan masalah sebenarnya, masalahnya adalah adegan yang memiliki metode ini banyak sekali sehingga lagu yang kuat ini menjadi lemah karena diulang berkali-kali dengan pemotongan yang hampir sama di adegan-adegan yang suasananya serupa jadi membuat lagu ini hanya untuk mengiringi saja sifatnya.
Pemain: Jamie Aditya, Rianti Cartwright, Amink, Christian Sugiono, Slamet Rahardjo, Didi Petet, Meriam Belina
Sutradara : Guntur Soeharjanto
Produser : Chand Parvez Servia
Produksi : Starvision
Tahun : 2010
Harmonisasi film :
( 1 )
Hiburan : 


( 4 )
Pesan : 


( 4 )
Sinematografi : 



( 4.5 )
————————————————————-
Overall: 


( 3.6 )
-DJD-
Entry filed under: K. Tags: film, film critic, film critics, film review, film reviews, kabayan jadi milyuner, kritik film, movie, movie review, movie reviews, movies, resensi film.






1.
Eko Sutrisno HP | January 21, 2011 at 11:58 pm
Wah kalau nonton film Indonesia memang harus jadi orang yang pemaaf, bila tidak maka bis asakit hati tuh.
Ini blog tentang resensi film yang hebat. Bisa dipakai untuk rujukan sebelum nonton film.
Kelemahannya, kalau kita pingin tidak terpengaruh, maka setelah baca blog ini pasti kita jadi terpengaruh.
Silahkan lihat resensi film dari kacamataku tentang film Indonesia.
http://bloggerbekasi.com/2011/01/02/catatan-film-dalam-mighrab-cinta.html
salam sehati