? (TANDA TANYA)

? (TANDA TANYA)

[Review sedang dalam proses]

 

Pemain: Revalina S. Temat, Reza Rahardian, Endhita, Agus Kuncoro, Rio Dewanto, Henky Solaiman

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produser : Celerina Judisari, Hanung Bramantyo

Produksi : Dapur Film Production

Tahun : 2011

 

Akting : 

Harmonisasi film :

Hiburan :

Pesan :

Sinematografi :

 ————————————————————-

Overall: ( 7.4 )

-DJD-/@kritikpenonton 

August 29, 2011 at 8:12 am 2 comments

THE KING’S SPEECH

THE KING’S SPEECH


[review sedang dalam proses]

 

Pemain: Colin Firth, Helena Bonham Carter, Geoffrey Rush, Guy Pearce, Michael Gambon

Sutradara : Tom Hooper

Produser : Iain Canning, Emile Sherman, Gareth Unwin

Produksi : See-Saw Films, Bedlam Productions

Tahun : 2010

 

Akting : 

Harmonisasi film :

Hiburan :

Pesan :

Sinematografi :

 ————————————————————-

Overall: ( 10 )

-DJD/@kritikpenonton 

August 29, 2011 at 7:38 am Leave a comment

THE FIGHTER

THE FIGHTER

 

Micky Ward (Mark Wahlberg) adalah harapan keluarga Ward untuk menjadi petinju profesional yang dapat menjadi kebanggaan. Untuk itu, Micky dilatih oleh kakaknya, Dicky Eklund (Christian Bale), yang merupakan mantan atlet tinju, tapi sekarang terjebak pada kecanduan alkohol dan narkotika. Kehidupa keluarga ini tidak ada masalah hingga muncul Charlene Fleming (Amy Adams) yang seakan menyadarkan bahwa Micky semacam menjadi robot keluarga Ward yang terlalu diatur oleh kakak dan ibunya (Melissa Leo). Konflik antarpribadi pun terjadi dan Micky yang harus mengendalikan konflik itu agar dapat berjalan dengan baik.

Salah satu nominasi film terbaik pada Oscar 2011 ini menghadirkan pemain-pemain dengan akting yang luar biasa. Tidak heran bila melihat hasil bahwa Melissa Leo dan Christian Bale mendapatkan penghargaan di banyak festival film. Akting mereka yang total dan juga pembawaan karakter yang membuat mereka tampak berbeda dari beberapa film mereka yang lain. Tidak hanya mereka berdua yang berakting hebat, tetapi juga Mark Wahlberg dan Amy Adams menunjukkan totalitas mereka dengan menyeimbangkan porsi mereka yang menjadi peran penting dalam perubahan karakter Micky. 

Sutradara membuat film ini seakan-akan film semi-dokumenter karena memang berdasarkan kisah nyata dengan mengawali dan mengakhiri adegan dengan interview Micky dan Dicky. Penonton dapat terbawa pada genre drama yang tidak menggambarkan konflik kehidupan sehari-hari. Editing film ini pun tidak merusak pesan yang akan disampaikan. Penonton tetap dapat meruntut sendiri kejadian demi kejadian hingga memahami apa dasar konflik dari film ini.

Film ini mampu membawa suasana konflik dalam film terasa pada penonton sehingga penonton dapat merasa ‘geregetan’ seperti di dalam film. Film ini dapat dinikmati oleh banyak orang, tidak hanya terpaku pada penonton yang menggemari tinju saja. Rasa haru, sedih, senang, dan puas dapat dirasakan oleh penonton. Cerita yang terinspirasi dari kisah nyata ini benar-benar terasa dekat dengan kehidupan semua orang.

Jalan cerita film ini dapat dipahami penonton dengan baik. Alur yang cenderung kronologis membuat penonton mudah untuk memahami hubungan antara satu adegan dengan adegan lain. Yang hebat dari film ini adalah, penyampaian pesan yang dapat dipetik penonton bersumber dari kekuatan pembawaan karakter setiap pemain. Penonton diajak memahami peran setiap tokoh dalam film ini, sehingga penonton akam mengerti perasaan setiap tokoh pada konflik personal maupun konflik antartokoh yang terjadi. Penonton akan berpikir “Kalau saya jadi si … mungkin akan melakukan hal yang sama.” Diharapkan penonton dapat lebih bijaksana menghadapi orang lain karena setiap orang memiliki idealisme sendiri-sendiri yang diyakini benar oleh pribadi masing-masing.

Film dengan sinematografi cukup baik untuk film yang terinspirasi dari kisah nyata. “Warna” film yang sama sepanjang film sedikit membuat penonton bosan dan kurang dapat menerima klimaks dari film ini. Hal ini menjadi baik karena tema dasar dari film ini yaitu membuat se-nyata mungkin, sehingga terasa seperti kejadian sehari-hari. Kesan itu sangat bisa diterima oleh penonton. 

Pemain: Mark Wahlberg, Christian Bale, Amy Adams, Melissa Leo, Mickey O’Keefe, Jack McGee

Sutradara : David O. Russell

Produser : Dorothy Aufiero, David Hoberman, Ryan Kavanugh, Todd Lieberman, Paul Tamasy, Mark Wahlberg

Produksi : Closest to the Hole Productions, Fighter, Mandeville Films

Tahun : 2010

 

Akting : 

Harmonisasi film : 

Hiburan : 

Pesan : 

Sinematografi : 

 ————————————————————-

Overall: ( 7.5 )

-DJD/@kritikpenonton

August 28, 2011 at 6:10 pm Leave a comment

BLACK SWAN

BLACK SWAN

 

Nina Sayers (Natalie Portman) memiliki kecintaan yang luar biasa pada balet. Rasa cinta ini seakan diturunkan oleh ibunya, Erica (Barbara Hershey), yang merupakan mantan balerina. Suatu ketika, Nina terobsesi pada pementasan Swan Lake yang akan digelar, sehingga dia berniat untuk meraih peran utama di pementasan tersebut. Dia pun akhirnya mendapatkan peran tersebut. Masalahnya, peran tersebut merupakan cita-cita hampir semua balerina untuk memperlihatkan skill mereka. Nina khawatir perannya akan direbut orang lain. Menjelang pementasan, ternyata Nina dijebak oleh temannya, Lily (Mila Kunis), sehingga Lily pun menjadi cadangan utama untuk menggantikan Nina. Kesempatan Nina untuk memerankan White Swan dan Black Swan dalam pementasan itu pun menjadi terancam.

Berbagai penghargaan yang ditujukan untuk Natalie Portman sebagai aktris terbaik membanjiri prestasi film ini. Hasilnya, memang Natalie Portman bermain luar biasa. Portman sukses memerankan tokoh yang memiliki keterbelakangan yang menghantui untuk mencapai obsesinya tersebut. Perubahan karakter yang terlihat di pertengahan film sangat mengejutkan penonton. Begitu pula tekanan yang dialami Nina di akhir cerita. Penonton akan terpaku dengan karakter ini. Walaupun fokus film ini lebih terarah pada Natalie Portman, kehebatan akting tidak hanya dikerahkan oleh Natalie Portman saja. Semua pemain pendukung termasuk Mila Kunis, Barbara Hershey, Vincent Cassel, dan Winona Ryder pun sangat sempurna. Semua pemain mendukung misteri yang dibentuk dalam film ini.

Keharmonisan film ini terbentuk dari misteri yang dibentuknya. Penonton yang belum mendapat “bocoran” mengenai film ini akan mengharapkan film drama sederhana mengenai seorang balerina. Hasilnya pun itu yang diterima penonton ketika menikmati filmnya walaupun berkesan “black” dari awal. Kejutan-kejutan mengenai jalan cerita film ini pun memang sengaja membuat penonton bertanya hingga akhir film yang mampu menjawab semuanya. Sutradara dan tim editing film ini memang perlu diacungi jempol karena sangat apik membuat “puzzle” yang cukup memutar otak penonton.

Film ini sangat menghibur. Hiburan dalam film ini bukanlah dari drama yang dibentuk, yang biasanya berhubungan dengan rasa haru, lucu, seram,dll, tetapi hiburannya justru dari teka-teki yang memancing penonton untuk melihat jawabannya di akhir cerita. Dengan kata lain, film ini membuat penonton penasaran dan seakan ‘harus’ menyelsaikannya sampai akhir. Penonton tidak merasa bosan karena kekuatan akting pemain-pemainnya mengantarkan interpretasi penonton untuk menafsirkannya di setiap adegan untuk mencapai asumsi penonton yang dapat berbeda-beda.

Pesan dari jalannya cerita dapat diterima penonton pada akhirnya. Sepanjang film penonton akan menebak-nebak sendiri. Hal ini menjadi baik karena penonton dapat menemukan jawabannya bila mengikuti alurnya walaupun mungkin berpotensi untuk adanya perbedaan persepsi dari satu penonton dengan penonton lainnya. Pesan moral yang dikandung film ini pun mungkin tidak menjadi perhatian utama penonton. Akan tetapi, sebagian baiknya film ini adalah menyiratkan pesan moral itu untuk ditemukan oleh penonton dari dialog, setting, atau ide ceritanya itu sendiri. Tak heran bila ingin menerima pesan moral dari film ini harus memerhatikan dengan seksama setiap adegan atau mungkin harus menonton berkali-kali.

Aspek visual dan audio dari film ini mendukung suasana ‘suram’ yang dibentuk sepanjang film. Fokus pada tokoh Nina terbentuk dengan setting, pergerakan kamera, permainan kamera yang sangat baik. Permainan efek visual pada beberapa adegan juga dapat menguatkan tujuan film ini. Semua jalannya cerita yang tidak mengeluarkan teka-teki di benak penonton disebabkan oleh teknik pengambilan gambar dari film ini dan semua itu dikemas dengan sempurna oleh film ini.

Pemain: Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel, Barbara Hershey, Winona Ryder

Sutradara : Darren Aronofsky

Produser : Scott Franklin, Mike Medavoy, Arnold Messer, Brian Olivier

Produksi : Fox Searchlight Pictures, Protozoa Pictures, Phoenix Pictures

Tahun : 2010

 

Akting : ( 9 )

Harmonisasi film : ( 8 )

Hiburan : ( 7.5 )

Pesan : ( 8 )

Sinematografi : ( 9 )

 ————————————————————-

Overall: ( 8.3 )

-DJD- /@kritikpenonton

August 25, 2011 at 9:40 am Leave a comment

PINTU TERLARANG

PINTU TERLARANG


Cerita diawali dari pengenalan sosok Gambir (Fachri Albar) yang meniti karir sebagai seniman (pematung). Banyak orang yang mengagumi karya Gambir karena dianggap memiliki jiwa di dalam patung-patungnya. Memang ternyata ada misteri dibalik pembuatan patung oleh Gambir. Orang yang berperan pada awal mula misteri karya Gambir ini adalah pacarnya, Talyda (Marsha Timothy), yang kemudian menjadi istri Gambir. Kehidupan Gambir penuh konflik. Tidak hanya dalam karirnya, Gambir juga memiliki masalah pada banyak hal. Semua masalah ini memiliki benang merah pada kehidupan masa kecil Gambir yang akhirnya menjadi jawaban dari segalanya.

Akting pemain dalam film ini tergolong baik. Semua pemain terlihat bermain dengan sepenuh hati. Secara teknik, setiap pemain membawakan perannya dengan karakter masing-masing. Akan tetapi, ada beberapa detail dari akting pemain yang sedikit mengganggu jalannya cerita. Marsha Timothy memang berakting baik, tetapi kesan ‘mengikuti instruksi sutradara’ terasa di hampir setiap kemunculannya. Ada penjiwaan yang sesekali tidak terasa. Contoh dapat terlihat pada Spoiler Alert [1]. Selain itu, beberapa pemain memiliki perubahan karakter yang seakan memang menjadi tuntutan cerita ini. Namun, hal ini tidak terlalu terasa pada Marsha Timothy pada adegan akhir (lihat Spoiler Alert [2]). Kelebihan Marsha Timothy dalam film ini adalah kemampuan aktingnya yang rapi dan mampu menyampaikan pesan film dengan baik.

Two thumbs up untuk ide cerita yang sangat hebat baik dari versi asli dalam novel maupun ide tambahan dalam adapatasinya ke dalam film. Tema kejiwaan seperti ini sangat banyak dijumpai pada film-film festival, tapi film ini mengangkat suatu ide yang dikemas dengan pesan moral yang dalam. Kerapihan seluruh aspek film ini juga patut diacungi jempol. Kenapa? Hal pertama yang menarik perhatian adalah siasat menghindari masalah yang biasanya muncul pada sebagian besar film Indonesia, yaitu pemain figuran. Banyak film yang hanya menggunakan figuran sebagai ‘pancingan’ tapi tidak diarahkan kualitasnya. Pada film ini, Joko Anwar menggunakan figuran sebagai latar yang tidak mengganggu jalannya cerita karena peran mereka diarahkan senatural mungkin. Ada sedikit yang mengganggu yaitu seperti yang dapat dilihat pada spoiler alert [3]. Selebihnya, PERFECT! Ada beberapa detail yang sedikit menjadi pertanyaan namun kritik ini sifatnya 100% dapat didebatkan. Pertama pada sampanye yang diminum tamu-tamu galeri, sepengetahuan saya (dapat disanggah bila salah), warna sampanye lebih bening dari yang di film. Masalahnya, penonton dengan pengetahuan seperti itu, seakan sampanye yang diminum dalam film seperti bir yang dituang di gelas sampanye. Kedua, Adegan yang dapat dilihat pada spoiler alert [4]. Adegan ini seperti mengambang karena hanya sedikit benang merah dengan cerita sebelum dan sesudahnya sehingga seakan-akan bila adegan ini hilang pun tidak menjadi masalah besar. Terlebih lagi, logika yang dibangun pada adegan ini agak sedikit tidak berterima (sifatnya) dan respons pemain untuk adegan ini sedikit berlebihan. Ketiga detail yang agak fatal adalah ketika salah satu pemain ekstra (tamu) mengucapkan kata “voilà” dengan pelafalan bunyi [f]. Sutradara sebaiknya memerhatikan bila menggunakan istilah asing dari bahasa apa pun. Dalam bahasa Prancis, bunyi [f] dan [v] dapat membedakan arti. Logat/aksen tidak masalah, pelafalan yang lebih berbahaya. UNTUNGNYA kata yang digunakan adalah “voilà”, tidak menjadi masalah besar, tetapi perlu diperhatikan bila berikutnya akan menyisipkan istilah asing dalam sebuah film.

Pada dasarnya film ini sangat menghibur karena dapat memancing emosi penonton dan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Jawaban dari masalah film ini pun sangat baik dan mampu menjawab dengan baik semua kegundahan yang dibangun sepanjang film.

Lepas dari hiburan yang dibangun film ini, pesan yang disampaikan dapat dinilai sempurna karena pesan film dengan jalan cerita yang unik mampu menjawab segala misteri yang dibangun. Pesan moral yang dikandungnya pun tergolong sangat banyak terutama pada penyinggungan masalah pribadi seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan orang-orang di sekitarnya. Film yang mampu membuat merenung setelah menontonnya.

Penampilan aspek visual yang dapat dikatakan sangat baik pada film Indonesia sekarang ini. Efek darah yang dibuat dan efek sadis dalam film ini membantu membangkitkan suasana. Begitu pula dengan aspek audio yang mengiringi dengan ilustrasi musik yang membangun permainan emosi penonton. Lepas dari kualitas efeknya, sinematografi film ini dapat dibilang sangat rapi dan memang dirancang untuk memancing penonton menganalisis simbol-simbol di dalamnya.

Spoiler Alerts! (Sebaiknya jangan dibaca bila belum menonton film ini)

[1] Adegan awal ketika Gambir di luar galeri dan Talyda menghampirinya, ada tamu yang baru tiba. Penjiwaan Talyda sebagai salah satu “tuan rumah” acara itu tidak terlalu terasa. Marsha lebih cenderung menampilkan sosoknya sebagai istri Gambir saja.

[2] Marsha sebagai Talyda dengan Marsha sebagai Pusparanti tidak terasa bedanya dari penjiwaan Marsha. Mungkin hal ini dapat menjadi nilai plus karena menimbulkan teka-teki pada pikiran penonton dengan menebak-nebak peran Marsha dalam film ini. Akan tetapi, bila melihat contoh Ario Bayu, walau sedikit perubahan, perbedaan peran yang dibawakan dapat terlihat, sedangkan Marsha Timothy seakan hanya tertolong dari informasi name tag dan make up yang berbeda.

[3] Adegan yang sama dengan [1], kedua pemuda yang baru tiba terlihat buru-buru untuk masuk galeri padahal yang bertemu papasan dengan mereka adalah bisa dibilang ‘yang punya acara’. Kurang ada respons yang baik dari kedua pemuda ini dan mungkin ini yang menyebabkan penjiwaan Marsha sebagai ‘tuan rumah’ juga hilang.

[4] Adegan setelah ‘pemerkosaan’ Gambir pada Talyda. Talyda jatuh, luka, lalu keduanya saling minta maaf.

Pemain: Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Otto Djauhari, Tio Pakusadewo, Henidar Amroe

Sutradara: Joko Anwar

Produser : Sheila Timothy

Produksi : LifeLike Pictures

Tahun : 2009


Akting : ( 7 )

Harmonisasi film : ( 9 )

Hiburan : ( 8.5 )

Pesan : ( 10 )

Sinematografi : ( 8 )

————————————————————-

Overall: ( 8.5 )

-DJD-

March 4, 2011 at 12:37 pm Leave a comment

THE TOURIST

THE TOURIST

Gerak-gerik Elise Clifton-Ward (Angelina Jolie) selalu diikuti oleh intel yang ingin mencari Alexander Pearce. Elise merupakan kekasih Pearce yang dipercaya oleh intel bahwa suatu saat mereka akan bertemu. Intel selalu mencurigai siapa pun yang berada di sekitar Elise karena ada kemungkinan bahwa itulah Pearce. Kondisi ini dimanfaatkan Pearce melalui suratnya pada Elise untuk menemukan satu orang di kereta untuk mengelabuhi agen-agen dari intel tersebut. Orang yang ditemukan itu adalah Frank Tupelo (Johnny Depp). Frank pun akhirnya dikejar-kejar untuk ditangkap. Perjalanan Frank yang tadinya untuk liburan menjadi terjebak dalam masalah Elise dengan intel serta mafia.

Akting pemain, terutama Angelina Jolie dan Johnny Depp terbilang stabil dari awal hingga akhir film. Tidak ada perubahan emosi yang signifikan. Kestabilan akting mereka tertolong alur cerita yang sangat mengantarkan penonton pada pengungkapan peran tokoh-tokoh tersebut. Berbeda dari versi Prancisya (“Anthony Zimmer”, 2005) yang diperankan oleh Sophie Marceau, misteri yang dibuat menjadi bukan sesuatu yang mengherankan bagi penonton mengingat peran-peran yang dimainkan Angelina Jolie pada film-film sebelumnya.

Membuat film remake dari film yang berisi misteri teka-teki akan menjadi tidak menarik bila dibuat sama persis dengan versi aslinya karena penonton yang sudah menonton film aslinya sudah tahu misteri tersebut. Inilah yang terjadi pada film ini. Sepertinya kurang bijak untuk membuat film yang mengutamakan suatu misteri berupa teka-teki dengan remake persis dari versi aslinya. Konsekuensinya, penonton menjadi bosan untuk menontonnya karena sudah tahu jawabannya dan penonton menjadi tidak perlu menonton versi aslinya karena sama persis. Perbedaannya hanya yang satu versi Hollywood dan yang lainnya versi Prancis. Versi ini lebih ‘menuntun’ penonton dari awal hingga jawabannya diberikan secara eksplisit, sedangkan versi Prancis penonton diajak untuk menebaknya sendiri. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Selayaknya film Prancis yang di-remake dengan cara Hollywood, film ini menjadi lebih menghibur. Penonton akan dengan mudah mengikuti cerita versi Hollywood karena dikemas lebih menarik dan dituntun dengan baik sehingga penonton tidak perlu berpikir keras karena akan diarahkan sepanjang cerita. Ketegangan pun lebih terasa karena menggunakan efek yang lebih canggih.

Perbedaan yang mendasar dari film versi Prancis dan Hollywood adalah penyampaian pesan. Seperti yang telah disebutkan, film Hollywood cenderung menuntun penontonnya sehingga pesan film ini pun sampai dengan baik ke penonton tanpa harus konsentrasi tinggi.

Sinematografi pun lebih baik karena menggunakan efek yang lebih canggih. Pengambilan gambar sangat jelas untuk menonjolkan sesuatu yang dipentingkan dan menjadi pengendali cerita. Sinematografi dalam film ini mampu mebangkitkan suasana ketegangan. Akan tetapi, bila melihat jajaran produser yang banyak dan melihat perkembangan Hollywood sekarang, rasanya kesan action di film ini tergolong biasa, seharusnya hal ini bisa menjadi pembeda yang sangat besar dengan versi Prancis sehingga tidak menjadi sama persis serta menjadi keunggulan tersendiri dari film ini.

Pemain: Johnny Depp, Angelina Jolie, Paul Bettany, Steven Berkoff, Timothy Dalton

Sutradara : Florian Henckel von Donnersmarck

Produser : Gary Barber, Roger Birnbaum, Jonathan Glickman, Tim Headington, Graham King

Produksi : GK Films, Spyglass Entertainment

Tahun : 2010

Akting : ( 5 )

Harmonisasi film : ( 6 )

Hiburan : ( 7 )

Pesan : ( 5.5 )

Sinematografi : ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 6.1 )

-DJD-

 

 

January 6, 2011 at 9:19 am 1 comment

KABAYAN JADI MILYUNER

KABAYAN JADI MILYUNER

Kabayan (Jamie Aditya) merupakan pemuda baik hati nan jujur yang disegani di masyarakat Sunda. Kesetiaan Kabayan pada pesantren yang dipimpin Ustadz Soleh tidak tergoyahkan walaupun dijanjikan harta yang banyak oleh Bos Rocky (Christian Sugiono) yang ingin menghancurkan pesantren itu untuk dibangun sebuah resort mewah. Akan tetapi, kesetian ini seakan dikalahkan oleh kehadiran Iteung (Rianti Cartwright) yang membuat Kabayan seperti kehilangan akal sehatnya karena dimabuk asmara. Pesantren As-Salam pun menjadi terancam. Kabayan bertekad merantau ke Jakarta, berusaha mencari cara untuk menyelamatkan pesantren sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Akting secara pribadi pemain tidak ada masalah sepanjang cerita. Suasana masyarakat Sunda sangat terasa dengan peran, terutama dialog dan dialek, yang terkesan sangat kental. Yang disayangkan adalah arahan akting pemain yang terasa dipaksakan sehingga lebih terasa pemain sebagai robot yang jalan masing-masing. Yang disayangkan lagi dan paling sering terjadi pada beberapa film Indonesia adalah FIGURAN yang tidak diperhatikan untuk diarahkan. Kekuatan akting pada sebuah film tidak hanya diperuntukkan untuk pemain utama saja. Pemain figuran pun memiliki andil untuk membangkitkan suasana. Spoiler alerts! Salah satu adegan figuran yang paling mengganggu adalah pekerja valet yang senyum (hampir tertawa) ketika mobil pelanggannya dicuri.

Harmonisasi film ini yang perlu banyak koreksi agar menjadi lebih pada film-film mendatang. Pemenggalan adegan per adegan berkesan diburu-buru durasi, sehingga pemotongannya tidak rapi dan terasa ada banyak lompatan ide antara satu adegan ke adegan lain. Penulis naskah ingin memadatkan segala informasi tentang Kabayan (mulai dari percintaan Kabayan–Iteung, tantangan Abah untuk mendapatkan Iteung, dan jin sebagai pelengkap identitas Kabayan dari film terdahulu). Semua ini agar figur Kabayan yang sudah ada di benak penonton tidak rusak, tetapi ia juga ingin memasukkan unsur-unsur zaman sekarang pada cerita Kabayan itu, ditambah ia ingin menyindir masalah sosial dan politik yang sedang terjadi sekarang ini. Semua keinginan yang banyak ini dipadatkan pada satu cerita yang berdurasi tergolong singkat. Hasilnya, penonton kurang bisa menangkap idenya. Sutradara pun harus lebih teliti pada detail yang mungkin dimaksudkan untuk menghibur, tetapi tidak dapat diterima pada logika cerita yang dibangun. Film imajinatif pun punya logikanya sendiri. Contoh: Spoiler alerts! Ketika Armasan mencari Kabayan di dalam gua, dia menggunakan lampu petromaks. Kenapa tidak pakai senter? Apa alasannya karena di desa susah cari baterai? Tapi kok ada kamera digital?! Logika yang ditanyakan: film ini mau menunjukkan desa yang sudah mulai masuk dunia modern atau tidak (ada kamera digital tapi tidak ada senter)? Contoh lain, blue print rencana pembangunan resort ‘yang asli’ oleh Rocky dipampang lebar-lebar di kantornya. Masalahnya, bukankah itu harusnya sebuah rahasia? Rasanya setiap orang bila punya rahasia yang bisa menghancurkan rencananya, ia akan menjaga baik-baik rahasia itu. Masih banyak detail yang harus diperhatikan dalam film ini. Semoga bisa lebih baik di film mendatang. Kemajuan perfilman Indonesia tetap diharapkan di tangan sineas-sineas Indonesia. Tetaplah berkarya!

Film ini bertujuan untuk menghibur penonton dengan suguhan sesosok figur yang telah dikenal di masyarakat sehingga penonton sudah tahu watak para tokoh secara garis besar. Akan tetapi, karena terlalu banyak yang ingin disampaikan pada penonton, penonton pun tidak dapat menikmati satu per satu lelucon secara maksimal. Hiburan diperoleh dari karakter yang dibawakan oleh pemain seperti Jamie Aditya, Amink, Meriam Bellina, dan Melly Goeslaw.

Kembali pada pemadatan yang campur aduk di dalam film ini, pesan film ini tidak tersampaikan dengan baik. Penonton mengerti masalah di dalam cerita hingga akhir yang bahagia karena tergolong cerita sederhana dan klise, tapi kesederhanaan ini tidak menghasilkan apa-apa. Salah satu pesan yang terdapat dalam film adalah kritikan berupa sindiran pada kritik sosial di masyarakat dan pada pemerintah. Akan tetapi, kritikan ini hanya berupa sindiran semata yang sebenarnya kritikan ini sudah ada di pikiran penonton. Jadi, sindiran di film ini hanya ‘memvisualisasikan’ kritikan yang ada di otak penonton. Tidak heran bila sepanjang film penonton akan berceloteh “iya tuh, emang kayak gitu.” Tapi, apa hasilnya? Tidak ada solusi, tidak ada semacam utopia yang dapat membangkitkan imajinasi penonton agar tidak hanya sekadar bisa mengkritik saja.

Pada awalnya, sinematografi film ini lah yang mampu mengangkat nilai film ini. Pengambilan gambar yang tidak mengganggu serta menggunakan fokus dengan membuat benda sekelilingnya menjadi blur. Begitu pula dengan pengambilan gambar yang memanfaatkan keindahan alam Indonesia dengan baik. Akan tetapi, sinematografi mulai terganggu ketika mulai menggunakan komputerisasi yang sederhana. Tolong diperhatikan bagian ini Spoiler alerts! Terutama adegan yang berhubungan dengan jin dan poster, spanduk, baliho “Kabayan dan Nyi Iteung” yang ada di gedung-gedung, serta adegan terbang. Mungkin komputerisasi dalam perfilman Indonesia masih tertinggal dan merupakan sebuah kelemahan perfilman Indonesia, tapi bila ingin menggunakan konsep “menggunakan kelemahan sebagai kekuatan” berarti harus berusaha lebih untuk menerapkannya di film mendatang. Pencahayaan juga mengarah ke luar logika Spoiler alerts! Terutama ketika Armasan masuk ke dalam gua. Pada saat mencari Kabayan, cahaya lampu petromaks terlihat pas dengan suasana gelapnya. Ketika bertemu, cahayanya terang benderang menerangi seisi gua, ditambah ada cahaya dari luar yang terlihat terang. Jadi sebenarnya pencarian ke dalam gua itu masih dekat dengan luar gua atau sudah masuk jauh ke dalam karena Armasan sudah masuk susah-susah ke dalam gua dan berkesan masuk sangat dalam. Intinya, mau pakai logika yang mana? Begitu pula dengan musik. Kekuatan musik Anto Hoed dan Melly Goeslaw tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang disayangkan adalah pemanfaatan potensi ini yang kurang baik. Musik sangat pas menyertai suasana dalam film. Kembali pada pemenggalan adegan yang tidak rapi sehingga potongan musik hanya terdengar intro dan sedikit bagian awal lagu. Ini bukan masalah sebenarnya, masalahnya adalah adegan yang memiliki metode ini banyak sekali sehingga lagu yang kuat ini menjadi lemah karena diulang berkali-kali dengan pemotongan yang hampir sama di adegan-adegan yang suasananya serupa jadi membuat lagu ini hanya untuk mengiringi saja sifatnya.

Pemain: Jamie Aditya, Rianti Cartwright, Amink, Christian Sugiono, Slamet Rahardjo, Didi Petet, Meriam Belina

Sutradara : Guntur Soeharjanto

Produser : Chand Parvez Servia

Produksi : Starvision

Tahun : 2010

Akting : ( 4.5 )

Harmonisasi film : ( 1 )

Hiburan : ( 4 )

Pesan : ( 4 )

Sinematografi : ( 4.5 )

————————————————————-

Overall: ( 3.6 )

-DJD-

 

 

January 6, 2011 at 9:02 am 1 comment

ANTHONY ZIMMER

ANTHONY ZIMMER

Anthony Zimmer adalah seorang buronan yang dikejar-kejar oleh polisi internasional dan mafia Rusia karena ia telah menggelapkan uang dalam jumlah besar. Untuk menemukan Zimmer, polisi mengikuti gerak-gerik kekasih Zimmer, yaitu Chiara Manzoni (Sophie Marceau). Setelah Chiara Manzoni mendapat pesan dari kekasihnya untuk mengelabuhi polisi-polisi tersebut dengan melibatkan seseorang di dalam kereta yang ingin berlibur agar mereka menyangka orang itu adalah Zimmer, ia pun bertemu François Taillandier (Yvan Attal) sebagai korbannya. Oleh karena itu, nyawa François pun terancam karena semua orang meyakini dia adalah Zimmer. Akan tetapi, setelah ia meminta perlindungan pada polisi setempat karena jiwanya terancam, ia tetap menjerumuskan diri pada kasus ini karena ia cintanya pada Chiara.

Akting yang mampu mengelabuhi penonton yang tidak tahu cerita ini sebelumnya. Penonton akan merasa tertipu dengan peran yang dibawakan oleh pemain-pemainnya, khususnya Yvan Attal dan Sophie Marceau. Mereka mampu menjalani perannya dengan maksimal. Memang kekuatan akting dalam film ini hanya fokus pada mereka berdua. Pemain pendukung lainnya terkesan hanya membantu melalui sosoknya saja. Akting dari pemain pendukung lain memang sebaiknya diarahkan untuk tidak lebih menonjol dari mereka berdua.

Ide yang cemerlang dari film ini mampu membuat penonton merasa tertipu ketika melihat adegan akhirnya. Akan tetapi, dengan khas film Prancis pada umumnya, penonton sendirilah yang menyimpulkan adegan akhir itu. Memang inilah yang terjadi sehingga penonton akan menjadi berpikir ketika film ini habis.

Emosi penonton tidak dimainkan sepanjang film, tetapi suasana menegangkan, teror, dan penasaran timbul sepanjang film dan memuncak pada adegan akhir. Penonton lebih diajak untuk berpikir daripada terlarut pada suasana yang diberikan. Seperti film Prancis kebanyakan, film ini berpotensi membosankan, tetapi penonton bisa menemukan ketertarikan tersendiri ketika menontonnya dan itu bukan dari sisi hiburannya.

Oleh karena hiburan yang terasa kurang dalam film ini, kekuatannya akan didapatkan dari pesan yang ingin disampaikan. Sutradara memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan cerita film ini kepada penonton. Dalam hal ini Jérôme Salle berhasil. Walaupun penasaran penonton tidak terjawab sepanjang film, adegan akhirnya menjadi kunci jawabannya. Bahkan, bila dibutuhkan, penonton perlu melihat credit title yang berjalan setelah film selesai untuk memastikan jawaban yang diperoleh.

Sinematografi dalam film ini sederhana namun pas. Film ini tidak menggunakan efek-efek khusus sepanjang film. Adegan action yang terdapat di dalamnya dapat dijumpai di film apa pun yang serupa. Pengambilan gambarnya pun tidak menambah beban pikiran penonton ketika menontonnya. Akan tetapi, ke’datar’an pengambilan gambar ini menambah potensi rasa bosan pada penonton. Tugas penonton adalah mempertahankan konsentrasi tinggi ketika menonton.

Pemain: Yvan Attal, Sophie Marceau, Sami Frey, Gilles Lellouche, Daniel Olbrychski

Sutradara : Jérôme Salle

Produser : Olivier Delbosc, Marc Missonnier, Alain Terzian

Produksi : Alter Films, Canal +

Tahun : 2005

Akting : ( 8 )

Harmonisasi film : ( 7 )

Hiburan : ( 6 )

Pesan : ( 5.5 )

Sinematografi : ( 6 )

————————————————————-

Overall: ( 6.5 )

-DJD-

 

 

January 6, 2011 at 8:25 am 2 comments

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS: PART 1

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS:

PART 1

Hidup Harry Potter semakin terancam dengan semakin kuatnya Voldemort serta para Death Eaters. Harry sudah tidak aman lagi pergi kemana-mana. Kementrian sihir pun akhirnya sudah dikuasai oleh Death Eaters. Kehidupan di dunia sihir sudah semakin suram. Harry dan teman-temannya pun sudah menjadi buronan. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Harry dan kawan-kawannya selain berusaha menghancurkan Voldemort, apalgi sejak kematian Dumbledore sehingga mereka harus mengungkap misteri relikui kematian sehingga dapat mencegah Voldemort mendapat kekuatan yang dahsyat.

Akting yang dimainkan oleh para pemain di film ini sangat stabil dari awal hingga sekarang. Terutama untuk tiga sekawan yang menjadi tokoh utama, mungkin karena diasah juga pada film-film mereka di luar film Harry Potter. Akting mereka menjadi semakin matang. Aktor lain seperti Alan Rickman dan Helena Bonham Carter sudah tidak perlu lagi diragukan lagi kualitasnya. Begitu pula Ralph Fiennes yang dapat membawakan tokoh Voldemort dengan sempurna.

David Yates berhasil menutup episode terakhir Harry Potter (bagian 1) ini dengan gemilang. Semua cerita, detail, kesinambungan dari episode sebelum-sebelumnya, semuanya sangat rapi. Sebagai sebuah film bioskop yang memiliki dua episode, Yates sangat cerdas memotong adegannya. Penonton tidak merasa rugi menonton film yang belum selesai ini. Film ini menjadi contoh yang sangat baik untuk film panjang yang harus dipotong menjadi dua episode. Segala pertimbangan yang dijalankan tidak merugikan semua pihak, terutama penonton.

Film ini amat sangat menghibur. Penonton dapat dibius untuk menonton film yang berdurasi tergolong sangat panjang. Kesan menegangkan dapat diterima baik oleh penonton. Begitu pula dengan emosi penonton yang dimainkan mulai dari kisah yang lucu maupun kisah yang sedih. Permainan efek visual pun dapat membuat penonton berdecak kagum. Tanpa membandingkan dengan imajinasi pribadi bila telah membaca bukunya, imajinasi yang ditawarkan Yates dalam merealisasikannya dalam film dapat diterima oleh penonton. Akan tetapi, bila film Harry Potter yang pertama masih dapat dinikmati oleh anak-anak, mungkin film ini agak tergolong berat untuk anak-anak.

Pesan film tersampaikan dengan sangat baik. Semua detail cerita dalam film tidak ada yang kurang. Logika yang dibuat dalam film dapat dipahami penonton sehingga imajinasinya tidak berkesan mengada-ada. Film ini seakan membuka logika imajinasi penonton agar mampu kreatif dalam berimajinasi. Semua informasi sebagai kunci dari cerita dapat diikuti penonton. Pesan moral tak luput dari film ini. Walaupun pesan-pesan yang berkaitan dengan persahabatan, keberanian, dan kerja sama sebenarnya biasa saja, tapi penyampaiannya membuat penonton menjadi merenung setelah menontonnya.

Pengambilan gambar diambil dengan sempurna, tidak membuat penonton pusing walaupun berkesan suram. Semua pesan yang disampaikan sangat didukung oleh aspek visual dan aspek audio yang sesuai kadarnya. Visual effect pun sangat dapat dinikamati dan penonton akan berdecak kagum pada kerapihan efek tersebut.

Pemain: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter, Alan Rickman, Toby Jones

Sutradara : David Yates

Produser : David Barron, David Heyman, J. K. Rowling

Produksi : Warner Bros. Pictures

Tahun : 2010


Akting : ( 9 )

Harmonisasi film : ( 10 )

Hiburan : ( 9 )

Pesan : ( 9.5 )

Sinematografi : ( 10 )

————————————————————-

Overall: ( 9.5 )

-DJD-

 

 

December 27, 2010 at 5:37 am 1 comment

MEGAMIND

MEGAMIND

Megamind (Will Ferrell) dan Metro Man (Brad Pitt) adalah dua makhluk dari planet di luar bumi yang diselamatkan dari planet tersebut dengan dibuang ke bumi. Meereka memiliki kekuatan khusus yang menjadikan mereka makhluk yang khusus di bumi sejak kecil. Metro Man memiliki fisik yang lebih bagus dari Megamind, sehingga apa pun yang dilakukan Metro Man untuk menunjukkan kekuatannya akan selalu dikagumi orang-orang. Sebaliknya, Megamind memiliki fisik yang aneh, sehingga kekuatannya selalu dianggap tidak menarik. Akhirnya, Megamind memutuskan bahwa tujuan hidupnya adalah untuk menjadi tokoh jahat yang selalu bertolak belakang dengan Megamind. Hingga pada suatu ketika, Megamind dapat mengalahkan Metro Man. Apa jadinya? Sudah tidak ada jagoan, apa artinya seorang penjahat? Kebosanan ini membuat Megamind menciptakan sendiri tokoh jagoan supaya dia dapat bersaing lagi seperti ketika ada Metro Man.

Pengisi suara dalam film ini memainkan perannya dengan baik, tetapi hanya sebatas ‘pas’ untuk mengisikan suaranya. Tidak ada ciri tertentu dari tokoh mana pun yang dilahirkan dari pengisian suaranya. Brad Pitt sangat terasa warna suaranya sehingga ketika dia mengisi suara karakternya lebih terasa diri seorang Brad Pitt yang sebenarnya. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, tapi berdampak pada karakter tokohnya yang tidak kuat untuk dikenang terlepas dari bentuk visualnya yang unik.

Ide cerita film dapat dikatakan menarik, akan tetapi ‘eksekusi’nya dalam film berkesan biasa saja. Terlebih lagi, sebelum film ini sudah ada Despicable Me yang mengambil tema yang serupa, yaitu melihat sisi baik dari tokoh jahat. Yang membedakan hanyalah dalam film ini ada tokoh pembanding, yaitu sang superhero, sedangkan dalam Despicable Me hanya persaingan antartokoh jahat. Cerita tergolong sederhana karena konflik yang ada sudah dapat ditebak oleh penontonnya.

Sebagai film animasi, fantasi yang disajikan menjadi menarik. Humor yang disuguhkan dapat mengundang tawa penonton, akan tetapi, mungkin akan sulit diterima untuk anak-anak. Bentuk visual tokoh-tokoh dalam film ini memiliki ciri tertentu, misalnya tokoh Megamind yang berbentuk seperti alien berwarna biru. Bila dilihat alurnya, emosi penonton tidak terlalu dilibatkan untuk mengikuti jalan ceritanya. Intinya, penonton hanya akan terhibur dari aspek visualnya saja.

Pesan dalam film ini dapat disampaikan dengan baik, tapi kurang bisa dikenang. Kejadian yang terdapat dalam cerita di film ini hanya seperti sebuah justifikasi dari adegan yang sudah dibayangkan oleh penonton. Dengan kata lain, pesan film ini sudah ada lebih dulu di otak penonton sebelum melihat adegan per adegan. Begitu pesan moral yang ingin disampaikan. Pesan moral yang ingin disampaikan kurang menyentuh hati penonton karena sudah dianggap klise untuk film dengan tema serupa.

Seperti biasanya, animasi DreamWorks memang menjadi tandingan Disney dan Pixar. Dengan bentuk karakter yang unik, maka akan dapat dikenang untuk wujud tokohnya dengan warna yang menarik pula. Animasi terlihat semakin nyata dengan adegan-adegan yang sudah mulai memfokuskan pada detail dari setting tempat di cerita dalam film. Untuk aspek suara tidak terlihat menonjol dalam film ini.

Pengisi Suara: Will Ferrell, Brad Pitt, Tina Fey, Jonah Hill, Ben Stiller,

Sutradara : Tom McGrath

Produser : Lara Breay, Denise Nolan Cascino

Produksi : DreamWorks Animation

Tahun : 2010

Pengisi suara: ( 6 )

Harmonisasi film: ( 5.5 )

Hiburan: ( 7.5 )

Pesan: ( 6 )

Sinematografi: ( 7 )

————————————————————-

Overall: ( 6.4 )

-DJD-

December 26, 2010 at 1:58 pm Leave a comment

Older Posts


Feed me

Find by categories

Pengunjung

education counter
Provided by the career education career portal.

@kritikpenonton

  • Update! 4 film yg sudah published: - Black Swan - The Fighter - The King's Speech (review menyusul) - Tanda Tanya... http://t.co/hQdjhDK 5 months ago
  • 5 film berikutnya akan menyusul: Catatan Harian Si Boy, Larry Crowne, The Beaver, Harry Potter 7 Part II, Kungfu Panda 2 5 months ago
  • UPDATE: 4 film published: Black Swan, The Fighter, The King's Speech (review menyusul), Tanda Tanya (review menyusul) 5 months ago
  • 9 film utk mnggu dpn, 7 film di antaranya review menyusul. Nilainya duluan yg published 5 months ago

kritikpenonton group

kritikpenonton group on facebook

kritikpenonton group on facebook

blog ranking

Movies & TV Blogs - Blog Rankings

ads

Photobucket Photobucket

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.